Kami persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim, agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah subhanahu wata’ala sebagai penciptanya, agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi.
Wahai para pemuda muslim, tidakkah kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya? Tidakkah kalian menginginkan jannah (surga) Allah subhanahu wata’ala yang luasnya seluas langit dan bumi?
Ketahuilah, jannah Allah subhanahu wata’ala itu diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal. Jannah itu disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, mereka merasa bahwa gemerlapnya kehidupan dunia ini akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada kehidupan yang sengsara di negeri akhirat selamanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)
Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?
Wahai para pemuda, ketahuilah, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan kita bukan tanpa adanya tujuan. Bukan pula memberikan kita kesempatan untuk bersenang-senang saja, tetapi untuk meraih sebuah tujuan mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)
Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.
Dalam beribadah, kita dituntut untuk ikhlas dalam menjalankannya. Yaitu dengan beribadah semata-mata hanya mengharapkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan beribadah karena terpaksa, atau karena gengsi terhadap orang-orang di sekitar kita. Apalagi beribadah dalam rangka agar dikatakan bahwa kita adalah orang-orang yang alim, kita adalah orang-orang shalih atau bentuk pujian dan sanjungan yang lain.
Umurmu Tidak Akan Lama Lagi
Wahai para pemuda, jangan sekali-kali terlintas di benak kalian: beribadah nanti saja kalau sudah tua, atau mumpung masih muda, gunakan untuk foya-foya. Ketahuilah, itu semua merupakan rayuan setan yang mengajak kita untuk menjadi teman mereka di An Nar (neraka).
Tahukah kalian, kapan kalian akan dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala, berapa lama lagi kalian akan hidup di dunia ini? Jawabannya adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Wahai para pemuda, bertaqwalah kalian kepada Allah subhanahu wata’ala. Mungkin hari ini kalian sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang tertawa, berpesta, dan hura-hura menyambut tahun baru dengan berbagai bentuk maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi keesokan harinya kalian sudah berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang menangis menyaksikan jasad-jasad kalian dimasukkan ke liang lahad (kubur) yang sempit dan menyesakkan.
Betapa celaka dan ruginya kita, apabila kita belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ, فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ, يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ.
“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan kembali dan tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Wahai para pemuda, takutlah kalian kepada adzab Allah subhanahu wata’ala. Sudah siapkah kalian dengan timbangan amal yang pasti akan kalian hadapi nanti. Sudah cukupkah amal yang kalian lakukan selama ini untuk menambah berat timbangan amal kebaikan.
Betapa sengsaranya kita, ketika ternyata bobot timbangan kebaikan kita lebih ringan daripada timbangan kejelekan. Ingatlah akan firman Allah subhanahu wata’ala:
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ نَارٌ حَامِيَةٌ
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)
Bersegeralah dalam Beramal
Wahai para pemuda, bersegeralah untuk beramal kebajikan, dirikanlah shalat dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena shalat adalah yang pertama kali akan dihisab nanti pada hari kiamat, sebagaimana sabdanya:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلاَةُ
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali manusia dihisab dengannya di hari kiamat adalah shalat.” (HR. At Tirmidzi, An Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lafazh hadits riwayat Abu Dawud no.733)
Bagi laki-laki, hendaknya dengan berjama’ah di masjid. Banyaklah berdzikir dan mengingat Allah subhanahu wata’ala. Bacalah Al Qur’an, karena sesungguhnya ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat nanti.
Banyaklah bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kalian lakukan selama ini. Mudah-mudahan dengan bertaubat, Allah subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memberi pahala yang dengannya kalian akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Wahai para pemuda, banyak-banyaklah beramal shalih, pasti Allah subhanahu wata’ala akan memberi kalian kehidupan yang bahagia, dunia dan akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An Nahl: 97)
Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?
Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat nanti. Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu haditsnya:
لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)
Sekarang cobalah mengoreksi diri kalian sendiri, sudahkah kalian mengisi masa muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah subhanahu wata’ala? Ataukah kalian isi masa muda kalian dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?
Kalau kalian masih saja mengisi waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan lupa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka jawaban apa yang bisa kalian ucapkan di hadapan Allah subhanahu wata’ala Sang Penguasa Hari Pembalasan? Tidakkah kalian takut akan ancaman Allah subhanahu wata’ala terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah subhanahu wata’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:
مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)
Bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, pergunakanlah kesempatan di masa muda kalian ini untuk kebaikan.
Ingat-ingatlah selalu bahwa setiap amal yang kalian lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah subhanahu wata’ala.
Jauhi Perbuatan Maksiat
Apa yang menyebabkan Adam dan Hawwa dikeluarkan dari Al Jannah (surga)? Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua kepada Allah subhanahu wata’ala. Mereka melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala karena mendekati sebuah pohon di Al Jannah, mereka terbujuk oleh rayuan iblis yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala.
Wahai para pemuda, senantiasa iblis, setan, dan bala tentaranya berupaya untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Setiap amalan kejelekan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun kecil pasti akan dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau lakukan itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah: 8)
Setan juga menghendaki dengan kemaksiatan ini, umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan. Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wata’ala, itu merupakan wujud solidaritas dan kekompakan di antara kalian. Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang engkau cintai menjadi musuh yang paling engkau benci. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ
“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah: 91)
Demikianlah setan menjadikan perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sebagai sarana untuk memecah belah dan menimbulkan permusuhan di antara mereka.
Ibadah yang Benar Dibangun di atas Ilmu
Wahai para pemuda, setelah kalian mengetahui bahwa tugas utama kalian hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala semata, maka sekarang ketahuilah bahwa Allah subhanahu wata’ala hanya menerima amalan ibadah yang dikerjakan dengan benar. Untuk itulah wajib atas kalian untuk belajar dan menuntut ilmu agama, mengenal Allah subhanahu wata’ala, mengenal Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengenal agama Islam ini, mengenal mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah), serta mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.
Dengan ilmu agama, kalian akan terbimbing dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga ibadah yang kalian lakukan benar-benar diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak orang yang beramal kebajikan tetapi ternyata amalannya tidak diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, karena amalannya tidak dibangun di atas ilmu agama yang benar.
Oleh karena itu, wahai para pemuda muslim, pada kesempatan ini, kami juga menasehatkan kepada kalian untuk banyak mempelajari ilmu agama, duduk di majelis-majelis ilmu, mendengarkan Al Qur’an dan hadits serta nasehat dan penjelasan para ulama. Jangan sibukkan diri kalian dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi diri kalian, terlebih lagi hal-hal yang mendatangkan murka Allah subhanahu wata’ala.
Ketahuilah, menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no.224)
Akhir Kata
Semoga nasehat yang sedikit ini bisa memberikan manfaat yang banyak kepada kita semua. Sesungguhnya nasehat itu merupakan perkara yang sangat penting dalam agama ini, bahkan saling memberikan nasehat merupakan salah satu sifat orang-orang yang dijauhkan dari kerugian, sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam surat Al ‘Ashr:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)
Wallahu ta‘ala a’lam bishshowab.
Sumber: Buletin Al-Ilmu, Penerbit Yayasan As-Salafy Jember
Nasehat Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’
Pertanyaan:
Bagaimana seorang muslim menempuh jalan keselamatan? Apa yang harus dilakukannya dalam menempuh kehidupan yang penuh dengan hal-hal yang bersifat materi ini, yang manusia sangat berlebihan dalam bergelimang padanya sehingga menyebabkan kerasnya hati-hati mereka, Wal ‘Iyadzubillah?
Apa nasehat dan arahan anda kepada saya sebagai seorang pemuda berusia 20 tahun yang cenderung kepada dunia? Apa buku-buku yang anda nasehatkan kepada kami untuk dibaca?
Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’ menjawab:
Wajib atas engkau untuk bertaqwa kepada Allah ta’ala, mentaati-Nya, dan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi engkau dan menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat, menjauhi berbagai fitnah, senantiasa berbuat baik dan menghindari segala bentuk kejelekan, memperbanyak membaca Al-Qur’an disertai dengan upaya memahami maknanya, menjaga dzikir-dzikir yang shahih dan tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disertai dengan sikap rendah diri dan menghadirkan hati (khusyu’), membaca kitab (buku-buku) yang banyak terdapat di dalamnya hikmah-hikmah dan nasehat-nasehat seperti kitab Al-Fawa’id dan kitab Ad-Da’u Wad Dawa’ yang keduanya karangan Ibnul Qayyim rahimahullah, berdo’alah kepada Allah dalam sujud engkau dengan do’a-do’a yang terdapat dalam As-Sunnah disertai dengan rendah diri dan khusyu’, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah dan melapangkan hati engkau untuk berada di atas kebaikan, dan menjaga engkau dari segala fitnah yang nampak maupun tersembunyi.
Dan di antara kitab-kitab yang bermanfaat adalah Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ighatsatul Lahfan yang keduanya karangan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan juga kitab Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid, disertai dengan perhatian kepada kitab Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dan tafsri Ibni Katsir.
وصلى الله على نبينا محمد وصحبه وسلم.
[Fatawa Islamiyyah IV/498]
Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=418
Selasa, 19 Januari 2010
Minggu, 27 Desember 2009
Jumat, 25 Desember 2009
50 Pelajaran Berharga dari Haji
Oleh: Syeikh Aqil bin Salim Asy-Syammari
Segala puji bagi Alloh… sholawat dan salam atas Nabi pilihan Alloh… waba’du:
Berikut ini adalah, 50 pelajaran berharga dari Rukun Islam Kelima untuk kehidupan manusia. Semoga Alloh memberikan taufig, bantuan, dan menunjuki kebenaran pada kami dalam menyelesaikan tulisan ini.
1. Pendidikan untuk mentauhidkan Alloh, baik dalam ucapan maupun amalan, hal ini terlihat jelas dalam beberapa amalan berikut ini:
a. Bacaan talbiyah, yang disebut juga dengan kalimat tauhid: Labbaikallohumma labbaik…
b. Dimasukkannya dalam talbiyah kata: la syarika lak (tiada sekutu bagi-Mu).
c. Kata la syarika lak yang diulangi dua kali dalam bacaan talbiyah, ini menunjukkan adanya penekanan dalam hal tauhid.
d. Kata-kata: “Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk”, maksudnya adalah: “Sesungguhnya semua pujian, segala nikmat, dan seluruh kekuasaan hanya bagi-Mu ya Alloh”, dan ini juga mengandung nilai tauhid.
e. Larangan thowaf di selain Ka’bah, itu artinya kita dilarang untuk thowaf di arofah, di jamarot, di pemakaman, tempat keramat, tempat bersejarah, dll. Ini semua bukti keyakinan kita, bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh, dan itulah diantara bentuk nyata mentauhidkan Alloh.
2. Pendidikan untuk banyak memuji Alloh. Hal ini tampak pada kata hamdalah yang ada dalam talbiyah. Meski saat datang ke tanah suci, jamaah haji sedang dalam keadaan tertimpa musibah, didera cobaan, sakit, miskin, dan terasingkan… mereka semua tetap memuji Alloh, seakan-akan mereka dalam keadaan lapang, sehat, dan kuat… Sungguh tak diragukan lagi, memuji Alloh dianjurkan bagi setiap muslim, baik di saat suka, maupun duka.
3. Pendidikan untuk selalu membasahi lisan dengan dzikir, ini tampak pada:
a. Disunnahkannya membaca talbiyah hingga sampai di masjidil harom, atau sampai melihat ka’bah, atau sampai memulai thowaf. Meski para ulama berbeda pendapat tentang kapan harus mengakhiri talbiyah, tapi semua pendapat itu mengisyaratkan anjuran untuk memperbanyak talbiyah.
b. Saat thowaf, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa, atau dzikir, atau pujian pada Alloh, dan semuanya merupakan bentuk dzikir.
c. Dalam sai juga demikian.
d. Doa di Hari Arofah yang berupa dzikir: “la ilaaha illallohu wahdahu….
e. Hari-hari di mina adalah hari untuk makan, minum, dan berdzikir.
f. Disyariatkannya melempar jumroh adalah untuk berdzikir mengingat-Nya.
g. Disunnahkan untuk membaca takbir dalam setiap lemparan kerikilnya.
Dan masih banyak lagi tempat dan kesempatan lain untuk memperbanyak dzikir dalam ibadah haji ini. Itu semua mengajarkan pada seorang muslim agar lisannya selalu basah dengan bacaan dzikir.
4. Mengajarkan kita untuk mengingat mati, yaitu dari pengenaan kain kafan dalam pelaksanaannya. Dengan ini, seorang mukmin akan teringat dan merasakan bagaimana akhir hidupnya, sehingga hal itu akan mempengaruhi hati dan amalannya.
5. Mengajarkan manusia untuk zuhud pada dunia dan kenikmatannya. Baik dia seorang yang kaya, presiden, atau menteri, ia tidak akan mengenakan kecuali baju putih itu. Seandainya ia ingin mengenakan baju lain yang dimilikinya, tetap saja tidak diperbolehkan baginya.
6- Mendidik manusia untuk qona’ah, sekaligus memberi pelajaran bahwa kekayaan yang hakiki adalah pada sifat qonaah itu. Oleh karena itu, para jama’ah haji dilatih untuk cukup hanya dengan mengenakan pakaian yang menutupi auratnya, cukup dengan tidur sekedar bisa menghilangkan lelah dan malas, dan cukup dengan makan sekedar bisa menopang tubuhnya.
7. Mengajarkan pada manusia, bahwa kekayaan duniawi tidaklah memiliki kedudukan di sisi Alloh bila dilihat dari dzatnya. Oleh karena itu para jamaah haji sama-sama dalam pakaian dan amalannya. Adapun kekayaan, kefakiran, kedudukan, dan tempat tinggal mereka, sungguh hal itu tidak punya pengaruh apa-apa. Yang mempengaruhi mereka hanyalah keikhlasan dan mengikuti sunnah dalam beramal. Sungguh demi Alloh, betapa banyak para masakin di tempat itu yang lebih mulia, dari mereka yang kaya dan memiliki kedudukan yang tinggi!!.
8. Mengajarkan pada manusia dasar Persatuan Islam, hal ini tampak dari seragamnya perbuatan, amalan, tempat, dan waktu mereka.
9. Mengajarkan pada manusia untuk sabar dalam menghadapi kemaksiatan, hal itu tampak pada hal-hal berikut ini:
a. Sabar untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang ketika dalam keadaan ihrom.
b. Sabar untuk tidak melakukan kefasikan, sebagaimana firman-Nya: “Barangsiapa berkewajiban menunaikan ibadah haji dalam bulan-bulan haji, maka janganlah ia berbuat fasik dan keji”. Sehingga ketika ia pulang ke negerinya, ia telah terdidik dan terbiasa sabar dari segala kemaksiatan, sebagaimana ia sabar menghadapinya pada hari-hari itu.
10. Mengajarkan pada muslim untuk sabar dalam ketaatan. Dan barangsiapa mau merenungi masalah-masalah tentang haji, tentu ia akan menemukan makna ini. Hal itu terlihat diantaranya:
Ketika jama’ah haji ingin bersegera kembali ke negerinya, ia tidak diperkenankan sebelum tanggal 12 dzulhijjah.
Pulangnya juga harus setelah melempar dan thowaf wada’, meski ia berasal dari negeri yang jauh, tetap saja ia harus menjalani semua amalan ketaatan ini, baru setelah itu diperkenankan untuk pulang.
11. Mengajarkan pada manusia, agar menyiapkan diri sebelum melakukan ketaatan, oleh karena itu disunnahkan bagi yang ingin memulai ihrom, agar mandi, membersihkan diri, memotong kuku, membersihkan rambut kemaluan dan ketiaknya, dan memarfumi badannya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Begitu pula ketika sudah tahallul awal dan akan melakukan thowaf ifadloh, disunnahkan baginya memakai parfum, sebagaimana dicontohkan oleh beliau. Tak diragukan lagi, tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap jiwa ketika menjalani ibadahnya, sekaligus menambah kekhusyu’annya.
12. Mengajarkan pada manusia untuk ikhlas dan tulus hati, yang keduanya adalah puncak amalan hati, dengan keduanya sebuah amal akan diterima dan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.
13. Mengajarkan pada manusia untuk tawakkal dan menyerahkan urusannya hanya pada Alloh semata, terutama dalam menunaikan dan memudahkan ibadahnya. Lihatlah bagaimana seorang muslim yang datang dengan meninggalkan keluarga, anak, dan hartanya, tentunya ia akan menyerahkan urusan harta dan sanak keluarganya pada Tuhannya, ia juga tentunya banyak meminta permohonan pada-Nya dalam menjalani beratnya perjalanan, terutama mereka yang datang dari negeri jauh.
14. mengajarkan manusia untuk bertawakkal yang benar, tentunya tawakkal yang tidak mengesampingkan usaha lahiriyah yang diperintahkan untuk mencari rizki, oleh karenanya Alloh berfirman: “Tidak ada masalah jika kalian ingin mengharapkan kemurahan (rizki) dari Tuhan kalian”. Ayat ini turun pada mereka yang menyangka bahwa makna tawakkal adalah dengan meninggalkan berdagang dalam haji.
15. Mengajarkan pada manusia untuk mewujudkan semua amalan-amalan hati. Sungguh tiada ibadah yang tampak padanya semua atau sebagian besar amalan hati seperti dalam haji ini. Terkumpul dalam ibadah haji ini amalan ikhlas, ketulusan hati, roja’, tawakkal, zuhud, waro’, muhasabah, keyakinan… dll”
16. Mendidik manusia untuk menundukkan hati dari apa yang diingininya, selama hal itu dilarang oleh syariat. Parfum, tutup kepala, dan semua larangan ihrom haruslah ditinggalkan oleh jama’ah haji padahal hatinya menginginkannya. Ia meninggalkannya bukan karena apa-apa, tapi karena syariat melarangnya.
17. mengajarkan manusia untuk taat dengan aturan dan batasan syariat. Hal ini nampak dalam aturan miqot dan batasannya, aturan waktu melempar, aturan waktu meninggalkan arofah, dll.
18. Mengajarkan pada manusia untuk membuka pintu qiyas yang shohih. Pelajaran berharga ini, bisa kita ambil dari ucapan Umar r.a. pada penduduk negeri Irak ketika mereka mengatakan: “Sungguh dua miqot itu, tidak pas dengan jalan kami”, maka Umar r.a. mengatakan: “Ambillah tempat yang sejajar dengannya di jalan kalian” (muttafaqun alaih).
Dengan ini, seorang muslim tahu bahwa aturan syariat bukanlah aturan yang kaku, dan tak bisa dirubah sama sekali. Tapi terbuka juga dalam aturan syariat ini pintu qiyas, tentunya hal ini hanya dikhususkan bagi mereka yang memiliki syarat dan ketentuan dalam ber-ijtihad.
19. Mengajarkan pada manusia tentang rukun kedua diterimanya suatu amalan, yakni mengikuti tuntunan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Oleh karena itu, beliau menyabdakan: “Ambillah cara manasik kalian dariku!” (muttafaqun alaih). Beliau juga mengatakan dalam kesempatan lain: “Melemparlah dengan kerikil yang seperti ini!”. Begitu juga perkataan Umar r.a. pada hajar aswad: “Aku tahu, kau ini hanyalah sebuah batu, yang takkan mampu memberi manfaat atau mendatangkan bahaya, andai saja aku tidak melihat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menciummu, tentunya aku takkan menciummu” (muttafaqun alaih).
Dengan itu semua, seorang muslim akan lulus dari madrasah hajinya, dalam keadaan telah terbiasa mengikuti tuntunan Nabinya -shollallohu alaihi wasallam-, baik dalam hal yang besar, maupun yang paling kecil sekalipun.
20. Memberikan pelajaran akan mudahnya ajaran syariat, sehingga keyakinan ini bisa tertanam dalam hatinya dan terasa ringan ketika menerapkannya. Hal ini, bisa terlihat dalam amalan-amalan berikut ini:
a. Letak miqot yang menyebar dan terpisah-pisah, hingga memudahkan para jama’ah haji dalam memulai ihromnya.
b. Cara manasik haji yang bermacam-macam.
c. Adanya hukum khusus bagi para jama’ah yang lemah dan lanjut usia.
21. Mendidik manusia, agar memperhatikan adanya perbedaan diantara mereka. Sungguh tidaklah mereka berada pada derajat yang sama. Hal ini tampak pada adanya cara manasik haji yang bermacam-macam. Diantara mereka ada yang tidak mampu menunaikan hajinya, kecuali dengan cara ifrod. Diantara mereka ada yang hanya mampu melakukannya dengan qiron dan hal itu menjadi lebih mudah dan lebih utama baginya. Dan diantara mereka ada yang bisa menunaikan manasik dengan cara yang paling utama, yakni tamattu’.
Sungguh ini menunjukkan tingginya perhatian syariat pada keadaan, kemampuan, masalah, dan perbedaan mereka. Sekaligus merupakan bantahan bagi orang yang menuntut bersatunya umat dalam segala hal, baik dalam amalan maupun dalam hal kepentingannya.
22. Mengajari manusia bagaimana fikhul khilaf dalam kehidupan nyata, hal itu tampak pada hal-hal berikut ini:
a. Perbedaan para jama’ah dalam dalam memilih cara manasiknya.
b. Perbedaan para jama’ah dalam menjalani amalan yang dilakukan pada hari ke-10 bulan Dzulhijjah.
c. Perbedaan para jama’ah dalam hal dzikir yang dibaca ketika meninggalkan Mina menuju Arofah. Sebagaimana disebutkan, para sahabat dulu ada yang bertalbiyah, ada juga yang bertakbir.
d. Perbedaan waktu bolehnya beranjak dari Muzdalifah ke Mina, melihat keadaan masing-masing, bagi yang lemah ada waktu tersendiri, dan bagi yang kuat ada waktu tersendiri.
e. Perbedaan para jama’ah dalam memilih nafar awal atau nafar tsani untuk ibadah hajinya.
f. Perbedaan para jama’ah dalam memilih menggundul atau memendekkan rambutnya ketika hendak bertahallul.
Semua contoh di atas, mengajari para jama’ah bagaimana menyikapi perbedaan dan individunya. Sungguh, tidak ada nukilan tentang timbulnya cekcok atau tuduhan antara satu sahabat dengan sahabat lainnya, karena sebab memilih cara manasik tertentu, meski pilihan mereka adalah cara manasik yang kurang utama.
23. Mengajari manusia, bahwa tidak semua yang diterangkan oleh syari’at itu mungkin dicerna oleh akal, tujuannya adalah agar syariat tetap menjadi pemegang kendali hukum di atas akal, bukan di bawahnya.
Lihatlah sebagai contoh sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: “Perbanyaklah haji dan umroh, karena keduanya bisa menghilangkan kefakiran sebagaimana mampunya tengku pembakar menghilangkan karatnya besi. (Diriwayatkan oleh para pengarang kitab sunan, dan dishohihkan oleh Albani)…
Padahal jika di nalar dengan akal, memperbanyak haji dan umroh itu, akan mengundang banyak kebutuhan dan tentunya akan banyak menghabiskan uang, tapi syariat malah mengatakan seperti itu. Sungguh akal tidak akan bisa menerangkan secara rasional, bahwa orang yang memperbanyak haji dan umroh akan menghilangkan kefakiran, Alloh lah yang tahu akan hakikat di balik itu semua.
Dengan ini, seorang muslim akan terdidik untuk selalu menghubungkan dirinya dengan Alloh dan ilmu-Nya, sekaligus melatihnya untuk berjiwa besar dan mau mengakui kelemahan dan kekurangannya.
24. Mengajari manusia, bahwa yang paling afdlol, adalah yang sesuai dg syariat, bukan yang lebih berat dan susah, misalnya: Memulai ihrom dari miqot, lebih utama dari pada memulainya dari tempat sebelumnya, meski itu lebih berat dan susah. Sehingga dengan ini, seorang muslim terdidik untuk memuliakan syariat dan memperhatikannya.
25. Melatih manusia, untuk terbiasa tertib dan taat aturan. Budaya tersebut bukanlah keistimewaan negeri kafir, sebaliknya itu merupakah nilai Islam yang telah kita abaikan. Nilai ini tampak dari hal-hal berikut:
a. Harusnya tertib dalam menjalani amalan-amalan Umroh.
b. Sunnahnya tertib dalam menjalankan amalan-amalan pada hari ke-10 bulan dzulhijjah.
c. Harusnya tertib ketika melempar jamarot.
Tapi yang sungguh mengherankan, di zaman kita ini, justru ketertiban itu malah dijadikan cemoohan!… (bersambung)
Sumber :addariny.wordpress.com
Segala puji bagi Alloh… sholawat dan salam atas Nabi pilihan Alloh… waba’du:
Berikut ini adalah, 50 pelajaran berharga dari Rukun Islam Kelima untuk kehidupan manusia. Semoga Alloh memberikan taufig, bantuan, dan menunjuki kebenaran pada kami dalam menyelesaikan tulisan ini.
1. Pendidikan untuk mentauhidkan Alloh, baik dalam ucapan maupun amalan, hal ini terlihat jelas dalam beberapa amalan berikut ini:
a. Bacaan talbiyah, yang disebut juga dengan kalimat tauhid: Labbaikallohumma labbaik…
b. Dimasukkannya dalam talbiyah kata: la syarika lak (tiada sekutu bagi-Mu).
c. Kata la syarika lak yang diulangi dua kali dalam bacaan talbiyah, ini menunjukkan adanya penekanan dalam hal tauhid.
d. Kata-kata: “Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk”, maksudnya adalah: “Sesungguhnya semua pujian, segala nikmat, dan seluruh kekuasaan hanya bagi-Mu ya Alloh”, dan ini juga mengandung nilai tauhid.
e. Larangan thowaf di selain Ka’bah, itu artinya kita dilarang untuk thowaf di arofah, di jamarot, di pemakaman, tempat keramat, tempat bersejarah, dll. Ini semua bukti keyakinan kita, bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh, dan itulah diantara bentuk nyata mentauhidkan Alloh.
2. Pendidikan untuk banyak memuji Alloh. Hal ini tampak pada kata hamdalah yang ada dalam talbiyah. Meski saat datang ke tanah suci, jamaah haji sedang dalam keadaan tertimpa musibah, didera cobaan, sakit, miskin, dan terasingkan… mereka semua tetap memuji Alloh, seakan-akan mereka dalam keadaan lapang, sehat, dan kuat… Sungguh tak diragukan lagi, memuji Alloh dianjurkan bagi setiap muslim, baik di saat suka, maupun duka.
3. Pendidikan untuk selalu membasahi lisan dengan dzikir, ini tampak pada:
a. Disunnahkannya membaca talbiyah hingga sampai di masjidil harom, atau sampai melihat ka’bah, atau sampai memulai thowaf. Meski para ulama berbeda pendapat tentang kapan harus mengakhiri talbiyah, tapi semua pendapat itu mengisyaratkan anjuran untuk memperbanyak talbiyah.
b. Saat thowaf, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa, atau dzikir, atau pujian pada Alloh, dan semuanya merupakan bentuk dzikir.
c. Dalam sai juga demikian.
d. Doa di Hari Arofah yang berupa dzikir: “la ilaaha illallohu wahdahu….
e. Hari-hari di mina adalah hari untuk makan, minum, dan berdzikir.
f. Disyariatkannya melempar jumroh adalah untuk berdzikir mengingat-Nya.
g. Disunnahkan untuk membaca takbir dalam setiap lemparan kerikilnya.
Dan masih banyak lagi tempat dan kesempatan lain untuk memperbanyak dzikir dalam ibadah haji ini. Itu semua mengajarkan pada seorang muslim agar lisannya selalu basah dengan bacaan dzikir.
4. Mengajarkan kita untuk mengingat mati, yaitu dari pengenaan kain kafan dalam pelaksanaannya. Dengan ini, seorang mukmin akan teringat dan merasakan bagaimana akhir hidupnya, sehingga hal itu akan mempengaruhi hati dan amalannya.
5. Mengajarkan manusia untuk zuhud pada dunia dan kenikmatannya. Baik dia seorang yang kaya, presiden, atau menteri, ia tidak akan mengenakan kecuali baju putih itu. Seandainya ia ingin mengenakan baju lain yang dimilikinya, tetap saja tidak diperbolehkan baginya.
6- Mendidik manusia untuk qona’ah, sekaligus memberi pelajaran bahwa kekayaan yang hakiki adalah pada sifat qonaah itu. Oleh karena itu, para jama’ah haji dilatih untuk cukup hanya dengan mengenakan pakaian yang menutupi auratnya, cukup dengan tidur sekedar bisa menghilangkan lelah dan malas, dan cukup dengan makan sekedar bisa menopang tubuhnya.
7. Mengajarkan pada manusia, bahwa kekayaan duniawi tidaklah memiliki kedudukan di sisi Alloh bila dilihat dari dzatnya. Oleh karena itu para jamaah haji sama-sama dalam pakaian dan amalannya. Adapun kekayaan, kefakiran, kedudukan, dan tempat tinggal mereka, sungguh hal itu tidak punya pengaruh apa-apa. Yang mempengaruhi mereka hanyalah keikhlasan dan mengikuti sunnah dalam beramal. Sungguh demi Alloh, betapa banyak para masakin di tempat itu yang lebih mulia, dari mereka yang kaya dan memiliki kedudukan yang tinggi!!.
8. Mengajarkan pada manusia dasar Persatuan Islam, hal ini tampak dari seragamnya perbuatan, amalan, tempat, dan waktu mereka.
9. Mengajarkan pada manusia untuk sabar dalam menghadapi kemaksiatan, hal itu tampak pada hal-hal berikut ini:
a. Sabar untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang ketika dalam keadaan ihrom.
b. Sabar untuk tidak melakukan kefasikan, sebagaimana firman-Nya: “Barangsiapa berkewajiban menunaikan ibadah haji dalam bulan-bulan haji, maka janganlah ia berbuat fasik dan keji”. Sehingga ketika ia pulang ke negerinya, ia telah terdidik dan terbiasa sabar dari segala kemaksiatan, sebagaimana ia sabar menghadapinya pada hari-hari itu.
10. Mengajarkan pada muslim untuk sabar dalam ketaatan. Dan barangsiapa mau merenungi masalah-masalah tentang haji, tentu ia akan menemukan makna ini. Hal itu terlihat diantaranya:
Ketika jama’ah haji ingin bersegera kembali ke negerinya, ia tidak diperkenankan sebelum tanggal 12 dzulhijjah.
Pulangnya juga harus setelah melempar dan thowaf wada’, meski ia berasal dari negeri yang jauh, tetap saja ia harus menjalani semua amalan ketaatan ini, baru setelah itu diperkenankan untuk pulang.
11. Mengajarkan pada manusia, agar menyiapkan diri sebelum melakukan ketaatan, oleh karena itu disunnahkan bagi yang ingin memulai ihrom, agar mandi, membersihkan diri, memotong kuku, membersihkan rambut kemaluan dan ketiaknya, dan memarfumi badannya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Begitu pula ketika sudah tahallul awal dan akan melakukan thowaf ifadloh, disunnahkan baginya memakai parfum, sebagaimana dicontohkan oleh beliau. Tak diragukan lagi, tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap jiwa ketika menjalani ibadahnya, sekaligus menambah kekhusyu’annya.
12. Mengajarkan pada manusia untuk ikhlas dan tulus hati, yang keduanya adalah puncak amalan hati, dengan keduanya sebuah amal akan diterima dan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.
13. Mengajarkan pada manusia untuk tawakkal dan menyerahkan urusannya hanya pada Alloh semata, terutama dalam menunaikan dan memudahkan ibadahnya. Lihatlah bagaimana seorang muslim yang datang dengan meninggalkan keluarga, anak, dan hartanya, tentunya ia akan menyerahkan urusan harta dan sanak keluarganya pada Tuhannya, ia juga tentunya banyak meminta permohonan pada-Nya dalam menjalani beratnya perjalanan, terutama mereka yang datang dari negeri jauh.
14. mengajarkan manusia untuk bertawakkal yang benar, tentunya tawakkal yang tidak mengesampingkan usaha lahiriyah yang diperintahkan untuk mencari rizki, oleh karenanya Alloh berfirman: “Tidak ada masalah jika kalian ingin mengharapkan kemurahan (rizki) dari Tuhan kalian”. Ayat ini turun pada mereka yang menyangka bahwa makna tawakkal adalah dengan meninggalkan berdagang dalam haji.
15. Mengajarkan pada manusia untuk mewujudkan semua amalan-amalan hati. Sungguh tiada ibadah yang tampak padanya semua atau sebagian besar amalan hati seperti dalam haji ini. Terkumpul dalam ibadah haji ini amalan ikhlas, ketulusan hati, roja’, tawakkal, zuhud, waro’, muhasabah, keyakinan… dll”
16. Mendidik manusia untuk menundukkan hati dari apa yang diingininya, selama hal itu dilarang oleh syariat. Parfum, tutup kepala, dan semua larangan ihrom haruslah ditinggalkan oleh jama’ah haji padahal hatinya menginginkannya. Ia meninggalkannya bukan karena apa-apa, tapi karena syariat melarangnya.
17. mengajarkan manusia untuk taat dengan aturan dan batasan syariat. Hal ini nampak dalam aturan miqot dan batasannya, aturan waktu melempar, aturan waktu meninggalkan arofah, dll.
18. Mengajarkan pada manusia untuk membuka pintu qiyas yang shohih. Pelajaran berharga ini, bisa kita ambil dari ucapan Umar r.a. pada penduduk negeri Irak ketika mereka mengatakan: “Sungguh dua miqot itu, tidak pas dengan jalan kami”, maka Umar r.a. mengatakan: “Ambillah tempat yang sejajar dengannya di jalan kalian” (muttafaqun alaih).
Dengan ini, seorang muslim tahu bahwa aturan syariat bukanlah aturan yang kaku, dan tak bisa dirubah sama sekali. Tapi terbuka juga dalam aturan syariat ini pintu qiyas, tentunya hal ini hanya dikhususkan bagi mereka yang memiliki syarat dan ketentuan dalam ber-ijtihad.
19. Mengajarkan pada manusia tentang rukun kedua diterimanya suatu amalan, yakni mengikuti tuntunan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Oleh karena itu, beliau menyabdakan: “Ambillah cara manasik kalian dariku!” (muttafaqun alaih). Beliau juga mengatakan dalam kesempatan lain: “Melemparlah dengan kerikil yang seperti ini!”. Begitu juga perkataan Umar r.a. pada hajar aswad: “Aku tahu, kau ini hanyalah sebuah batu, yang takkan mampu memberi manfaat atau mendatangkan bahaya, andai saja aku tidak melihat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menciummu, tentunya aku takkan menciummu” (muttafaqun alaih).
Dengan itu semua, seorang muslim akan lulus dari madrasah hajinya, dalam keadaan telah terbiasa mengikuti tuntunan Nabinya -shollallohu alaihi wasallam-, baik dalam hal yang besar, maupun yang paling kecil sekalipun.
20. Memberikan pelajaran akan mudahnya ajaran syariat, sehingga keyakinan ini bisa tertanam dalam hatinya dan terasa ringan ketika menerapkannya. Hal ini, bisa terlihat dalam amalan-amalan berikut ini:
a. Letak miqot yang menyebar dan terpisah-pisah, hingga memudahkan para jama’ah haji dalam memulai ihromnya.
b. Cara manasik haji yang bermacam-macam.
c. Adanya hukum khusus bagi para jama’ah yang lemah dan lanjut usia.
21. Mendidik manusia, agar memperhatikan adanya perbedaan diantara mereka. Sungguh tidaklah mereka berada pada derajat yang sama. Hal ini tampak pada adanya cara manasik haji yang bermacam-macam. Diantara mereka ada yang tidak mampu menunaikan hajinya, kecuali dengan cara ifrod. Diantara mereka ada yang hanya mampu melakukannya dengan qiron dan hal itu menjadi lebih mudah dan lebih utama baginya. Dan diantara mereka ada yang bisa menunaikan manasik dengan cara yang paling utama, yakni tamattu’.
Sungguh ini menunjukkan tingginya perhatian syariat pada keadaan, kemampuan, masalah, dan perbedaan mereka. Sekaligus merupakan bantahan bagi orang yang menuntut bersatunya umat dalam segala hal, baik dalam amalan maupun dalam hal kepentingannya.
22. Mengajari manusia bagaimana fikhul khilaf dalam kehidupan nyata, hal itu tampak pada hal-hal berikut ini:
a. Perbedaan para jama’ah dalam dalam memilih cara manasiknya.
b. Perbedaan para jama’ah dalam menjalani amalan yang dilakukan pada hari ke-10 bulan Dzulhijjah.
c. Perbedaan para jama’ah dalam hal dzikir yang dibaca ketika meninggalkan Mina menuju Arofah. Sebagaimana disebutkan, para sahabat dulu ada yang bertalbiyah, ada juga yang bertakbir.
d. Perbedaan waktu bolehnya beranjak dari Muzdalifah ke Mina, melihat keadaan masing-masing, bagi yang lemah ada waktu tersendiri, dan bagi yang kuat ada waktu tersendiri.
e. Perbedaan para jama’ah dalam memilih nafar awal atau nafar tsani untuk ibadah hajinya.
f. Perbedaan para jama’ah dalam memilih menggundul atau memendekkan rambutnya ketika hendak bertahallul.
Semua contoh di atas, mengajari para jama’ah bagaimana menyikapi perbedaan dan individunya. Sungguh, tidak ada nukilan tentang timbulnya cekcok atau tuduhan antara satu sahabat dengan sahabat lainnya, karena sebab memilih cara manasik tertentu, meski pilihan mereka adalah cara manasik yang kurang utama.
23. Mengajari manusia, bahwa tidak semua yang diterangkan oleh syari’at itu mungkin dicerna oleh akal, tujuannya adalah agar syariat tetap menjadi pemegang kendali hukum di atas akal, bukan di bawahnya.
Lihatlah sebagai contoh sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: “Perbanyaklah haji dan umroh, karena keduanya bisa menghilangkan kefakiran sebagaimana mampunya tengku pembakar menghilangkan karatnya besi. (Diriwayatkan oleh para pengarang kitab sunan, dan dishohihkan oleh Albani)…
Padahal jika di nalar dengan akal, memperbanyak haji dan umroh itu, akan mengundang banyak kebutuhan dan tentunya akan banyak menghabiskan uang, tapi syariat malah mengatakan seperti itu. Sungguh akal tidak akan bisa menerangkan secara rasional, bahwa orang yang memperbanyak haji dan umroh akan menghilangkan kefakiran, Alloh lah yang tahu akan hakikat di balik itu semua.
Dengan ini, seorang muslim akan terdidik untuk selalu menghubungkan dirinya dengan Alloh dan ilmu-Nya, sekaligus melatihnya untuk berjiwa besar dan mau mengakui kelemahan dan kekurangannya.
24. Mengajari manusia, bahwa yang paling afdlol, adalah yang sesuai dg syariat, bukan yang lebih berat dan susah, misalnya: Memulai ihrom dari miqot, lebih utama dari pada memulainya dari tempat sebelumnya, meski itu lebih berat dan susah. Sehingga dengan ini, seorang muslim terdidik untuk memuliakan syariat dan memperhatikannya.
25. Melatih manusia, untuk terbiasa tertib dan taat aturan. Budaya tersebut bukanlah keistimewaan negeri kafir, sebaliknya itu merupakah nilai Islam yang telah kita abaikan. Nilai ini tampak dari hal-hal berikut:
a. Harusnya tertib dalam menjalani amalan-amalan Umroh.
b. Sunnahnya tertib dalam menjalankan amalan-amalan pada hari ke-10 bulan dzulhijjah.
c. Harusnya tertib ketika melempar jamarot.
Tapi yang sungguh mengherankan, di zaman kita ini, justru ketertiban itu malah dijadikan cemoohan!… (bersambung)
Sumber :addariny.wordpress.com
Langganan:
Postingan (Atom)