Selasa, 01 Januari 2013
Tipe Suami yang Harus Dihindari
Tipe Suami Yang Harus Dihindari
1. Hindari Laki – Laki Fasik
Asy-Sya’bi berkata : “Barangsiapa yang menikahkan anak perempuan nya dengan seorang laki – laki fasik, maka ia telah memutuskan hubungan kekerabatan dengan anak nya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Adh-Dhu’afa dan Ats-Tsiqat dengan derajat Hasan]
Dengan demikian, barangsiapa yang menikahkan anak perempuan nya dengan seorang laki – laki yang fasik, maka ia telah merusak tali silaturrahim dan memancing turun nya murka Allah Subhanahu wa ta’ala.
2. Hindari Laki – Laki yang Mandul
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam : “Menikahlah dengan perempuan yang penuh cinta kasih dan banyak melahirkan anak, sebab aku bangga banyaknya jumlah kalian kepada seluruh umat pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i]
Maka dari itu seorang perempuan hendaknya tidak menikah dengan laki – laki yang mandul. Begitu juga sebaliknya.
3. Hindari Laki – Laki yang Gemar Memukul Perempuan
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam melarang Fathimah binti Qais menikah dengan Abu Jahm karena Abu Jahm suka memukul kaum wanita. Maka dari itu hindarilah laki – laki yang kasar dan suka memukul.
4. Hindari Laki – Laki yang Memiliki Cacat Menjijikan, Penyakit Kronis atau Menular
Diantara cacat yang disebutkan para ulama dan menjadi kekhususan lagi – laki adalah orang yang dikebiri, impoten, al-khashiy dan as-Sall. Kebiri maksud nya orang yang dipotong dzakarnya.Impoten maksud nya orang yang tidak mampu melakukan hubungan badan walaupun hanya sekali.Al-Khashiy maksud nya orang yang terpotong buah dzakarnya.As-Sall maksud nya orang yang telah lumpuh buah dzakarnya.
5. Hindari Laki – Laki yang Buruk Perawakan nya
Setiap manusia menyukai keindahan dan membenci keburukan. Wajah yang jelek dan penamilan yang buruk bisa memicu perasaan benci.
Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya : “Bahwasanya pada suatu hari isteri Tsabit bin Qais bin Syammas (yakni Habibah binti Sahl) melihat suaminya datang bersama serombongan laki – laki, ternyata suaminya adalah orang yang paling pendek dan paling buruk penampilan nya diantara mereka. Maka dia menghadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan berkata : “Ya Rasulullah, aku tidak mencela dia karena akhlak dan agama, akan tetapi aku tidak menyukai kekufuran didalam Islam.”
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Apakah kamu bisa mengembalikan kebun yang telah diberikan nya kepada mu (sebagai penganti maharmu)?” Ia menjawab : “Ya” Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepada Tsabit : “Ambil kembali kebun itu, dan talak dia sebanyak satu kali talak.” Inilah yang disebut dengan khulu’.
Tidaklah baik melanjutkan hubungan pernikahan yang disertai dengan sikap penolakan dan kebencian seperti itu, karena apabila si isteri tidak menyukai suaminya, maka itu akan membawa nya kepada sikap lalai dalam memenuhi hak suami sehingga dia bisa jatuh kedalam kedurhakaan kepada suaminya. Akan tetapi, terkadang seorang laki – laki yang buruk penampilan nya lebih utama dari laki – laki lain nya. Maka dari itu hendaklah perempuan itu bersabar jika ia sanggup melakukan nya sebab sering kita dapati kebaikan yang banyak dalam sikap sabar menghadapi suatu yang dibenci.
Al-Utba pernah melihat seorang laki – laki yang buruk dan seorang wanita yang sangat cantik, bersenda gurau. Utbah bertanya : “Apa hubungan mu dengan laki – laki ini? Wanita itu menjawab : “Dia Suami Ku” Utbah bertanya lagi : “Bagaimana kamu bisa bersabar menghadapi keburukan fisik nya, padahal kamu begitu menawan?” Wanita itu menjawab : “Wahai fulan, barangkali dia mendapat rezeki berupa isteri seperti diri ku, lalu dia bersyukur. Dan aku mendapatkan rezeki berupa suami seperti dirinya lalu aku bersabar, sedangkan orang yang penyabar dan ahli bersyukur termsuk penduduk surga. Tidak bolehkah aku ridha dengan pembagian Allah untuk diriku?” Jawaban itu membungkam Utbah dan diapun meninggalkan mereka. [Tuhfatul ‘Arus hal 147]
6. Hindari laki – laki kebanci – bancian yang menyerupai perempuan
7. Hindari laki – laki yang hanya menyukai wajah dan kecantikan wanita. Sebab kalau dia melihat wanita lain, dia akan menceraikan wanita itu dan menikah lagi dengan yang lebih cantik
8. Hindari laki – laki peminum khamar, pencandu narkoba, atau pecandu rokok dan laki – laki yang menjual nya
9. Hindari laki – laki pemakan riba
10. Hindari laki – laki yang gemar menerima uang suap
11. Hindari laki – laki yang suka meninggalkan shalat
12. Hindari laki – laki yang kikir dan tamak
13. Hindari laki – laki ad-Dayyuts yakni orang yang menyetujui adanya kemaksiatan dirumahnya, seperti membawa masuk alat – alat music dan seterusnya
14. Hindari laki – laki yang suka thawaf mengelilingi kuburan, bertawassul dengan orang yang telah mati, dan gemar untuk ikut perayan – perayan yang tidak ada dasarnya didalam agama
15. Hindari laki – laki karyawan hotel yang menyajikan daging babi dan arak.
16. Hindari laki – laki paranormal, tukang sihir adan para peramal.
[Diringkas dari Tipe Suami Isteri Penentram Hati, hal 57 – 65. Syaikh Nada Abu Ahmad. Cet Pustaka Kiswa Media. Judul asli nya Man Takhtarin dan Man Takhtar]
Jambi, Jumat - 7 Jumada Ula 1433 H / 30 Maret 2012
Oleh: Abu Abdillah Prima Ibnu Firdaus Ibnu Roni Ibnu Ali Ibnu Tingkis ar-Roni al-Mirluny
Kriteria Suami Idaman
Wanita juga berhak menentukan Pilihan....!
Berikut cara menentukan pilihan suami bagi wanita yg ingin menikah.
Panduan Para Wanita Dalam Menentukan Pilihan.
Bismillah, Alhamdulillah. semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, sahabat beliau dan orang yang mengikuti beliau dengan baik.
Amma ba'du :
Ini ringkasan buku Tipe Suami Penentram Hati karya Syaikh Nada Abu Ahmad cet Pustaka Kiswah yang judul aslinya Man Takhtarin.
Muqaddimah
Allah Subhanahu wa ta'ala memuliakan perempuan dan menjadikan nyaa sebagai saudara kandung laki - laki dalam hal hak dan kewajiban.
Dari Aisyah Radhiyallahu'anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda :
إن النساء شقائق الرجال
"Sesungguhnya kaum perempuan adalah saudara kandung kaum laki - laki." [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi]
Imam Ibnu Jauzi rahimahullah berkata : "Kaum perempuan adalah saudara kandung kaum laki - laki, maka sebagaimana laki - laki tertarik pada perempuan, begitu juga perempuan juga tertarik kepada laki - laki. Kemudian salah satu hak perempuan adalah memilih laki - laki yang akan menjadi teman berbagi didalam kehidupan nya dan ia akan berada dibawah kekuasaan suami nya pada sisi umurnya.
Dan, menjadi kewajiban orangtua atau wali untuk memilihkan suami bagi anak perempuan nya, sehingga dia tidak menikahinya kecuali dengan laki - laki yang beragama dan berakhlak mulia.
Jika si laki - laki mempergauli si perempuan, ia akan mempergaulinya dengan cara yang makruf. Namun, jika ia ingin menceraikan akan menceraikan nya dengan baik."
Aisyah Radhiyallahuanhuma berkata : "Pernikahan adalah ikatan perbudakan, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan kepada siapa ia akan menyerahkan anak perempuan nya."
Dari sinilah diketahui bahwa menjadi kewajiban wali dan perempuan itu sendiri untuk memilih suami yg baik dan berkepribadian yang kuat. Lantas apa saja sifat - sifat yang harus dipenuhi oleh seorang pendamping hidup, teman menghabiskan sisa umur, orang yang anda serahi janji kehomatan anda dan anda baiat untuk menahkodai bahtera kehidupan anda, orang yang akan merengkuh tangan anda untuk menapaki jalan kehidupan hingga anda berdua sama - sama mendengar seruan : "Masuklah kedalamnya dengan sejahtera dan aman"
Pemilihan laki - laki yang baik merupakan pintu gerbang pertama yang akan anda lalui, entarh menuju ketentraman, cinta dan kasih sayang atau menuju perpecahan dan ketidaksepahaman. [Tipe Suami Isteri Penentram Hati hal 13-14 dengan sedikit ringkas]
Tipe Suami Idaman para Wanita
1. Seorang yang Beragama
Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala :“….Sungguh, hamba sahaya laki – laki yang beriman lebih baik daripada laki – laki musyrik meskipun dia menarik hati mu….” [Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 221]
Suami yang beragama adalah suami yang apabila mencintai isterinya, ia memuliakan nya, namun jika tidak menyukai perbuatan isterinya dia tidak menzaliminya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridha agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak kalian). Jika kalian tidak melakukan nya, maka akan terjadi fitnah dimuka bumi dan kerusakan yang luas.” [Hasan : Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi]
Keutamaan Suami yang beragama…?Seorang suami yang beragama tidak akan bertindak zalim terhadap isterinya apabila ia marah, tidak mencela isterinya tanpa sebab, tidak memperlakukan isterinya dengan buruk dan kasar. Karena dia sangat paham dengan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam :“Sebaik – baik orang diantara kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah]
Maka sudah seharusnya orangtua atau wali perempuan memperhatikan agama dan akhlak laki – laki yang datang melamar.
Seorang laki – laki berkata kepada Imam al-Hasan rahimahullah, : “Anak perempuan saya dilamar oleh beberapa orang laki – laki, lantas dengan siapa saya harus menikahkan nya?”Hasan rahimahullah menjawab : “Dengan orang yang bertakwa kepada Allah. Jika orang (laki-laki) itu mencintai putri mu, ia akan memuliakan nya, namun jika dia membencinya, ia tidak akan menzaliminya.”
Laki – laki yang beragama walaupun miskin lebih baik…!Dari Abu Al-Abbas Sahl bin Sa’d as-Sa’di ia berkata : “Seorang laki – laki melintas dihadapan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, lalu beliau bertanya kepada seorang laki – laki yang duduk disamping beliau “Bagaimana pendapat mu tentang laki – laki itu?” Orang (yang ada disamping beliau) itu menjawab : “(Dia itu) seseorang laki – laki dari kalangan terhormat. Demi Allah, jika ia datang untuk melamar sangat pantas untuk dinikahkan. Dan jika ia memberi syafaat, sangat pantas untuk diterima syafaatnya.”
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam diam, Lalu seorang laki – laki yang lain melintas dihadapan beliau, beliau kembali bertanya : “Bagaimana pendapatmu tentang laki – laki itu?”Orang itu menjawab lagi : “Wahai Rasulullah, laki – laki itu termasuk golongan muslim yang fakir. Jika ia datang melamar, sangat pantas untuk tidak diterima, dan jika memberi syafaat, sangat pantas untuk tidak diterima syafaatnya.”
Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Laki – laki ini lebih baik daripada sepenuh bumi daripada laki – laki yang pertama.” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari]
Berikut kisah – kisah para Ulama Salaf (terdahulu) dalam memilih suami beragama untuk puteri mereka walaupun laki – laki itu miskin.
Kisah Imam Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah :Imam Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah, seorang ulama penghulu para tabi’in yang paling melimpah ilmu dan pemahaman agama nya wafat pada tahun 94 H. Beliau mempunyai anak perempuan yang terbilang sebagai perempuan yang paling baik, paling luhur budi pekertinya, paling banyak ilmu dan paling mengusai kitab Allah dan sunnah Rasulullah. Ia dilamar oleh Khalifah Bani Umayyah yakni Abdul Malik bin Marwan untuk puteranya yakni Al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan.
Akan tetapi Imam Sa’id bin Al-Musayyab menolak menikahkan putrinya dengan Al-Walid anak Khalifah, ia malah menikahkan anak nya dengan salah seorang muridnya yakni Katsir bin Abu Wada’ah rahimahullah.
Katsir seorang yang miskin, maka Imam Sa’id mengirimkan uang sebesar 5.000 dirham kepada nya dan ia berkata : “Nafkahi isterimu dengan uang ini.”
Seperti biasa, pagi harinya ketika Katsir bin Abu Wada’ah hendak keluar untuk menghadiri majelis ilmu Imam Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah, sang isteri (yakni anak Imam Sa’id) bertanya : “hendak kemana?” Katsir menjawab : “Ke majelis ilmu Sa’id, aku hendak belajar ilmu” Sang isteri yakni anak Imam Sa’id berkata : “Duduklah aku akan mengajari mu ilmu yang dimiliki ayah ku Sa’id bin Al-Musayyab” Katsir pun duduk dan sang isteri mengajarinya.
Perhatikan bagaimana Imam Sa’id al-Musayyab rahimahullah lebih mengutamakan seorang hamba yang bertakwa daripada seorang anak khalifah yang kaya raya. Karena hamba yang bertakwa ini mengetahui hak isteri nya dan menjaga hak Allah terkait isteri nya tersebut.
Kisah Tsabit bin Ibrahim.Suatu hari Tsabit bin Ibrahim melewati sebuah kebun, ketika itu ia sangat lapar. Tiba – tiba ia mendapati sebuah apel yang jatuh. Ia memakan separuhnya, lalu teringatlah bagi nya, bahwa sebuah apel itu tidak halal baginya, karena buah itu bukan menjadi hak nya. Ia pun masuk ke dalam kebun dan menjumpai seorang laki – laki yang sedang duduk.
Tsabit berkata : “Aku telah memakan separuh buah apel. Aku mohon relakanlah separuh yang telah ku makan. Dan silahkan mengambil sepatuh sisanya.”Laki – laki itu berkata : “Aku sendiri tidak memiliki hak untuk memberi maaf. Akan tetapi pergila menemui tuan ku, kebun ini adalah miliknya.”Tsabit bertanya : “Dimana dia berada?”Laki – laki itu menjawab : “Jarak antara diri mu dan diri nya adalah perjalanan sehari semalam.”Tsabit berkata : “Sungguh, aku akan pergi menemuinya, betapa pun jauh perjalan nya, karena Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih pantas untuk nya?” [Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dihasankan oleh beliau]
Akhirnya Tsabit sampai di tempat pemilik kebun. Ketika ia masuk menemuinya dan menceritakan peristiwa yang terjadi, pemilik kebun itu berkata : “Demi Allah, aku tidak merelakan nya untuk mu kecuali dengan satu syarat.”Tsabit berkata : “Silahkan mengajukan syarat apa pun yang engkau inginkan.”Pemilik kebun berkata : “Nikahi anak perempuan ku, akan tetapi dia tuli, bisu dan lumpuh.”Tsabit berkata : “Aku menerima lamaran nya. Aku akan berniaga dengan Allah terkait dengan anak perempuan mu itu, aku pun akan berusaha melayani nya.”Maka terlaksanalah akad pernikahan.
Lalu Tsabit masuk menemui isterinya. Ia tidak tahu apa yang mesti ia lakukan, mengucapkan salam kepada nya atau diam saja, akan tetapi dia lebih memilih untuk mengucap salam agar malaikat membalas salamnya. Ketika Tsabit mengucap salam, ia mendapati isterinya membalas salamnya, bahkan isterinya berdiri dana menyambut kedatangan nya dengan tangan nya.
Ia segera tahu bahwa kondisi isterinya tidak seperti yang dituturkan oleh sang ayah. Tsabit menanyakan hal itu kepadanya. Sang Isteri menjawab : “Ayah ku memberitahukan mu bahwa aku buta. Aku buta dari perkara haram, sehingga kedua mataku tidak melihat apa yang diharamkan oleh Allah. Aku tuli darip setiap perkara yang tidak diridhai oleh Allah. Aku bisu, karena lidah ku tidak bergerak kecuali untuk berdzikir kepada Allah. Aku juga lumpuh, sebab kedua kakiku tidak pernah membawa ku tempat yang dimurkai Allah.”
Tsabit memandang wajah isterinya, seakan – akan wajah itu adalah bulan purnama. Ia menggauli isterinya, dan lahirlah seorang anak yang memenuhi hamparan bumi ini dengan ilmu nya dialah sang Faqihuz Zaman, al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man rahimahullah. Allahu Akbar.
DARI BENIH SIKAP WARA’, LAHIRLAH SEORANG FAQIH.
[Diringkas dari Tipe Suami Isteri Penentram Hati, hal 15 - 25. Syaikh Nada Abu Ahmad. Cet Pustaka Kiswa Media]
---oOo---
2. Mengusai Kitab Allah (al-Quran) dalam Batas Tertentu
Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah adalah salah seorang sahabat dari kalangan Muhajirin generasi pertama. Ayah nya bernama Utbah, paman nya bernama Syaibah, dan saudara laki – laki nya bernama Al-Walid. Mereka semua adalah pemuka kaum dan orang kaya di Mekkah. Hanya saja Abu Hudzaifah menikahkan saudara perempuan nya yakni Hindun dengan Salim, bekas budaknya. Karena Salim adalah salah seorang penghafal al-Quran.
Tindakan ini untuk meruntuhkan setiap pondasi jahiliyah dan mengumandangkan dimulainya terbit fajar baru berupa persamaan derajat yang tidak mengenal perbedaan kecuali dalam hal ketakwaan dan amal shalih, sehingga setiap orang adalah hamba (budak) dibawah naungan kerajaan Allah.
Juga kejadian seorang pemuda didalam hadits Sahl bin Sa’id as-Sa’idi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam hadits yang panjang dimana Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menikahkan seorang pemuda sahabat yang tidak memiliki apa – apa dengan mahar hafalan beberapa surat dari al-Quran.
3. Berasal dari Lingkungan Baik (Terhormat)
Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :“Manusia ibarat barang tambang seperti halnya emas dan perak. Yang terbaik diantara mereka pada masa jahiliyah adalah yang terbaik pada masa Islam, apabila mereka mempunyai pemahaman (agama).” [Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]
[Diringkas dari Tipe Suami Isteri Penentram Hati, hal 25 – 27. Syaikh Nada Abu Ahmad. Cet Pustaka Kiswa Media. Judul asli nya Man Takhtarin dan Man Takhtar]
---oOo---
4. Seorang yang Lembut dan Santun terhadap Keluarga (Berakhlak Baik)
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Orang beriman yang paling sempurna keimanan nya adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling lembut terhadap keluarganya.”
Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam pernah memperingatkan Fatimah binti Qais untuk tidak menikah dengan Abu Jahm karena Abu Jahm gemar memukul kaum perempuan. [Lihat, Hadits yang Diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang ini]
Didalam kitab Tuhfatul ‘Arus halaman 77 dikisahkan :“Seorang perempuan badui dilamar oleh seorang pemuda. Perempuan itu tertarik dengan ketampanan di pemuda. Tanpa memperhatikan akhlak dan perilakunya. Sang ayah menasehati anak perempuan nya tentang ketidak shalihan pemuda tersebut, tetapi si anak perempuan nya tidak puas. Sang ayah kembali menegaskan ketidak setujuan nya, tetapi si anak nya menolak.
Akhirnya perempuan tersebut menikah dengan si pemuda. Setelah sebelun masa pernikahan, sang ayah menjenguknya dirumahnya. Sang Ayah menemukan tanda – tanda kekerasan (bekas pukulan suami) pada tubuh anak nya, tetapi ia pura – pura tidak mengetahuinya.
Sang ayah bertanya : “Bagaimana keadaan mu, wahai putri ku?Sang anak pura – pura memperlihatkan ekspresi kepuasan.Sang ayah bertanya : “Lantas bagaimana dengan tanda – tanda pukulan disekujur tubuh mu ini?”Si anak menangis terisak – isak cukup lama, lalu berkata : “Apa yang harus aku katakan kepada mu ayah? Aku telah mendurhakaimu dan lebih memilihnya tanpa memperhatikan akhlak dan kebaikan sikapnya.”
Wahai saudariku tercinta, hendaklah anda ketahui, bahwasanya pondasi akhlak adalah sikap bijak, rendah hati, terhorman dan kasih sayang. Maka hendaknya seorang muslimah bersungguh – sungguh dalam memastikan kebaikan akhlak laki – laki yang datang melamarnya, ia tidak boleh gegabah dalam masalah ini. Sebab, jika seorang suami berakhlak buruk dan memperlakukan isterinya dengan kasar, tentu kehidupa pernikahan tidak akan berjalan dengan baik.
[Diringkas dari Tipe Suami Isteri Penentram Hati, hal 27 – 30. Syaikh Nada Abu Ahmad. Cet Pustaka Kiswa Media. Judul asli nya Man Takhtarin dan Man Takhtar]
---oOo---
5. Mempunyai Kemampuan Menikah
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena yang demikian itu lebih menundukkan pandangan nya dan lebih menjaga kemaluan nya. Dan, barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa. Sebab puasa mampu menjadi pengekang syahwatnya.” [Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]
Mempunyai kemampuan menikah ditinjau dari dua sisi :Pertama : Memiliki kemampuan memberikan nafkah batin. Seperti berhubungan suami isteri.Kedua : Memiliki kemampuan memberikan nafkah lahir. Seperti biaya pernikahan dan nafkah keluarga.
6. Seorang yang Kuat dan Terpercaya
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman mengisahkan putri orang shalih yang berkata :“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." [al-Quran Surat Al-Qashash ayat 26]
Kuat dalam arti mencari nafkah dan melindungi isteri dan keluarga. Sedangkan terpercaya adalah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam : “Bertakwalah kepada Allah dengan wanita (isteri), Sesungguhnya kalian mengambil (menikahi) mereka dengan kalimat Allah”
Seorang laki – laki yang tidak bisa dipercaya akan gampang memukul isteri dan merendahkan nya. Lantas dikemanakan firman Allah ta’ala ini?
Tidak halal bagi suami untuk memukul isterinya, tanpa dosa yang diperbuatnya. Seharusnya suami bersikap lembut terhadap isterinya. Semua itu masuk kedalam cakupan amanah (kepercayaan).
[Diringkas dari Tipe Suami Isteri Penentram Hati, hal 30 – 34. Syaikh Nada Abu Ahmad. Cet Pustaka Kiswa Media. Judul asli nya Man Takhtarin dan Man Takhtar]
---oOo---
7. Seorang yang Kufu’
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
المسلون تتكافأدماؤهم
“Kaum Muslimin itu darah mereka sama setara.”
Kufu’ adalah kesamaan dan dekatnya batas tingkatan antara suami dan isteri dalam hal kualitas agama, akhlak, status sosial dan tingkat kekayaan. Dengan demikian, tentu kondisi kufu’ antara suami dan isteri ini menjadi salah satu sebab pokok kesuksesan pernikahan, sedangkan tidak ada nya kesamaan dan kesepadanan (kufu’) ini akan menimbulkan sebentuk kesenjangan, serta rentan menyebabkan kerusakan rumah tangga.
Adapun cakupan Kufu’ sebagai berikut :
Pertama : Kufu’ dalam hal Agama.Kufu’ dalam hal agama diakui dalam pernikahan, bahkan menjadi syarat sah pernikahan berdasarkan kesepakatan ulama.
Meskipun kufu’ yang ini tidak disyaratkan bagi keabsahan akad, namun ia sangatlah penting untuk diperhatikan. Sehingga, seseorang perempuan muslimah tidak boleh menikah dengan laki – laki kafir berdasarkan kesepakatan (Ijma’). Begitu juga seorang Muslim tidak seharusnya menikahkan anak perempuan nya yang shalihah dengan seorang laki – laki fasik.Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :“Perempuan – perempuan yang keji untuk laki – laki yang keji, dan laki – laki yang keji untuk perempuan – perempuan yang keji pula, sedangkan perempuan – perempuan yang baik untuk laki – laki yang baik dan laki – laki yang baik untuk perempuan – perempuan yang baik pula.” [al-Quran Surat an-Nur ayat 26]
Kedua : Kufu’ dalam hal Nasab.
Ketiga : Kufu’ dalam hal Harta.
Keempat : Kufu’ dalam hal status merdeka.
Kelima : Kufu’ dalam hal keahlian dan profesi.
Keenam : Kufu’ dalam hal terbebas dari cacat yakni cacat yang sangat mengganggu.
Masalah dan Jalan Keluarnya
Apakah Kufu’ yang enam ini menjadi syarat dalam keabsahan pernikahan atau tidak…?
Para ulama berbeda pendapat dan mereka terbagi kedalam dua pendapat :
Pendapat Pertama :
Kufu’ bukanlah syarat bagi sah nya pernikahan. Inilah pendapat yang kuat. Ini pendapat Jumhur (Kebanyakan) Ulama, diantaranya Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’I dan Ahmad didalam satu riwayat darinya. Pendapat ini diriwayatkan dari Umar dan Ibnu Mas’ud.Diantara dalil yang menunjukkan kuat nya pendapat ini :
Pertama : Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menikahkan Zainad binti Jahsyi yakni salah seorang perempuan dari Bani Asad salah satu kabilah yang memiliki nasab tertinggi dengan Zaid bin Haritsah yakni salah seorang mantan budak. [Kisahnya ada didalam al-Quran Surat al-Ahzab ayat 37]
Kedua : Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menikahkan Usamah bin Zaid yakni salah seorang mantan budak dengan Fathimah binti Qais yakni seorang perempuan Quraisy yang baik nasab nya.
Ketiga : Juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala :“Dan nikahkanlah orang – orang masih sendirian diantara kamu, dan juga orang – orang yang layak menikah dari hamba – hamba sahaya mu yang laki – laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian Nya) lagi Maha Mengetahui.” [al-Quran Surat An-Nur ayat 32]
Dan banyak lagi dalil yang lain nya. Dan inilah pendapat yang kuat.
Pendapat Kedua :
Bahwa Kufu’ merupakan syarat sah pernikahan. Ini adalah pendapat madzhab Imam Ahmad didalam riwayat yang masyhur darinya, Ats-Tsauri dan sebagian ulama hanafi. Mereka merujuk kepada sejumlah dalil yang sama sekali tidak bisa ditetapkan. Jika pun ada dalilnya, ia tidak secara tegas menyatakan pemberlakukan syarat kufu’. Pendapat ini adalah pendapat yang lemah.
Kesimpulan :
Jadi islam tidak mensyaratkan kufu’ antara suami isteri kecuali dalam hal agama dan akhlak, juga terkadang dalam hal terbebas dari cacat yang bisa menghalangi tujuan pernikahan didalam Islam, misalnya suami nya seorang yang impoten, sehingga tidak mampu menggauli isterinya.
Dengan demikian, Islam tidak mensyaratkan kufu’ dalam hal nasab (garis keturunan). Juga tidak pada status merdeka, tidak juga dalam hal harta dan profesi (keahlian). Hanya saja meskipun bukan syarat sahnya pernikahan selain kekufu’an dalam agama, bagi wanita dan walinya dianjurkan untuk mempertimbangkan dengan bijak kekufu’an dalam beberapa hal ini yang sesuai dengan kondisi nya dan keluarganya. Agar kehidupan pernikahan nya terus berlanjut dan tidak terjadi perselisihan dan perpecahan, karena ada nya perbedaan terkait dengan kekayaan, tingkat pendidikan, status sosial dan lain sebagainya.
Sebagai contoh, bila seorang dokter perempuan menikah dengan petugas kebersihan rumah sakit, sudah tentu pernikahan nya sah dan boleh, akan tetapi pada umumnya akan terjadi pembangkangan, kesewenangan dan penolakan dari pihak isteri. Dan contoh lain nya.
Catatan :
Ada beberapa catatan seputar syarat kufu’ ini :
1. Kekufu’an bagi golongan yang mensyaratkan nya merupakan hak perempuan dan wali artinya jika perempuan dan wali rela terhadap tidak adanya kekufu’an (selain dalam hal agama), maka pernikahan nya sah.
2. Kekufu’an diberlakukan hanya pada diri laki – laki, bukan pada diri perempuan. Jadi apabila seorang laki – laki menikah dengan seorang perempuan yang tidak kufu’ (sepadan) dengan nya, maka tidak ada cela untuknya.
3. Seyogia nya seorang perempuan memilih laki – laki yang beragama dan berakhlak, meskipun ia fakir. Bahkan seandainya perempuan itu kaya dan lebih memilih laki – laki tersebut karena agamanya, kemudian dia mempergunakan harta nya untuk dakwah suami nya menegakkan agama Allah, maka ia akan mendapatkan pahala di sisi Allah, dan ia telah meneladani Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu’anha.
4. Seorang laki – laki yang beragama dan berilmu, kufu’ (sepadan) untuk setiap perempuan.
Syaikh Muhammad Isma’il Al-Muqaddam berkata didalam kitab Audatul Hijab (2/253) : “Seorang laki – laki berilmu kufu’ (sepadan) bagi setiap perempuan, berapa pun umur perempuan itu. Meskipun si laki – laki tidak mempunyai nasab yang terkenal. Yang demikian itu karena kemuliaan ilmu berada diatas nasab dan segala bentuk kemuliaan.Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :“Katakanlah : “Apakah sama orang – orang yang mengetahui dengan orang – orang yang tidak mengetahui? Hanya orang yang berakal saja yang dapat menerima pelajaran.” [al-Quran Surat az-Zumar ayat 9]
Dia juga berfirman :“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang – orang yang beriman diantara mu dan orang – orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [al-Quran Surat Al-Mujadilah ayat 11]
[Diringkas dari Tipe Suami Isteri Penentram Hati, hal 34 – 55. Syaikh Nada Abu Ahmad. Cet Pustaka Kiswa Media. Judul asli nya Man Takhtarin dan Man Takhtar]
Jambi,
Kamis - 6 Jumada Ula 1433 H / 29 Maret 2012
Jumat - 7 Jumada Ula 1433 H / 30 Maret 2012
Oleh: Abu Abdillah Prima Ibnu Firdaus ar-Roni al-Mirluny
[Bersambung kepada TIPE SUAMI YANG HARUS DIHINDARI PARA WANITA]
Senin, 05 September 2011
Kaidah dan Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah Dalam Mengambil dan Menggunakan Dalil
Setiap firqoh memiliki dalil untuk menguatkan pendapatnya. Terkadang mereka menggunakan dalil-dalil yang shohih. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jamaa'ah membuat kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip dalam pengambilan dalil dan dalam menggunakannya itu sendiri. Berikut adalah beberapa kaidah dan prinsip ahlus sunnah:
1. Sumber 'aqidah adalah Kitabulloh (Al-Qur'an), Sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam yang shohih, dan 'ijma Salafush Shalih.
2. Setiap Sunnah yang shohih, yang berasal dari Rasululloh shollallaahu 'alaihi wa sallam wajib diterima, walaupun sifatnya ahad (hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi atau lebih, tetapi periwayatannya bukan dalam jumlah yang tak terhitung.
3. Yang menjadi rujukan dalam memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah nash-nash yang menjelaskannya, pemahaman Salafush Shalih dan para Imam yang mengikuti jejak mereka, serta dilihat arti yang benar dari bahasa Arab. Jika hal terebut sudah benar, maka tidak dipertentangkan menurut bahasa.
4. Prinsip-prinsip utama dalam agama, semua telah dijelaskan oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. siapapun tidak berhak untuk mengadakan sesuatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya, apalagi sampai mengatakan hal tersebut bagian dari agama.
5. Berserah diri, patuh dan taat hanya kepada allah dan Rasul-Nya, secara lahir dan batin. Tidak menolak sesuatu dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih, (baik menolaknya itu) dengan qiyas, perasaan, kasyf (iluminasi atau penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghaib), ucapan seorang syaikh, ataupun pendapat imam, dan yang sepertinya.
6. Dalil 'aqli (akal) yang benar akan sesuai dengan dalil naqli (nash yang shohih). Sesuatu yang qath'i (pasti) dari kedua dalil tersebut, tidak akan bertentangan selamanya. Apabila sepertinya ada pertentangan di antara keduanya, maka dalil naqli harus didahulukan.
7. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah ma'sum dan para Shahabat secara keseluruhan dijauhkan Allah dari kesepakatan di atas kesesatan namun secara individu, tidak ada seorangpun dari mereka yang ma'shum. Jika ada perbedaan diantara para Imam atau selain mereka, maka perkara tersebut dikembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dengna memaafkan orang yang keliru dan berprasangka baik bahwa ia adalah orang berijtihad.
Itu adalah beberapa kaidah dan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam mengambil dan menggunakan dalil. Mungkin masih banyak yang belum kita ketahui. Wallahu 'alam.
1. Sumber 'aqidah adalah Kitabulloh (Al-Qur'an), Sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam yang shohih, dan 'ijma Salafush Shalih.
2. Setiap Sunnah yang shohih, yang berasal dari Rasululloh shollallaahu 'alaihi wa sallam wajib diterima, walaupun sifatnya ahad (hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi atau lebih, tetapi periwayatannya bukan dalam jumlah yang tak terhitung.
3. Yang menjadi rujukan dalam memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah nash-nash yang menjelaskannya, pemahaman Salafush Shalih dan para Imam yang mengikuti jejak mereka, serta dilihat arti yang benar dari bahasa Arab. Jika hal terebut sudah benar, maka tidak dipertentangkan menurut bahasa.
4. Prinsip-prinsip utama dalam agama, semua telah dijelaskan oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. siapapun tidak berhak untuk mengadakan sesuatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya, apalagi sampai mengatakan hal tersebut bagian dari agama.
5. Berserah diri, patuh dan taat hanya kepada allah dan Rasul-Nya, secara lahir dan batin. Tidak menolak sesuatu dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih, (baik menolaknya itu) dengan qiyas, perasaan, kasyf (iluminasi atau penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghaib), ucapan seorang syaikh, ataupun pendapat imam, dan yang sepertinya.
6. Dalil 'aqli (akal) yang benar akan sesuai dengan dalil naqli (nash yang shohih). Sesuatu yang qath'i (pasti) dari kedua dalil tersebut, tidak akan bertentangan selamanya. Apabila sepertinya ada pertentangan di antara keduanya, maka dalil naqli harus didahulukan.
7. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah ma'sum dan para Shahabat secara keseluruhan dijauhkan Allah dari kesepakatan di atas kesesatan namun secara individu, tidak ada seorangpun dari mereka yang ma'shum. Jika ada perbedaan diantara para Imam atau selain mereka, maka perkara tersebut dikembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dengna memaafkan orang yang keliru dan berprasangka baik bahwa ia adalah orang berijtihad.
Itu adalah beberapa kaidah dan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam mengambil dan menggunakan dalil. Mungkin masih banyak yang belum kita ketahui. Wallahu 'alam.
Senin, 22 Agustus 2011
5 Kiat Aman Menangkal Program Jahat di Facebook
oleh: Ardhi Suryadi
Jakarta - Popularitas Facebook memancing minat penjahat cyber untuk menyebar program jahat di situs jejaring sosial itu. Judul video yang sensasional kerap kali menipu pengguna, padahal itu cuma jebakan.
Berikut 5 kiat aman untuk menangkalnya yang dikutip detikINET dari perusahaan keamanan Eset, Jumat (19/8/2011).
1. Selalu menggunakan software keamanan pada komputer, lengkapi dengan antivirus berperforma tinggi, dan jangan lupa untuk selalu mengupdatenya.
2. Selalu waspada jika ada percakapan yang mencurigakan. Contoh, chat dengan bahasa asing dan susunan huruf yang aneh.
3. Hindari untuk mengklik link-link aneh. Biasanya, terkait video porno dan hal hal berjudul sensasional lainnya.
4. Sesuaikan level keamanan dan privacy settings di situs jejaring sosial.
5. Terdapat banyak aplikasi yang diterbitkan oleh pihak ketiga yang dicurigai sebagai hasil kerja dari pelaku kejahatan dunia maya dan masuk sebagai spam dalam komputer user. Jadi Anda jangan asal mendownload aplikasi yang tidak jelas asal usulnya.
Yudhi Kukuh Technical Director PT. Prosperita -- ESET Indonesia menambahkan, jika mengacu pada fenomena sosial masyarakat pada era belakangan ini, tidak mengherankan jika para pengembang malware kemudian memanfaatkan situs-situs jejaring sosial untuk menyebarkan program-program jahatnya.
"Salah satu contoh yang lekat dalam ingatan kita adalah Trojan yang diidentifikasi sebagai Koobface yaitu varian trojan dengan cara infiltrasi yang tajam," tukas Yudhi.
"Motif dari Trojan Koobface adalah mendapatkan perhatian dengan mengirimkan pesan-pesan yang tentunya untuk menarik perhatian dari pengguna facebook. Kemudian malware tersebut akan menciptakan botnet, atau sebuah jaringan zombie yang dapat dikontrol dan diperintah secara remote oleh pelaku cybercrime," pungkasnya.
sumber: www.detik.com
Jakarta - Popularitas Facebook memancing minat penjahat cyber untuk menyebar program jahat di situs jejaring sosial itu. Judul video yang sensasional kerap kali menipu pengguna, padahal itu cuma jebakan.
Berikut 5 kiat aman untuk menangkalnya yang dikutip detikINET dari perusahaan keamanan Eset, Jumat (19/8/2011).
1. Selalu menggunakan software keamanan pada komputer, lengkapi dengan antivirus berperforma tinggi, dan jangan lupa untuk selalu mengupdatenya.
2. Selalu waspada jika ada percakapan yang mencurigakan. Contoh, chat dengan bahasa asing dan susunan huruf yang aneh.
3. Hindari untuk mengklik link-link aneh. Biasanya, terkait video porno dan hal hal berjudul sensasional lainnya.
4. Sesuaikan level keamanan dan privacy settings di situs jejaring sosial.
5. Terdapat banyak aplikasi yang diterbitkan oleh pihak ketiga yang dicurigai sebagai hasil kerja dari pelaku kejahatan dunia maya dan masuk sebagai spam dalam komputer user. Jadi Anda jangan asal mendownload aplikasi yang tidak jelas asal usulnya.
Yudhi Kukuh Technical Director PT. Prosperita -- ESET Indonesia menambahkan, jika mengacu pada fenomena sosial masyarakat pada era belakangan ini, tidak mengherankan jika para pengembang malware kemudian memanfaatkan situs-situs jejaring sosial untuk menyebarkan program-program jahatnya.
"Salah satu contoh yang lekat dalam ingatan kita adalah Trojan yang diidentifikasi sebagai Koobface yaitu varian trojan dengan cara infiltrasi yang tajam," tukas Yudhi.
"Motif dari Trojan Koobface adalah mendapatkan perhatian dengan mengirimkan pesan-pesan yang tentunya untuk menarik perhatian dari pengguna facebook. Kemudian malware tersebut akan menciptakan botnet, atau sebuah jaringan zombie yang dapat dikontrol dan diperintah secara remote oleh pelaku cybercrime," pungkasnya.
sumber: www.detik.com
Minggu, 02 Januari 2011
Ilmu Dulu Baru Amal
Oleh : Ammi Nur Baits
Ada seseorang yang bercerita, dalam sebuah perjalanan manasik haji, para jamaah haji secara bertubi-tubi mengajukan banyak pertanyaan kepada pembimbing haji. Hampir semua permasalahan yang mereka jumpai dalam pelaksanaan ibadah haji, selalu dikonsultasikan kepada pembimbing. Kita yakin, suasana semacam ini hampir dialami oleh semua jamaah haji. Mengapa bisa terjadi demikian? Jawabannya hanya ada dua kemungkinan; pertama, mereka khawatir jangan-jangan ibadah haji yang mereka lakukan batal dan tidak diterima oleh Allah. Atau kedua, mereka takut dan khawatir jangan sampai melakukan tindakan pelanggaran yang menyebabkan mereka harus membayar denda.
Demikianlah gambaran semangat orang terhadap ilmu ketika melaksanakan ibadah haji. Suasana itu terbentuk disebabkan kekhawatiran mereka agar hajinya tidak batal. Mereka sadar, ibadah ini telah memakan banyak biaya dan tenaga, sehingga sangat disayangkan ketika ibadah yang sangat mahal nilainya ini, tidak menghasilkan sesuatu apapun bagi dirinya.
Pernahkah sikap dan perasaan semacam ini hadir dalam diri kita dalam setiap melaksanakan ibadah, atau bahkan dalam setiap amal perbuatan kita? Ataukah sebaliknya, justru kita begitu menganggap enteng setiap amal, sehingga tidak mempedulikan pondasi ilmunya. Inilah yang penting untuk kita renungkan. Semangat untuk mendasari setiap amal dengan ilmu merupakan cerminan perhatian seseorang terhadap kesempurnaan beramal. Untuk menunjukkan sikap ini, seorang ulama, yang bernama Sufyan at-Tsauri mengatakan:
إِنْ اسْتَطَعتَ ، أَلَّا تَحُكَّ رَأسَكَ إِلَّا بِأَثَرٍ فَافعَلْ
Jika kamu mampu tidak akan menggaruk kepala kecuali jika ada dalilnya maka lakukanlah
(Al Jami’ li Akhlaq ar Rawi wa Adab as-Sami’, Khatib al-Baghdadi, Mauqi Jami’ al-Hadis: 1/197)
Ulama ini menasehatkan agar setiap amal yang kita lakukan sebisa mungkin didasari dengan dalil. Sampai-pun dalam masalah kebiasaan kita, atau bahkan sampai dalam masalah yang mungkin dianggap sepele. Apalagi dalam masalah ibadah. Karena inilah syarat mutlak seseorang dikatakan mengamalkan dalil.
Namun sayangnya, masih banyak di antara kaum muslimin yang kurang mempedulikan landasan ilmu ketika beramal yang sifatnya rutinitas. Jarang kita temukan orang yang melaksanakan ibadah rutin, semacam shalat misalnya, kemudian dia berusaha mencari tahu, apa landasan setiap gerakan dan bacaan shalat yang dia kerjakan. Bisa jadi ini didasari anggapan, amal rutinitas ini terlalu ringan dan mudah untuk dilakukan.
Ilmu Syarat Sah Amal
Mengapa harus berilmu sebelum beramal? Pada bagian inilah yang akan melengkapi keterangan di atas, yang mengajak untuk senantiasa mendasari amal dengan ilmu. Inti dari penjelasan ini adalah kesimpulan bahwa ilmu adalah syarat sah amal.
Dalam kitab shahihnya, Imam Bukhari mengatakan:
بَابٌ العِلمُ قَبلَ القَولِ وَالعَمَلِ
“Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan”
(Shahih al-Bukhari, kitab: al-Ilmu, bab al ilmu qabla al-qoul wa al amal)
Ucapan Imam Bukhari ini telah mendapatkan perhatian khusus dari para ulama. Karena itu, perkataan beliau ini banyak dikutip oleh para ulama setelahnya dalam buku-buku mereka. Imam Bukhari berdalil dengan firman Allah:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغفِرْ لِذَنبِكَ
“Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah
dan mintalah ampunan untuk dosamu” (QS. Muhammad: 19)
Di ayat ini, Allah memulai perintahnya dengan: “ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”, yang ini merupakan perintah untuk mencari ilmu. Kemudian Allah sebutkan amal yang sangat penting yaitu istighfar, sebagaimana Allah sebutkan di lanjutan ayat, yang artinya: “….mintalah ampunan untuk dosamu.”.
Ketika menjelaskan hadis ini, al-Hafidz al-Aini dalam kitab syarh shahih Bukhari mengutip perkataan Ibnul Munayir berikut:
Yang beliau maksudkan bahwasanya ilmu adalah syarat sah ucapan dan perbuatan. Ucapan dan perbuatan tidak akan dinilai kecuali dengan ilmu. Oleh sebab itu, ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Karena ilmu yang akan men-sahkan niat, dan niat adalah yang men-sahkan amal.
(Umdatu al-Qori, Syarh Shahih Bukhari, al-Hafidz al-Aini, jilid 2, hal. 476).
Dari keterangan Ibnul Munayir dapat disimpulkan, posisi ilmu dalam amal adalah sebagai pengendali niat. Karena seseorang baru bisa berniat untuk beramal dengan niat yang benar, jika dia memahami (baca: mengilmui) tujuan dia beramal. Hal ini sebagaimana penjelasan yang disampaikan oleh Ibnu Batthal, dengan mengutip keterangan al-Muhallab, yang mengatakan:
Amal itu tidak mungkin diterima kecuali yang didahului dengan tujuan untuk Allah. Inti dari tujuan ini adalah memahami (mengilmui) tentang pahala yang Allah janjikan, serta memahami tata cara ikhlas kepada Allah dalam beramal. Dalam keadaan semacam ini, bolehlah amal tersebut diharapkan bisa memberikan manfaat, karena telah didahului dengan ilmu. Sebaliknya, ketika amal itu tidak diiringi dengan niat, tidak mengharapkan pahala, dan kosong dari ikhlas karena Allah maka hakekatnya bukanlah amal, namun ini seperti perbuatan orang gila, yang tidak dicatat amalnya.
(Syarh Shahih Bukhari karya Ibnu Batthal, Syamilah, 1/145)
Lebih dari itu, setiap orang yang hendak beramal, dia dituntut untuk memahami amal yang akan dia kerjakan. Agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan menyebabkan amalnya tidak diterima. Mungkin dari tulisan Imam Bukhari di atas, ada sebagian orang yang bertanya: Untuk apa kita harus belajar, padahal belum waktunya untuk diamalkan?
Sesungguhnya setiap orang dituntut untuk senantiasa belajar, meskipun ilmu yang dia pelajari belum waktunya untuk diamalkan. Seperti ilmu tentang haji, padahal dia belum memiliki kemampuan untuk berangkat haji. Karena ilmu itu akan senantiasa memberikan manfaat bagi dirinya atau orang lain. Al-Hafidz al-Aini ketika menjelaskan perkataan Imam Bukhari di atas, beliau menyatakan:
Imam Bukhari mengingatkan hal ini – Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan –, agar tidak didahului oleh pemahaman bahwa ilmu itu tidak manfaat kecuali jika disertai dengan amal. Pemahaman ini dilatar-belakangi sikap meremehkan ilmu dan menganggap mudah dalam mencari ilmu.
[Umadatul Qori Syarh Shahih Bukhari, al-Hafidz al-Aini, as-Syamilah, 2/476]
Apa itu Ilmu?
Yang kami maksud dengan ilmu adalah dalil, baik dari al Qur’an maupun hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikhul Islam, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani mengatakan:
العِلمَ مَا قَامَ عَلَيْهِ الدَّلِيلُ وَالنَّافِعُ مِنْهُ مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ
“Ilmu adalah kesimpulan yang ada dalilnya, sedangkan ilmu yang bermanfaat adalah
ilmu yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam”
(Majmu’ Fatawa, Syamilah, jilid 6, hal. 388)
Bagian ini perlu ditegaskan agar tidak terjadi kesalah-pahaman. Intinya ingin menjelaskan, setiap orang yang beramal dan dia tahu dalilnya maka boleh dikatakan, orang ini telah beramal atas dasar ilmu. Sebaliknya, beramal namun tidak ada landasan dalil belum dikatakan beramal atas dasar ilmu.
Lantas bagaimana dengan orang awam yang tidak faham dalil? Apakah dia diwajibkan mencari dalil? Jawabannya, untuk orang awam, dalil bagi mereka adalah keterangan dan fatwa ulama yang mendasari nasehatnya dengan dalil. Bukan keterangan ulama yang pemikirannya bertolak belakang dengan al-Qur’an dan sunnah. Dalilnya adalah firman Allah:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Bertanyalah kepada ahli ilmu, jika kalian tidak mengetahuinya” (QS. Al-Anbiya: 7)
Muslim Vs Nasrani Vs Yahudi
Tekait masalah ini, ada tiga kelompok manusia yang sangat esktrim perbedaannya. Ketiga jenis manusia ini Allah sebutkan dalam al-Qur’an, di surat al-Fatihah. Allah berfirman:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (5) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ (6) غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
“Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus {} yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat {} Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.”
(QS. Al-Fatihah: 5 – 7)
Pada ayat di atas, Allah membagi manusia terkait dengan hidayah ilmu menjadi tiga golongan:
Pertama, golongan orang yang mendapat nikmat. Merekalah golongan yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam beragama.
Kedua, golongan orang-orang yang dimurkai. Merekalah orang-orang yahudi
Ketiga, golongan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang nasrani.
Syaikhul Islam menjelaskan sebab kedua umat yahudi dan nasrani dikafirkan:
Kesimpulannya, bahwa kekafiran orang yahudi pada asalnya disebabkan mereka tidak mengamalkan ilmu mereka. Mereka memahami kebenaran, namun mereka tidak mengikuti kebenaran tersebut dengan amal atau ucapan. Sedangkan kekafiran nasrani disebabkan amal perbuatan mereka yang tidak didasari ilmu. Mereka rajin dalam melaksanakan berbagai macam ibadah, tanpa adanya syariat dari Allah… karena itu, sebagian ulama, seperti Sufyan bin Uyainah dan yang lainnya mengatakan: “Jika ada golongan ulama yang sesat, itu karena dalam dirinya ada kemiripan dengan orang yahudi. Sedangkan golongan ahli ibadah yang rusak karena dalam dirinya ada kemiripan dengan orang nasrani” (Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani, dengan Tahqiq Dr. Nashir al-`Aql, Kementrian Wakaf dan Urusan Islam KSA, 1419 H, jilid 1, hal. 79 )
Penjelasan yang bagus di atas memberikan kesimpulan, titik perbedaan antara umat islam dengan kaum yahudi dan nasrani adalah terkait masalah ilmu dan amal. Umat islam menduduki posisi pertengahan, dengan menggabungkan antara ilmu dan amal.
Tingkatan Ilmu
Untuk melengkapi pembahasan, berikutnya kita kupas tentang tingkatan ilmu berdasarkan hukumnya. Sesungguhnya hukum belajar ilmu syar`i itu ada dua tingkatan:
Pertama, fardhu `ain (menjadi kewajiban setiap orang)
Ilmu syar`i yang wajib diketahui dan dipelajari semua orang adalah ilmu syar`i yang menjadi syarat seseorang untuk bisa memahami aqidah pokok dengan benar dan tata cara ibadah yang hendak dikerjakan. Termasuk juga ilmu tentang praktek mu`amalah yang hendak dia lakukan.
Kedua, fardhu kifayah
Tingkatan yang kedua adalah ilmu syar`i yang harus dipelajari oleh sebagian kaum muslimin dengan jumlah tertentu, sehingga memenuhi kebutuhan untuk disebarkan kepada umat. Dalam kondisi ini, jika sudah ada sebagian kaum muslimin dengan jumlah yang dianggap cukup, yang melaksanakannya maka kaum muslimin yang lain tidak diwajibkan.
Catatan:
Bagi mereka yang ingin mengkhususkan diri mempelajari ilmu syar`i lebih mendalam, hendaknya dia meniatkan diri untuk melaksanakan tugas fardhu kifayah dalam bentuk mencari ilmu. Agar dia mendapatkan tambahan pahala mengamalkan amalan fardhu kifayah, disamping dia juga mendapatkan ilmu. Allahu a’lam
[lih. Kitab al-Ilmu, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Mauqi` al-Islam, hal. 14]
Sumber : www.muslim.or.id
Ada seseorang yang bercerita, dalam sebuah perjalanan manasik haji, para jamaah haji secara bertubi-tubi mengajukan banyak pertanyaan kepada pembimbing haji. Hampir semua permasalahan yang mereka jumpai dalam pelaksanaan ibadah haji, selalu dikonsultasikan kepada pembimbing. Kita yakin, suasana semacam ini hampir dialami oleh semua jamaah haji. Mengapa bisa terjadi demikian? Jawabannya hanya ada dua kemungkinan; pertama, mereka khawatir jangan-jangan ibadah haji yang mereka lakukan batal dan tidak diterima oleh Allah. Atau kedua, mereka takut dan khawatir jangan sampai melakukan tindakan pelanggaran yang menyebabkan mereka harus membayar denda.
Demikianlah gambaran semangat orang terhadap ilmu ketika melaksanakan ibadah haji. Suasana itu terbentuk disebabkan kekhawatiran mereka agar hajinya tidak batal. Mereka sadar, ibadah ini telah memakan banyak biaya dan tenaga, sehingga sangat disayangkan ketika ibadah yang sangat mahal nilainya ini, tidak menghasilkan sesuatu apapun bagi dirinya.
Pernahkah sikap dan perasaan semacam ini hadir dalam diri kita dalam setiap melaksanakan ibadah, atau bahkan dalam setiap amal perbuatan kita? Ataukah sebaliknya, justru kita begitu menganggap enteng setiap amal, sehingga tidak mempedulikan pondasi ilmunya. Inilah yang penting untuk kita renungkan. Semangat untuk mendasari setiap amal dengan ilmu merupakan cerminan perhatian seseorang terhadap kesempurnaan beramal. Untuk menunjukkan sikap ini, seorang ulama, yang bernama Sufyan at-Tsauri mengatakan:
إِنْ اسْتَطَعتَ ، أَلَّا تَحُكَّ رَأسَكَ إِلَّا بِأَثَرٍ فَافعَلْ
Jika kamu mampu tidak akan menggaruk kepala kecuali jika ada dalilnya maka lakukanlah
(Al Jami’ li Akhlaq ar Rawi wa Adab as-Sami’, Khatib al-Baghdadi, Mauqi Jami’ al-Hadis: 1/197)
Ulama ini menasehatkan agar setiap amal yang kita lakukan sebisa mungkin didasari dengan dalil. Sampai-pun dalam masalah kebiasaan kita, atau bahkan sampai dalam masalah yang mungkin dianggap sepele. Apalagi dalam masalah ibadah. Karena inilah syarat mutlak seseorang dikatakan mengamalkan dalil.
Namun sayangnya, masih banyak di antara kaum muslimin yang kurang mempedulikan landasan ilmu ketika beramal yang sifatnya rutinitas. Jarang kita temukan orang yang melaksanakan ibadah rutin, semacam shalat misalnya, kemudian dia berusaha mencari tahu, apa landasan setiap gerakan dan bacaan shalat yang dia kerjakan. Bisa jadi ini didasari anggapan, amal rutinitas ini terlalu ringan dan mudah untuk dilakukan.
Ilmu Syarat Sah Amal
Mengapa harus berilmu sebelum beramal? Pada bagian inilah yang akan melengkapi keterangan di atas, yang mengajak untuk senantiasa mendasari amal dengan ilmu. Inti dari penjelasan ini adalah kesimpulan bahwa ilmu adalah syarat sah amal.
Dalam kitab shahihnya, Imam Bukhari mengatakan:
بَابٌ العِلمُ قَبلَ القَولِ وَالعَمَلِ
“Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan”
(Shahih al-Bukhari, kitab: al-Ilmu, bab al ilmu qabla al-qoul wa al amal)
Ucapan Imam Bukhari ini telah mendapatkan perhatian khusus dari para ulama. Karena itu, perkataan beliau ini banyak dikutip oleh para ulama setelahnya dalam buku-buku mereka. Imam Bukhari berdalil dengan firman Allah:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغفِرْ لِذَنبِكَ
“Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah
dan mintalah ampunan untuk dosamu” (QS. Muhammad: 19)
Di ayat ini, Allah memulai perintahnya dengan: “ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”, yang ini merupakan perintah untuk mencari ilmu. Kemudian Allah sebutkan amal yang sangat penting yaitu istighfar, sebagaimana Allah sebutkan di lanjutan ayat, yang artinya: “….mintalah ampunan untuk dosamu.”.
Ketika menjelaskan hadis ini, al-Hafidz al-Aini dalam kitab syarh shahih Bukhari mengutip perkataan Ibnul Munayir berikut:
Yang beliau maksudkan bahwasanya ilmu adalah syarat sah ucapan dan perbuatan. Ucapan dan perbuatan tidak akan dinilai kecuali dengan ilmu. Oleh sebab itu, ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Karena ilmu yang akan men-sahkan niat, dan niat adalah yang men-sahkan amal.
(Umdatu al-Qori, Syarh Shahih Bukhari, al-Hafidz al-Aini, jilid 2, hal. 476).
Dari keterangan Ibnul Munayir dapat disimpulkan, posisi ilmu dalam amal adalah sebagai pengendali niat. Karena seseorang baru bisa berniat untuk beramal dengan niat yang benar, jika dia memahami (baca: mengilmui) tujuan dia beramal. Hal ini sebagaimana penjelasan yang disampaikan oleh Ibnu Batthal, dengan mengutip keterangan al-Muhallab, yang mengatakan:
Amal itu tidak mungkin diterima kecuali yang didahului dengan tujuan untuk Allah. Inti dari tujuan ini adalah memahami (mengilmui) tentang pahala yang Allah janjikan, serta memahami tata cara ikhlas kepada Allah dalam beramal. Dalam keadaan semacam ini, bolehlah amal tersebut diharapkan bisa memberikan manfaat, karena telah didahului dengan ilmu. Sebaliknya, ketika amal itu tidak diiringi dengan niat, tidak mengharapkan pahala, dan kosong dari ikhlas karena Allah maka hakekatnya bukanlah amal, namun ini seperti perbuatan orang gila, yang tidak dicatat amalnya.
(Syarh Shahih Bukhari karya Ibnu Batthal, Syamilah, 1/145)
Lebih dari itu, setiap orang yang hendak beramal, dia dituntut untuk memahami amal yang akan dia kerjakan. Agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan menyebabkan amalnya tidak diterima. Mungkin dari tulisan Imam Bukhari di atas, ada sebagian orang yang bertanya: Untuk apa kita harus belajar, padahal belum waktunya untuk diamalkan?
Sesungguhnya setiap orang dituntut untuk senantiasa belajar, meskipun ilmu yang dia pelajari belum waktunya untuk diamalkan. Seperti ilmu tentang haji, padahal dia belum memiliki kemampuan untuk berangkat haji. Karena ilmu itu akan senantiasa memberikan manfaat bagi dirinya atau orang lain. Al-Hafidz al-Aini ketika menjelaskan perkataan Imam Bukhari di atas, beliau menyatakan:
Imam Bukhari mengingatkan hal ini – Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan –, agar tidak didahului oleh pemahaman bahwa ilmu itu tidak manfaat kecuali jika disertai dengan amal. Pemahaman ini dilatar-belakangi sikap meremehkan ilmu dan menganggap mudah dalam mencari ilmu.
[Umadatul Qori Syarh Shahih Bukhari, al-Hafidz al-Aini, as-Syamilah, 2/476]
Apa itu Ilmu?
Yang kami maksud dengan ilmu adalah dalil, baik dari al Qur’an maupun hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikhul Islam, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani mengatakan:
العِلمَ مَا قَامَ عَلَيْهِ الدَّلِيلُ وَالنَّافِعُ مِنْهُ مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ
“Ilmu adalah kesimpulan yang ada dalilnya, sedangkan ilmu yang bermanfaat adalah
ilmu yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam”
(Majmu’ Fatawa, Syamilah, jilid 6, hal. 388)
Bagian ini perlu ditegaskan agar tidak terjadi kesalah-pahaman. Intinya ingin menjelaskan, setiap orang yang beramal dan dia tahu dalilnya maka boleh dikatakan, orang ini telah beramal atas dasar ilmu. Sebaliknya, beramal namun tidak ada landasan dalil belum dikatakan beramal atas dasar ilmu.
Lantas bagaimana dengan orang awam yang tidak faham dalil? Apakah dia diwajibkan mencari dalil? Jawabannya, untuk orang awam, dalil bagi mereka adalah keterangan dan fatwa ulama yang mendasari nasehatnya dengan dalil. Bukan keterangan ulama yang pemikirannya bertolak belakang dengan al-Qur’an dan sunnah. Dalilnya adalah firman Allah:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Bertanyalah kepada ahli ilmu, jika kalian tidak mengetahuinya” (QS. Al-Anbiya: 7)
Muslim Vs Nasrani Vs Yahudi
Tekait masalah ini, ada tiga kelompok manusia yang sangat esktrim perbedaannya. Ketiga jenis manusia ini Allah sebutkan dalam al-Qur’an, di surat al-Fatihah. Allah berfirman:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (5) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ (6) غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
“Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus {} yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat {} Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.”
(QS. Al-Fatihah: 5 – 7)
Pada ayat di atas, Allah membagi manusia terkait dengan hidayah ilmu menjadi tiga golongan:
Pertama, golongan orang yang mendapat nikmat. Merekalah golongan yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam beragama.
Kedua, golongan orang-orang yang dimurkai. Merekalah orang-orang yahudi
Ketiga, golongan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang nasrani.
Syaikhul Islam menjelaskan sebab kedua umat yahudi dan nasrani dikafirkan:
Kesimpulannya, bahwa kekafiran orang yahudi pada asalnya disebabkan mereka tidak mengamalkan ilmu mereka. Mereka memahami kebenaran, namun mereka tidak mengikuti kebenaran tersebut dengan amal atau ucapan. Sedangkan kekafiran nasrani disebabkan amal perbuatan mereka yang tidak didasari ilmu. Mereka rajin dalam melaksanakan berbagai macam ibadah, tanpa adanya syariat dari Allah… karena itu, sebagian ulama, seperti Sufyan bin Uyainah dan yang lainnya mengatakan: “Jika ada golongan ulama yang sesat, itu karena dalam dirinya ada kemiripan dengan orang yahudi. Sedangkan golongan ahli ibadah yang rusak karena dalam dirinya ada kemiripan dengan orang nasrani” (Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani, dengan Tahqiq Dr. Nashir al-`Aql, Kementrian Wakaf dan Urusan Islam KSA, 1419 H, jilid 1, hal. 79 )
Penjelasan yang bagus di atas memberikan kesimpulan, titik perbedaan antara umat islam dengan kaum yahudi dan nasrani adalah terkait masalah ilmu dan amal. Umat islam menduduki posisi pertengahan, dengan menggabungkan antara ilmu dan amal.
Tingkatan Ilmu
Untuk melengkapi pembahasan, berikutnya kita kupas tentang tingkatan ilmu berdasarkan hukumnya. Sesungguhnya hukum belajar ilmu syar`i itu ada dua tingkatan:
Pertama, fardhu `ain (menjadi kewajiban setiap orang)
Ilmu syar`i yang wajib diketahui dan dipelajari semua orang adalah ilmu syar`i yang menjadi syarat seseorang untuk bisa memahami aqidah pokok dengan benar dan tata cara ibadah yang hendak dikerjakan. Termasuk juga ilmu tentang praktek mu`amalah yang hendak dia lakukan.
Kedua, fardhu kifayah
Tingkatan yang kedua adalah ilmu syar`i yang harus dipelajari oleh sebagian kaum muslimin dengan jumlah tertentu, sehingga memenuhi kebutuhan untuk disebarkan kepada umat. Dalam kondisi ini, jika sudah ada sebagian kaum muslimin dengan jumlah yang dianggap cukup, yang melaksanakannya maka kaum muslimin yang lain tidak diwajibkan.
Catatan:
Bagi mereka yang ingin mengkhususkan diri mempelajari ilmu syar`i lebih mendalam, hendaknya dia meniatkan diri untuk melaksanakan tugas fardhu kifayah dalam bentuk mencari ilmu. Agar dia mendapatkan tambahan pahala mengamalkan amalan fardhu kifayah, disamping dia juga mendapatkan ilmu. Allahu a’lam
[lih. Kitab al-Ilmu, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Mauqi` al-Islam, hal. 14]
Sumber : www.muslim.or.id
Orang Yang Berjiwa Besar
oleh: Abu Muslih Ari Wahyudi
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Harta tidak akan berkurang gara-gara sedekah. Tidaklah seorang hamba memberikan maaf -terhadap kesalahan orang lain- melainkan Allah pasti akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap rendah hati (tawadhu’) karena Allah (ikhlas) melainkan pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/194])
Hadits yang mulia ini memberikan berbagai pelajaran penting bagi kita, di antaranya:
1. Hadits ini menganjurkan kita untuk bersikap ihsan/suka berbuat baik kepada orang lain, entah dengan harta, dengan memaafkan kesalahan mereka, ataupun dengan bersikap tawadhu’ kepada mereka (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
2. Anjuran untuk banyak bersedekah. Karena dengan sedekah itu akan membuat hartanya berbarokah dan terhindar dari bahaya. Terlebih lagi dengan bersedekah akan didapatkan balasan pahala yang berlipat ganda (lihat Syarh Muslim [8/194]). Selain itu, sedekah juga menjadi sebab terbukanya pintu-pintu rezeki (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
3. Anjuran untuk menjauhi sifat bakhil/kikir.
4. Kebakhilan tidak akan menghasilkan keberuntungan
5. Hadits ini menunjukkan keutamaan bersedekah dengan harta
6. Sedekah adalah ibadah
7. Allah mencintai orang yang suka bersedekah -dengan ikhlas tentunya-
8. Terkadang manusia menyangka bahwa sesuatu bermanfaat baginya, namun apabila dicermati dari sudut pandang syari’at maka hal itu justru tidak bermanfaat. Demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu alangkah tidak bijak orang yang menjadikan hawa nafsu, perasaan, ataupun akal pikirannya yang terbatas sebagai standar baik tidaknya sesuatu. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan larangan-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 89)
9. Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya menepis keragu-raguan dan menyingkap kesalahpahaman yang bercokol di dalam hati manusia
10. Memberikan targhib/motivasi merupakan salah satu metode pengajaran yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
11. Hadits ini juga menunjukkan pentingnya memotivasi orang lain untuk beramal salih
12. Anjuran untuk memberikan maaf kepada orang lain yang bersalah kepada kita -secara pribadi-. Dengan demikian -ketika di dunia- maka kedudukannya akan bertambah mulia dan terhormat. Di akherat pun, kedudukannya akan bertambah mulia dan pahalanya bertambah besar jika orang tersebut memiliki sifat pemaaf (lihat Syarh Muslim [8/194]).
13. Di antara hikmah memaafkan kesalahan orang adalah akan bisa merubah musuh menjadi teman -sehingga hal ini bisa menjadi salah satu cara untuk membuka jalan dakwah-, atau bahkan bisa menyebabkan orang lain mudah memberikan bantuan dan pembelaan di saat dia membutuhkannya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
14. Allah mencintai orang yang pemaaf.
15. Anjuran untuk bersikap tawadhu’/rendah hati. Karena dengan kerendahan hati itulah seorang hamba akan bisa memperoleh ketinggian derajat dan kemuliaan, ketika di dunia maupun di akherat kelak (lihat Syarh Muslim [8/194]).
16. Hakekat orang yang tawadhu’ adalah orang yang tunduk kepada kebenaran, patuh kepada perintah dan larangan Allah dan rasul-Nya serta bersikap rendah hati kepada sesama manusia, baik kepada yang masih muda ataupun yang sudah tua. Lawan dari tawadhu’ adalah takabur/sombong (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
17. Allah mencintai orang yang tawadhu’
18. Larangan bersikap takabur; yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain
19. Tawadhu’ yang terpuji adalah yang dilandasi dengan keikhlasan, bukan yang dibuat-buat; yaitu yang timbul karena ada kepentingan dunia yang bersembunyi di baliknya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
20. Yang menjadi penyempurna dan ruh/inti dari ihsan/kebajikan adalah niat yang ikhlas dalam beramal karena Allah (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
21. Ketawadhu’an merupakan salah satu sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah. Di samping ada sebab lainnya seperti; keimanan -dan itu yang paling pokok- serta ilmu yang dimilikinya. Bahkan, ketawadhu’an itu sendiri merupakan buah agung dari iman dan ilmu yang tertanam dalam diri seorang hamba (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
22. Hadits ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk mencari ketinggian dan kemuliaan derajat di sisi-Nya. Sedangkan orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa (lihat QS. al-Hujurat: 13). Dan salah satu kunci ketakwaan adalah kemampuan untuk mengekang hawa nafsu, sehingga orang tidak akan bakhil dengan hartanya, akan mudah memaafkan, dan tidak bersikap arogan ataupun bersikap sombong di hadapan manusia.
23. Hadits ini menunjukkan keutamaan mengekang hawa nafsu dan keharusan untuk menundukkannya kepada syari’at Rabbul ‘alamin
24. Hendaknya menjauhi sebab-sebab yang menyeret kepada sifat-sifat tercela -misalnya; kikir dan sombong- dan berusaha untuk mengikisnya jika seseorang mendapati sifat itu ada di dalam dirinya
25. Kemuliaan derajat yang hakiki adalah di sisi Allah (diukur dengan syari’at), tidak diukur dengan pandangan kebanyakan manusia
26. Bisa jadi orang itu tidak dikenal atau rendah dalam pandangan manusia -secara umum-, akan tetapi di sisi Allah dia adalah sosok yang sangat mulia dan dicintai-Nya. Tidakkah kita ingat kisah Uwais al-Qarani seorang tabi’in terbaik namun tidak dikenal orang, diremehkan, dan tidak menyukai popularitas?
27. Pujian dan sanjungan orang lain kepada kita bukanlah standar apalagi jaminan. Sebab ketinggian derajat yang hakiki adalah di sisi-Nya. Oleh sebab itu, tatkala dikabarkan kepada Imam Ahmad oleh muridnya mengenai pujian orang-orang kepadanya, beliaupun berkata, “Wahai Abu Bakar -nama panggilan muridnya-, apabila seseorang telah mengenal jati dirinya, maka tidak lagi bermanfaat ucapan (pujian) orang lain terhadapnya.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil Ilm, hal. 22). Ini adalah Imam Ahmad, seorang yang telah hafal satu juta hadits dan rela mempertaruhkan nyawanya demi menegakkan Sunnah dan membasmi bid’ah. Demikianlah akhlak salaf, aduhai… di manakah posisi kita bila dibandingkan dengan mereka? Jangan-jangan kita ini tergolong orang yang maghrur/tertipu dengan pujian orang lain kepada kita. Orang lain mungkin menyebut kita sebagai ‘anak ngaji’, orang alim, orang soleh, atau bahkan aktifis dakwah. Namun, sesungguhnya kita sendiri mengetahui tentang jati diri kita yang sebenarnya, segala puji hanya bagi Allah yang telah menutupi aib-aib kita di hadapan manusia… Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami
28. Islam menyeru kepada akhlak yang mulia
29. Islam mengajarkan sikap peduli kepada sesama dan agar tidak bersikap masa bodoh terhadap nasib atau keadaan mereka
30. Sesungguhnya ketaatan itu -meskipun terasa sulit atau berat bagi jiwa- pasti akan membuahkan manfaat besar yang kembali kepada pelakunya sendiri. Sebaliknya, kedurhakaan/maksiat itu -meskipun terasa menyenangkan dan enak- maka pasti akan berdampak jelek bagi dirinya sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perkara paling bermanfaat secara mutlak adalah ketaatan manusia kepada Rabbnya secara lahir maupun batin. Adapun perkara paling berbahaya baginya secara mutlak adalah kemaksiatan kepada-Nya secara lahir ataupun batin.” (al-Fawa’id, hal. 89). Allah ta’ala telah menegaskan (yang artinya), “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyenangi sesuatu padahal itu adalah buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui -segala sesuatu-.” (QS. al-Baqarah: 216)
31. Pahala besar bagi orang yang berjiwa besar; yaitu orang yang tidak segan-segan untuk menyisihkan sesuatu yang dicintainya -yaitu harta- guna berinfak di jalan Allah, mau melapangkan dadanya untuk memaafkan kesalahan orang lain kepadanya, serta bersikap tawadhu’ dan tidak meremehkan orang lain.
32. Ketiga macam amal soleh ini -dengan izin Allah- bisa terkumpul dalam diri seseorang. Dia menjadi orang yang dermawan, suka memaafkan, dan juga rendah hati. Perhatikanlah sifat-sifat dan kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya ketiga sifat ini akan kita temukan dalam diri beliau. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah teladan yang baik, yaitu bagi orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)
33. Di samping menyeru kepada persatuan umat Islam -di atas kebenaran- maka Islam juga menyerukan perkara-perkara yang menjadi perantara atau sebab terwujudnya hal itu. Di antaranya adalah dengan menganjurkan 3 hal di atas: suka bersedekah -yang wajib ataupun yang sunnah-, suka memaafkan, dan bersikap rendah hati/tawadhu’. Sesungguhnya, kalau kita mau mencermati kondisi kita di jaman ini -yang diwarnai dengan kekacauan serta fitnah yang timbul di medan dakwah-, akan kita dapati bahwa kebanyakan di antara kita -barangkali- amat sangat kurang dalam menerapkan ketiga hal tadi. Akibat tidak suka bersedekah, banyak kepentingan umat -khususnya dakwah- yang tidak terurus dengan baik. Akibat sulit memaafkan, permusuhan yang tadinya hanya bersifat personal pun akhirnya melebar menjadi permusuhan kelompok. Akibat perasaan lebih tinggi dan gengsi, jalinan ukhuwah yang terkoyak pun seolah tak bisa dijalin kembali. Masing-masing pihak ingin menang sendiri dan berat mendengarkan pandangan atau argumentasi saudaranya. Maka yang terjadi adalah sikap saling menyalahkan, dan kalau perlu menjatuhkan kehormatan saudaranya tanpa alasan yang dibenarkan. Kalau seperti itu caranya, ya tidak akan pernah ketemu… Bisa jadi ini hanya sekedar analisa, namun tidak kecil kemungkinannya itu merupakan realita yang ada, wallahul musta’an. Sebagian orang, setelah selesai mendengar kritikan dari saudaranya seketika itu pula ia memberikan ‘serangan balik’ kepada sang pengkritik. Padahal, nasehat yang didengarnya belum lagi meresap ke dalam akal sehatnya. Karena merasa dirinya telah ‘dilecehkan’ dia pun berkata kepada temannya, “Saya juga punya kritikan kepadamu. Kamu itu begini dan begitu…” Wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- marilah kita bersama-sama berlatih untuk menerima kritik dan nasehat dengan lapang dada (lihat wasiat ke-31 bagi penuntut ilmu, dalam Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilm, hal. 268-269). Ingatlah ucapan seorang Syaikh yang mulia ketika berceramah menegaskan isi nasehat Syaikh Rabi’ bin Hadi -hafizhahullah- dalam Daurah Nasional yang belum lama berlalu di Masjid Agung Bantul Yogyakarta, “Tidak ada seorang insanpun melainkan pasti pernah terjatuh dalam kekeliruan… Namun, yang tercela adalah orang yang tetap bersikukuh mempertahankan kesalahannya.” Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang berjiwa besar, Allahumma amin. Rabbanaghfirlana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil iman, wa laa taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu, Rabbana innaka ra’ufur rahim.
Sumber:www.muslim.or.id
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Harta tidak akan berkurang gara-gara sedekah. Tidaklah seorang hamba memberikan maaf -terhadap kesalahan orang lain- melainkan Allah pasti akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap rendah hati (tawadhu’) karena Allah (ikhlas) melainkan pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/194])
Hadits yang mulia ini memberikan berbagai pelajaran penting bagi kita, di antaranya:
1. Hadits ini menganjurkan kita untuk bersikap ihsan/suka berbuat baik kepada orang lain, entah dengan harta, dengan memaafkan kesalahan mereka, ataupun dengan bersikap tawadhu’ kepada mereka (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
2. Anjuran untuk banyak bersedekah. Karena dengan sedekah itu akan membuat hartanya berbarokah dan terhindar dari bahaya. Terlebih lagi dengan bersedekah akan didapatkan balasan pahala yang berlipat ganda (lihat Syarh Muslim [8/194]). Selain itu, sedekah juga menjadi sebab terbukanya pintu-pintu rezeki (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
3. Anjuran untuk menjauhi sifat bakhil/kikir.
4. Kebakhilan tidak akan menghasilkan keberuntungan
5. Hadits ini menunjukkan keutamaan bersedekah dengan harta
6. Sedekah adalah ibadah
7. Allah mencintai orang yang suka bersedekah -dengan ikhlas tentunya-
8. Terkadang manusia menyangka bahwa sesuatu bermanfaat baginya, namun apabila dicermati dari sudut pandang syari’at maka hal itu justru tidak bermanfaat. Demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu alangkah tidak bijak orang yang menjadikan hawa nafsu, perasaan, ataupun akal pikirannya yang terbatas sebagai standar baik tidaknya sesuatu. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan larangan-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 89)
9. Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya menepis keragu-raguan dan menyingkap kesalahpahaman yang bercokol di dalam hati manusia
10. Memberikan targhib/motivasi merupakan salah satu metode pengajaran yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
11. Hadits ini juga menunjukkan pentingnya memotivasi orang lain untuk beramal salih
12. Anjuran untuk memberikan maaf kepada orang lain yang bersalah kepada kita -secara pribadi-. Dengan demikian -ketika di dunia- maka kedudukannya akan bertambah mulia dan terhormat. Di akherat pun, kedudukannya akan bertambah mulia dan pahalanya bertambah besar jika orang tersebut memiliki sifat pemaaf (lihat Syarh Muslim [8/194]).
13. Di antara hikmah memaafkan kesalahan orang adalah akan bisa merubah musuh menjadi teman -sehingga hal ini bisa menjadi salah satu cara untuk membuka jalan dakwah-, atau bahkan bisa menyebabkan orang lain mudah memberikan bantuan dan pembelaan di saat dia membutuhkannya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
14. Allah mencintai orang yang pemaaf.
15. Anjuran untuk bersikap tawadhu’/rendah hati. Karena dengan kerendahan hati itulah seorang hamba akan bisa memperoleh ketinggian derajat dan kemuliaan, ketika di dunia maupun di akherat kelak (lihat Syarh Muslim [8/194]).
16. Hakekat orang yang tawadhu’ adalah orang yang tunduk kepada kebenaran, patuh kepada perintah dan larangan Allah dan rasul-Nya serta bersikap rendah hati kepada sesama manusia, baik kepada yang masih muda ataupun yang sudah tua. Lawan dari tawadhu’ adalah takabur/sombong (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
17. Allah mencintai orang yang tawadhu’
18. Larangan bersikap takabur; yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain
19. Tawadhu’ yang terpuji adalah yang dilandasi dengan keikhlasan, bukan yang dibuat-buat; yaitu yang timbul karena ada kepentingan dunia yang bersembunyi di baliknya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
20. Yang menjadi penyempurna dan ruh/inti dari ihsan/kebajikan adalah niat yang ikhlas dalam beramal karena Allah (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
21. Ketawadhu’an merupakan salah satu sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah. Di samping ada sebab lainnya seperti; keimanan -dan itu yang paling pokok- serta ilmu yang dimilikinya. Bahkan, ketawadhu’an itu sendiri merupakan buah agung dari iman dan ilmu yang tertanam dalam diri seorang hamba (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
22. Hadits ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk mencari ketinggian dan kemuliaan derajat di sisi-Nya. Sedangkan orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa (lihat QS. al-Hujurat: 13). Dan salah satu kunci ketakwaan adalah kemampuan untuk mengekang hawa nafsu, sehingga orang tidak akan bakhil dengan hartanya, akan mudah memaafkan, dan tidak bersikap arogan ataupun bersikap sombong di hadapan manusia.
23. Hadits ini menunjukkan keutamaan mengekang hawa nafsu dan keharusan untuk menundukkannya kepada syari’at Rabbul ‘alamin
24. Hendaknya menjauhi sebab-sebab yang menyeret kepada sifat-sifat tercela -misalnya; kikir dan sombong- dan berusaha untuk mengikisnya jika seseorang mendapati sifat itu ada di dalam dirinya
25. Kemuliaan derajat yang hakiki adalah di sisi Allah (diukur dengan syari’at), tidak diukur dengan pandangan kebanyakan manusia
26. Bisa jadi orang itu tidak dikenal atau rendah dalam pandangan manusia -secara umum-, akan tetapi di sisi Allah dia adalah sosok yang sangat mulia dan dicintai-Nya. Tidakkah kita ingat kisah Uwais al-Qarani seorang tabi’in terbaik namun tidak dikenal orang, diremehkan, dan tidak menyukai popularitas?
27. Pujian dan sanjungan orang lain kepada kita bukanlah standar apalagi jaminan. Sebab ketinggian derajat yang hakiki adalah di sisi-Nya. Oleh sebab itu, tatkala dikabarkan kepada Imam Ahmad oleh muridnya mengenai pujian orang-orang kepadanya, beliaupun berkata, “Wahai Abu Bakar -nama panggilan muridnya-, apabila seseorang telah mengenal jati dirinya, maka tidak lagi bermanfaat ucapan (pujian) orang lain terhadapnya.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil Ilm, hal. 22). Ini adalah Imam Ahmad, seorang yang telah hafal satu juta hadits dan rela mempertaruhkan nyawanya demi menegakkan Sunnah dan membasmi bid’ah. Demikianlah akhlak salaf, aduhai… di manakah posisi kita bila dibandingkan dengan mereka? Jangan-jangan kita ini tergolong orang yang maghrur/tertipu dengan pujian orang lain kepada kita. Orang lain mungkin menyebut kita sebagai ‘anak ngaji’, orang alim, orang soleh, atau bahkan aktifis dakwah. Namun, sesungguhnya kita sendiri mengetahui tentang jati diri kita yang sebenarnya, segala puji hanya bagi Allah yang telah menutupi aib-aib kita di hadapan manusia… Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami
28. Islam menyeru kepada akhlak yang mulia
29. Islam mengajarkan sikap peduli kepada sesama dan agar tidak bersikap masa bodoh terhadap nasib atau keadaan mereka
30. Sesungguhnya ketaatan itu -meskipun terasa sulit atau berat bagi jiwa- pasti akan membuahkan manfaat besar yang kembali kepada pelakunya sendiri. Sebaliknya, kedurhakaan/maksiat itu -meskipun terasa menyenangkan dan enak- maka pasti akan berdampak jelek bagi dirinya sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perkara paling bermanfaat secara mutlak adalah ketaatan manusia kepada Rabbnya secara lahir maupun batin. Adapun perkara paling berbahaya baginya secara mutlak adalah kemaksiatan kepada-Nya secara lahir ataupun batin.” (al-Fawa’id, hal. 89). Allah ta’ala telah menegaskan (yang artinya), “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyenangi sesuatu padahal itu adalah buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui -segala sesuatu-.” (QS. al-Baqarah: 216)
31. Pahala besar bagi orang yang berjiwa besar; yaitu orang yang tidak segan-segan untuk menyisihkan sesuatu yang dicintainya -yaitu harta- guna berinfak di jalan Allah, mau melapangkan dadanya untuk memaafkan kesalahan orang lain kepadanya, serta bersikap tawadhu’ dan tidak meremehkan orang lain.
32. Ketiga macam amal soleh ini -dengan izin Allah- bisa terkumpul dalam diri seseorang. Dia menjadi orang yang dermawan, suka memaafkan, dan juga rendah hati. Perhatikanlah sifat-sifat dan kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya ketiga sifat ini akan kita temukan dalam diri beliau. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah teladan yang baik, yaitu bagi orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)
33. Di samping menyeru kepada persatuan umat Islam -di atas kebenaran- maka Islam juga menyerukan perkara-perkara yang menjadi perantara atau sebab terwujudnya hal itu. Di antaranya adalah dengan menganjurkan 3 hal di atas: suka bersedekah -yang wajib ataupun yang sunnah-, suka memaafkan, dan bersikap rendah hati/tawadhu’. Sesungguhnya, kalau kita mau mencermati kondisi kita di jaman ini -yang diwarnai dengan kekacauan serta fitnah yang timbul di medan dakwah-, akan kita dapati bahwa kebanyakan di antara kita -barangkali- amat sangat kurang dalam menerapkan ketiga hal tadi. Akibat tidak suka bersedekah, banyak kepentingan umat -khususnya dakwah- yang tidak terurus dengan baik. Akibat sulit memaafkan, permusuhan yang tadinya hanya bersifat personal pun akhirnya melebar menjadi permusuhan kelompok. Akibat perasaan lebih tinggi dan gengsi, jalinan ukhuwah yang terkoyak pun seolah tak bisa dijalin kembali. Masing-masing pihak ingin menang sendiri dan berat mendengarkan pandangan atau argumentasi saudaranya. Maka yang terjadi adalah sikap saling menyalahkan, dan kalau perlu menjatuhkan kehormatan saudaranya tanpa alasan yang dibenarkan. Kalau seperti itu caranya, ya tidak akan pernah ketemu… Bisa jadi ini hanya sekedar analisa, namun tidak kecil kemungkinannya itu merupakan realita yang ada, wallahul musta’an. Sebagian orang, setelah selesai mendengar kritikan dari saudaranya seketika itu pula ia memberikan ‘serangan balik’ kepada sang pengkritik. Padahal, nasehat yang didengarnya belum lagi meresap ke dalam akal sehatnya. Karena merasa dirinya telah ‘dilecehkan’ dia pun berkata kepada temannya, “Saya juga punya kritikan kepadamu. Kamu itu begini dan begitu…” Wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- marilah kita bersama-sama berlatih untuk menerima kritik dan nasehat dengan lapang dada (lihat wasiat ke-31 bagi penuntut ilmu, dalam Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilm, hal. 268-269). Ingatlah ucapan seorang Syaikh yang mulia ketika berceramah menegaskan isi nasehat Syaikh Rabi’ bin Hadi -hafizhahullah- dalam Daurah Nasional yang belum lama berlalu di Masjid Agung Bantul Yogyakarta, “Tidak ada seorang insanpun melainkan pasti pernah terjatuh dalam kekeliruan… Namun, yang tercela adalah orang yang tetap bersikukuh mempertahankan kesalahannya.” Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang berjiwa besar, Allahumma amin. Rabbanaghfirlana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil iman, wa laa taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu, Rabbana innaka ra’ufur rahim.
Sumber:www.muslim.or.id
Kamis, 15 Juli 2010
Bila Cinta Menyapa
‘Cinta bikin orang gila’, begitu kata sebagian orang. Barangkali ada benarnya. Buktinya, banyak kita saksikan para pemuda atau pemudi yang rela melanggar aturan-aturan agama demi mencari keridhaan pacarnya. Alasan mereka, ‘cinta itu membutuhkan pengorbanan’. Kalau berkorban harta atau bahkan nyawa untuk membela agama Allah, tentu tidak kita ingkari. Namun, bagaimana jika yang dikorbankan adalah syariat Islam dan yang dicari bukan keridhaan Ar-Rahman? Semoga tulisan yang ringkas ini bisa menjadi bahan renungan bagi kita bersama, agar cinta yang mengalir di peredaran darah kita tidak berubah menjadi bencana.
Allah ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Di antara manusia ada yang mencintai sekutu-sekutu selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah, adapun orang-orang yang beiman lebih dalam cintanya kepada Allah. Seandainya orang-orang yang zhalim itu menyaksikan tatkala mereka melihat adzab (pada hari kiamat) bahwa sesungguhnya seluruh kekuatan adalah milik Allah dan bahwa Allah sangat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah : 165)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, “Allah menceritakan bahwa mereka (orang musyrik) mencintai pujaan-pujaan mereka/sesembahan tandingan itu sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Maka hal itu menunjukkan bahwa mereka juga mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat besar. Akan tetapi hal itu belum bisa memasukkan mereka ke dalam Islam. Lalu bagaimana jadinya orang yang mencintai pujaan (selain Allah) dengan rasa cinta yang lebih besar daripada kecintaan kepada Allah? Lalu apa jadinya orang yang hanya mencintai pujaan tandingan itu dan sama sekali tidak mencintai Allah?” (sebagaimana dinukil dalam Hasyiyah Kitab Tauhid, hal. 7. islamspirit.com).
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan : “Allah ta’ala menyebutkan tentang kondisi orang-orang musyrik ketika hidup di dunia dan ketika berada di akhirat. Mereka itu telah mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah yaitu [sesembahan-sesembahan] tandingan. Mereka menyembahnya disamping menyembah Allah. Dan mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Dia itu adalah Allah yang tidak ada sesembahan yang hak kecuali Dia, tidak ada yang sanggup menentang-Nya, tidak ada yang bisa menandingi-Nya dan tiada sekutu bersama-Nya. Di dalam Ash-Shahihain [Sahih Bukhari dan Muslim] dari Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu’anhu-, dia berkata : Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang terbesar.” Beliau menjawab : “Yaitu engkau mengangkat selain Allah sebagai sekutu bagi-Nya padahal Dialah yang menciptakanmu.” Sedangkan firman Allah, “adapun orang-orang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.” Hal itu dikarenakan kecintaan mereka (orang yang beriman) ikhlas untuk Allah dan karena kesempurnaan mereka dalam mengenali-Nya, penghormatan dan tauhid mereka kepada-Nya. Mereka tidak mempersekutukan apapun dengan-Nya. Akan tetapi mereka hanya menyembah-Nya semata, bertawakal kepada-Nya dan mengembalikan segala urusan kepada-Nya…” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, I/262)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : “Allah ta’ala mengabarkan bahwasanya barangsiapa yang mencintai sesuatu selain Allah sebagaimana mencintai Allah ta’ala maka dia termasuk kategori orang yang telah menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Syirik ini terjadi dalam hal kecintaan bukan dalam hal penciptaan dan rububiyah… Karena sesungguhnya mayoritas penduduk bumi ini telah mengangkat selain Allah sebagai sekutu dalam perkara cinta dan pengagungan.” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320).
Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah menjelaskan, “Orang-orang musyrik itu menyetarakan sesembahan mereka dengan Allah dalam hal kecintaan dan pengagungan. Inilah pemaknaan ayat tersebut sebagaimana dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah…” (Ibthaalu Tandiid, hal. 180).
Syaikhul Islam mengatakan : “Penyetaraan semacam itulah yang disebutkan di dalam firman Allah ta’ala tatkala menceritakan penyesalan mereka di akhirat ketika berada di neraka. Mereka berkata kepada sesembahan-sesembahan dan sekutu-sekutu mereka dalam keadaan mereka sama-sama mendapatkan adzab (yang artinya) : “Demi Allah, dahulu kami di dunia berada dalam kesesatan yang nyata, karena kami mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.” (QS. Asy-Syu’araa’ : 97-98). Telah dimaklumi bersama, bahwasanya mereka bukan mensejajarkan sesembahan mereka dengan Rabbul ‘alamin dalam hal penciptaan dan rububiyah. Namun mereka hanya mensejejajarkan pujaan-pujaan itu dengan Allah dalam hal cinta dan pengagungan…” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320-321)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan : “Kecintaan orang-orang yang beriman lebih dalam dikarenakan kecintaan tersebut adalah kecintaan yang murni yang tidak terdapat noda syirik di dalamnya. Sehingga kecintaan orang-orang yang beriman menjadi lebih dalam daripada kecintaan mereka (orang-orang kafir) kepada Allah.” (Al-Qaul Al-Mufid, II/4-5).
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa makna ‘orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah’ yaitu apabila dibandingkan dengan kecintaan para pengangkat tandingan itu terhadap sekutu-sekutu mereka. Karena orang-orang yang beriman itu memurnikan cinta untuk Allah, sedangkan mereka mempersekutukan-Nya. Selain itu, mereka juga mencintai sesuatu yang memang layak untuk dicintai, dan kecintaan kepada-Nya merupakan sumber kebaikan, kebahagiaan dan kemenangan hamba. Adapun orang-orang musyrik itu telah mencintai sesuatu yang pada hakikatnya tidak berhak sama sekali untuk dicintai. Dan mencintai tandingan-tandingan itu justru menjadi sumber kebinasaan dan kehancuran hamba serta tercerai-cerainya urusannya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 80).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Sumber terjadinya kesyirikan terhadap Allah adalah syirik dalam perkara cinta. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)…” Beliau menegaskan : “Maksud dari pembicaraan ini adalah bahwasanya hakikat penghambaan tidak akan bisa diraih apabila diiringi dengan kesyirikan kepada Allah dalam urusan cinta. Lain halnya dengan mahabbah lillah. Karena sesungguhnya kecintaan tersebut merupakan salah satu koneskuensi dan tuntutan dari penghambaan kepada Allah. Karena sesungguhnya kecintaan kepada rasul –bahkan harus mendahulukan kecintaan kepadanya daripada kepada diri sendiri, orang tua dan anak-anak- merupakan perkara yang menentukan kesempurnaan iman. Sebab mencintai beliau termasuk bagian dari mencintai Allah. Demikian pula halnya pada kecintaan fillah dan lillah…” (Ad-Daa’ wad-Dawaa’, hal. 212-213)
Buktikan Cintamu!
Dari Anas radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai dia menjadikan aku lebih dicintainya daripada anak, orang tua dan seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata : “Maka keimanan tidak menjadi sempurna sampai Rasul lebih dicintainya daripada seluruh makhluk. Kalau demikian halnya yang seharusnya diterapkan dalam kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bagaimanakah lagi dengan kecintaan kepada Allah ta’ala?!!…” (Al-Qaul Al-Mufid, II/6).
Allah ta’ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
“Katakanlah : Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku.” (QS. Ali-’Imraan : 31). Syaikhul Islam berkata : “Maka tidaklah seseorang menjadi pecinta Allah hingga dia mau tunduk mengikuti Rasulullah.” (lihat Al-’Ubudiyah)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan : “Pokok dari seluruh amal perbuatan adalah rasa suka (cinta). Karena seorang manusia tidaklah melakukan sesuatu kecuali apa yang disukainya, baik dalam rangka mendapatkan manfaat atau untuk menolak madharat. Maka apabila dia melakukan sesuatu tentulah karena dia menyukainya, mungkin karena dzat sesuatu itu sendiri (sebab internal) seperti halnya makanan atau karena sebab eksternal seperti halnya meminum obat. Ibadah kepada Allah itu dibangun di atas pondasi kecintaan. Bahkan rasa cinta itulah hakikat dari ibadah. Sebab apabila anda beribadah tanpa memiliki rasa cinta maka ibadah yang anda perbuat akan terasa hambar dan tidak ada ruhnya. Karena sesungguhnya apabila di dalam hati seorang insan masih terdapat rasa cinta kepada Allah dan keinginan untuk menikmati surga-Nya maka tentunya dia akan menempuh jalan untuk menggapainya…” (Al-Qaul Al-Mufid, II/3)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa yang pada dirinya terdapat ketiganya niscaya akan merasakan manisnya iman; [1] Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, [2] dia mencintai orang lain tidak lain disebabkan cinta karena Allah, [3] dan dia tidak suka kembali kepada kekafiran sebagaimana dia tidak suka untuk dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR. Bukhari [15,20,5581,6428] dan Muslim [60,61] dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Tali keimanan yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [92] dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu disahihkan Al-Albani dalam takhrij Kitabul Iman karya Ibnu Taimiyah).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Tanda kebenaran cinta itu ialah apabila seseorang dihadapkan kepadanya dua perkara, salah satunya dicintai Allah dan Rasul-Nya sementara di dalam dirinya tidak ada keinginan (nafsu) untuk itu, sedangkan perkara yang lain adalah sesuatu yang disukai dan diinginkan oleh nafsunya akan tetapi hal itu akan menghilangkan atau mengurangi perkara yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Apabila ternyata dia lebih memprioritaskan apa yang diinginkan oleh nafsunya di atas apa yang dicintai Allah ini berarti dia telah berbuat zalim dan meninggalkan kewajiban yang seharusnya dilakukannya” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 332).
Maka perhatikanlah wahai saudaraku kecenderungan dan gerak-gerik hatimu, jangan-jangan selama ini engkau telah menobatkan sesembahan selain Allah jauh di dalam lubuk hatimu; entah itu harta, kedudukan, jabatan, benda, atau sesosok manusia. Engkau mengharapkannya, menggantungkan cita-citamu kepadanya, takut kehilangan dirinya sebagaimana rasa takutmu kehilangan bantuan dari Allah ta’ala, sehingga keridhaannya pun menjadi tujuan segala perbuatan dan tingkah lakumu. Halal dan haram tidak lagi kau pedulikan, aturan Allah pun kau lupakan. Aduhai, betapa malang orang-orang yang telah menjadikan makhluk yang lemah dan tak berdaya sebagai tumpuan harapan hidupnya. Sungguh benar Ibnul Qayyim rahimahullah yang mengatakan, “Sesungguhnya mayoritas penduduk bumi ini telah mengangkat selain Allah sebagai sekutu dalam perkara cinta dan pengagungan.” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320).
Semoga Allah menyelamatkan hati kita dari tipu daya Iblis dan bala tentaranya, dan semoga Allah meneguhkan hati kita untuk menjunjung tinggi kecintaan kepada-Nya di atas segala-galanya. Sebab tidak ada lagi yang lebih melegakan hati dan perasaan kita selain tatkala Allah ta’ala telah menetapkan cinta-Nya untuk kita, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi-Nya, segala puji bagi Allah Rabb penguasa seluruh alam semesta.
Penulis: Abu Muslih
Sumber: www.muslim.or.id
Allah ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Di antara manusia ada yang mencintai sekutu-sekutu selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah, adapun orang-orang yang beiman lebih dalam cintanya kepada Allah. Seandainya orang-orang yang zhalim itu menyaksikan tatkala mereka melihat adzab (pada hari kiamat) bahwa sesungguhnya seluruh kekuatan adalah milik Allah dan bahwa Allah sangat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah : 165)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, “Allah menceritakan bahwa mereka (orang musyrik) mencintai pujaan-pujaan mereka/sesembahan tandingan itu sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Maka hal itu menunjukkan bahwa mereka juga mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat besar. Akan tetapi hal itu belum bisa memasukkan mereka ke dalam Islam. Lalu bagaimana jadinya orang yang mencintai pujaan (selain Allah) dengan rasa cinta yang lebih besar daripada kecintaan kepada Allah? Lalu apa jadinya orang yang hanya mencintai pujaan tandingan itu dan sama sekali tidak mencintai Allah?” (sebagaimana dinukil dalam Hasyiyah Kitab Tauhid, hal. 7. islamspirit.com).
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan : “Allah ta’ala menyebutkan tentang kondisi orang-orang musyrik ketika hidup di dunia dan ketika berada di akhirat. Mereka itu telah mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah yaitu [sesembahan-sesembahan] tandingan. Mereka menyembahnya disamping menyembah Allah. Dan mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Dia itu adalah Allah yang tidak ada sesembahan yang hak kecuali Dia, tidak ada yang sanggup menentang-Nya, tidak ada yang bisa menandingi-Nya dan tiada sekutu bersama-Nya. Di dalam Ash-Shahihain [Sahih Bukhari dan Muslim] dari Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu’anhu-, dia berkata : Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang terbesar.” Beliau menjawab : “Yaitu engkau mengangkat selain Allah sebagai sekutu bagi-Nya padahal Dialah yang menciptakanmu.” Sedangkan firman Allah, “adapun orang-orang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.” Hal itu dikarenakan kecintaan mereka (orang yang beriman) ikhlas untuk Allah dan karena kesempurnaan mereka dalam mengenali-Nya, penghormatan dan tauhid mereka kepada-Nya. Mereka tidak mempersekutukan apapun dengan-Nya. Akan tetapi mereka hanya menyembah-Nya semata, bertawakal kepada-Nya dan mengembalikan segala urusan kepada-Nya…” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, I/262)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : “Allah ta’ala mengabarkan bahwasanya barangsiapa yang mencintai sesuatu selain Allah sebagaimana mencintai Allah ta’ala maka dia termasuk kategori orang yang telah menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Syirik ini terjadi dalam hal kecintaan bukan dalam hal penciptaan dan rububiyah… Karena sesungguhnya mayoritas penduduk bumi ini telah mengangkat selain Allah sebagai sekutu dalam perkara cinta dan pengagungan.” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320).
Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah menjelaskan, “Orang-orang musyrik itu menyetarakan sesembahan mereka dengan Allah dalam hal kecintaan dan pengagungan. Inilah pemaknaan ayat tersebut sebagaimana dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah…” (Ibthaalu Tandiid, hal. 180).
Syaikhul Islam mengatakan : “Penyetaraan semacam itulah yang disebutkan di dalam firman Allah ta’ala tatkala menceritakan penyesalan mereka di akhirat ketika berada di neraka. Mereka berkata kepada sesembahan-sesembahan dan sekutu-sekutu mereka dalam keadaan mereka sama-sama mendapatkan adzab (yang artinya) : “Demi Allah, dahulu kami di dunia berada dalam kesesatan yang nyata, karena kami mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.” (QS. Asy-Syu’araa’ : 97-98). Telah dimaklumi bersama, bahwasanya mereka bukan mensejajarkan sesembahan mereka dengan Rabbul ‘alamin dalam hal penciptaan dan rububiyah. Namun mereka hanya mensejejajarkan pujaan-pujaan itu dengan Allah dalam hal cinta dan pengagungan…” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320-321)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan : “Kecintaan orang-orang yang beriman lebih dalam dikarenakan kecintaan tersebut adalah kecintaan yang murni yang tidak terdapat noda syirik di dalamnya. Sehingga kecintaan orang-orang yang beriman menjadi lebih dalam daripada kecintaan mereka (orang-orang kafir) kepada Allah.” (Al-Qaul Al-Mufid, II/4-5).
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa makna ‘orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah’ yaitu apabila dibandingkan dengan kecintaan para pengangkat tandingan itu terhadap sekutu-sekutu mereka. Karena orang-orang yang beriman itu memurnikan cinta untuk Allah, sedangkan mereka mempersekutukan-Nya. Selain itu, mereka juga mencintai sesuatu yang memang layak untuk dicintai, dan kecintaan kepada-Nya merupakan sumber kebaikan, kebahagiaan dan kemenangan hamba. Adapun orang-orang musyrik itu telah mencintai sesuatu yang pada hakikatnya tidak berhak sama sekali untuk dicintai. Dan mencintai tandingan-tandingan itu justru menjadi sumber kebinasaan dan kehancuran hamba serta tercerai-cerainya urusannya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 80).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Sumber terjadinya kesyirikan terhadap Allah adalah syirik dalam perkara cinta. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)…” Beliau menegaskan : “Maksud dari pembicaraan ini adalah bahwasanya hakikat penghambaan tidak akan bisa diraih apabila diiringi dengan kesyirikan kepada Allah dalam urusan cinta. Lain halnya dengan mahabbah lillah. Karena sesungguhnya kecintaan tersebut merupakan salah satu koneskuensi dan tuntutan dari penghambaan kepada Allah. Karena sesungguhnya kecintaan kepada rasul –bahkan harus mendahulukan kecintaan kepadanya daripada kepada diri sendiri, orang tua dan anak-anak- merupakan perkara yang menentukan kesempurnaan iman. Sebab mencintai beliau termasuk bagian dari mencintai Allah. Demikian pula halnya pada kecintaan fillah dan lillah…” (Ad-Daa’ wad-Dawaa’, hal. 212-213)
Buktikan Cintamu!
Dari Anas radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai dia menjadikan aku lebih dicintainya daripada anak, orang tua dan seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata : “Maka keimanan tidak menjadi sempurna sampai Rasul lebih dicintainya daripada seluruh makhluk. Kalau demikian halnya yang seharusnya diterapkan dalam kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bagaimanakah lagi dengan kecintaan kepada Allah ta’ala?!!…” (Al-Qaul Al-Mufid, II/6).
Allah ta’ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
“Katakanlah : Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku.” (QS. Ali-’Imraan : 31). Syaikhul Islam berkata : “Maka tidaklah seseorang menjadi pecinta Allah hingga dia mau tunduk mengikuti Rasulullah.” (lihat Al-’Ubudiyah)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan : “Pokok dari seluruh amal perbuatan adalah rasa suka (cinta). Karena seorang manusia tidaklah melakukan sesuatu kecuali apa yang disukainya, baik dalam rangka mendapatkan manfaat atau untuk menolak madharat. Maka apabila dia melakukan sesuatu tentulah karena dia menyukainya, mungkin karena dzat sesuatu itu sendiri (sebab internal) seperti halnya makanan atau karena sebab eksternal seperti halnya meminum obat. Ibadah kepada Allah itu dibangun di atas pondasi kecintaan. Bahkan rasa cinta itulah hakikat dari ibadah. Sebab apabila anda beribadah tanpa memiliki rasa cinta maka ibadah yang anda perbuat akan terasa hambar dan tidak ada ruhnya. Karena sesungguhnya apabila di dalam hati seorang insan masih terdapat rasa cinta kepada Allah dan keinginan untuk menikmati surga-Nya maka tentunya dia akan menempuh jalan untuk menggapainya…” (Al-Qaul Al-Mufid, II/3)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa yang pada dirinya terdapat ketiganya niscaya akan merasakan manisnya iman; [1] Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, [2] dia mencintai orang lain tidak lain disebabkan cinta karena Allah, [3] dan dia tidak suka kembali kepada kekafiran sebagaimana dia tidak suka untuk dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR. Bukhari [15,20,5581,6428] dan Muslim [60,61] dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Tali keimanan yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [92] dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu disahihkan Al-Albani dalam takhrij Kitabul Iman karya Ibnu Taimiyah).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Tanda kebenaran cinta itu ialah apabila seseorang dihadapkan kepadanya dua perkara, salah satunya dicintai Allah dan Rasul-Nya sementara di dalam dirinya tidak ada keinginan (nafsu) untuk itu, sedangkan perkara yang lain adalah sesuatu yang disukai dan diinginkan oleh nafsunya akan tetapi hal itu akan menghilangkan atau mengurangi perkara yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Apabila ternyata dia lebih memprioritaskan apa yang diinginkan oleh nafsunya di atas apa yang dicintai Allah ini berarti dia telah berbuat zalim dan meninggalkan kewajiban yang seharusnya dilakukannya” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 332).
Maka perhatikanlah wahai saudaraku kecenderungan dan gerak-gerik hatimu, jangan-jangan selama ini engkau telah menobatkan sesembahan selain Allah jauh di dalam lubuk hatimu; entah itu harta, kedudukan, jabatan, benda, atau sesosok manusia. Engkau mengharapkannya, menggantungkan cita-citamu kepadanya, takut kehilangan dirinya sebagaimana rasa takutmu kehilangan bantuan dari Allah ta’ala, sehingga keridhaannya pun menjadi tujuan segala perbuatan dan tingkah lakumu. Halal dan haram tidak lagi kau pedulikan, aturan Allah pun kau lupakan. Aduhai, betapa malang orang-orang yang telah menjadikan makhluk yang lemah dan tak berdaya sebagai tumpuan harapan hidupnya. Sungguh benar Ibnul Qayyim rahimahullah yang mengatakan, “Sesungguhnya mayoritas penduduk bumi ini telah mengangkat selain Allah sebagai sekutu dalam perkara cinta dan pengagungan.” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320).
Semoga Allah menyelamatkan hati kita dari tipu daya Iblis dan bala tentaranya, dan semoga Allah meneguhkan hati kita untuk menjunjung tinggi kecintaan kepada-Nya di atas segala-galanya. Sebab tidak ada lagi yang lebih melegakan hati dan perasaan kita selain tatkala Allah ta’ala telah menetapkan cinta-Nya untuk kita, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi-Nya, segala puji bagi Allah Rabb penguasa seluruh alam semesta.
Penulis: Abu Muslih
Sumber: www.muslim.or.id
Rabu, 23 Juni 2010
KESEMUTAN PERTANDA PENYAKIT SERIUS?
oleh: Dr. Avie Andriyani Ummu shofiyyah
Terkadang kita mersakan kesemutan ketika sedang mengetik atau duduk bersila terlalu lama. Kesemutan memang sudah tidak asing lagi bagi kita, karena hamper semua orang pernah merasakannya. Walaupun kelihatannya sepele, kesemutan sering menimbulkan rasa tidak nyaman. Selain itu, kesemutan juga bias menjadi salah satu tanda adanya gangguan saraf dan gejala penyakit serius. Pada kesempatan kali ini, diangkat pembahasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesemutan, termasuk beberapa kiat untuk mencegahnya.
Apakah Kesemutan Itu?
Kesemutan dalam ilmu kedokteran merupakan sebuah gejala gangguan pada fungsi saraf atau aliran darah yang mengakibatkan terjadinya perubahan sensasi yang tidak terasa menjadi kesemutan, baal (sensasi tebal), atau sedikit nyeri bila anggota tubuh bergerak sedikit saja. Gangguan fungsi saraf bias terjadi karena ada kerusakan pada saraf. Ada pula karena gangguan aliran darah yang menimbulkan pemberian makanan di saraf terhambat dan menyebabkan kesemutan. Penyebabnya bermacam-macam, bisa hanya karena tangan kita tertekuk lama atau tertindih sehingga menghambat aliran darah dan menjadi kesemutan atau bisa juga karena adanya penyakit-penyakit tertentu.
Kapan Harus Waspada?
Kita harus waspada jika ada tanda-tanda seperti kesemutan yang tidak hilang setelah bagian tubuh digerak-gerakkan, atau bila pada awalnya haya terasa di dua jari kemudian menjalar ke semua jari, lalu merambat ke tangan, atau semula hanya dialami sebagian kecil organ tubuh namun kemudian merambat ke bagian tubuh yang lebih luas, atau bila semula hanya terjadi sekali-sekali kemudian menjadi semakin sering, atau bila kesemutan menjadi rasa kebal. Jika kita mengalami gejala-gejala semacam ini, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan menyelidiki bagian tubuh yang mengalamii kesemutan, meliputi luasnya, tempat awal kesemutan, dan perkembangan kesemutan itu sejak awal. Semua informasi ini akan menunjukkan penyebab terjadinya kesemutan. Barangkali ada gangguan pada saraf tepi, otot, sumsum tulang belakang, atau mungkin otak.
Gejala Penyakit Serius
Kita perlu mengetahui beberapa penyakit serius yang ditandai gejala kesemutan, antara lain:
1. Carpal Tunnel Syndrome. Gejalanya berupa kesemutan yang menyerang ujung jari tangan kanan dan kemudian berkembang menjadi rasa tebal saat digunakan beraktivitas. Gejala kesemutan ini berkaitan dengan rogga di pergelangan tangan yang mengalami pembesaran otot-otot sehingga menekan saarf yang melewati terowongan tersebut. CTS bisa menjadi gangguan lebih serius bila dibiarkan cukup lama, misalnya 1-2 tahun. Pada tahanp ini tekanan otot sudah menganggu aliran darah ke tangan, dan mengakibatkan otot-otot yang mengalami kekurangan nutrisi akan mengecil, dan akibatnya bisa melemahkan otot.
2. Diabetes Mellitus. Pada penderita kencing manis, kesemutan adalah gejala kerusakan pembuluh-pembuluh dara. Akibatnya, darah yang mengalir di ujung-unjung saraf berkurang. Gejala yang dirasakan biasanya telapak kaki terasa tebal, kadang-kadang panas, dan kesemutan di ujung jari terus-menerus. Kemudian disertai rasa nyeri yang menikam, seperti ditusuk-tusuk di ujung telapak kaki, terutama pada malam hari.
3. Radang Sumsum Tulang Belakang. Terjadi pada orang dewasa, kadang-kadang gejala kesemutan didahului oleh flu berat. Kesemutan yang dirasakan akan menghebat, naik dari ujung jari kaki sampai ke pusar. Gejalanya berkembang menjadi rasa tebal di permukaan kulit. Setelah fase ini, penderita akan mengalami kesulitan berjalan. Ini adalah gejala radang sumsum tulang belakang, yang terjadi karena serangan virus bernama cytomegalovirus. Pada kasus seperti ini, penderita menjadi tidak bisa mengontrol buang air kecil, dan buang air besar juga sulit. Penyakit ini dapat disembuhkan total, dapat pula Cuma sembuh sebagian, tetapi ada juga yang sampai lumpuh.
4. Jantung. Pada penderita sakit jantung, kesemutan dapat juga timbul karena komplikasi jantung dan sarafnya.
5. Rematik. Penyakit yang satu ini juga bisa menimbulkan kesemutan atau rasa tebal. Gejala kesemutan karena rematik ini akan hilang bila rematiknya sembuh.
6. Stroke. Pada penderita stroke, bila yang terserang sistem otorik, maka bisa berakibat lumpuh. Namun, bila yang terserang sistem sensorik, yang dirasakan penderita hanya kesemutan atau baal sebelah, yang disebut sensorik stroke.
Anak-Anak Juga Bisa Mengalaminya
Jika si kecil mengeluh kesemutan, besar kemungkinan akibat kekurangan vitamin B. Biasanya ini diderita anak-anak yang agak besar, berbeda dengan orang dewasa, kesemutan pada anak jarang terjadi, karena jaringan sarafnya masih fleksibel dan anak-anak biasanya lebih aktif bergerak. Untuk mencegahnya, kita bisa memberikan makanan yang banyak mengandung vitamin B seperti daging, hati, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. Vitamin B bisa membantu mengaktifkan sistem saraf dengan membantu profduksi neurotransmiter-koenzim pembawa rangsangan pesan dari satu sel saraf ke sel saraf yang lain.
Kiat menghindari kesemutan
Ada beberapa kiat yang bisa kita praktekkan untuk menghindari kesemutan, antara lain:
- Jika sedang duduk bersila, sesekali ubahlah posisi, jika awalnya kaki kanan diatas kaki kiri, maka lakukan sebaliknya. Selain itu, hindari duduk di kursi dengan menyilangkan kaki terlalu lama.
- Bagi yang bekerja dengan menggunakan komputer, sebaiknya membiasakan mengetik dengan pergelangan tangan tidak menyentuh meja. Untuk itu, hendaknya mengetik dengan posisi duduk di kursi yang tingginya proporsional dengan meja dan keyboard.
- Hindari kebiasaan bertopang dagu dan berdiri disamping meja sambil menopang badan sebelah tangan.
- Jika anda termasuk orang yang banyak melakukan gerakan-gerakan ketika sedang tertidur, sebaiknya pilih alas tidur yang tidak keras. Supaya tidak terjadi benturan yang bisa menybebabkan gangguan saraf.
- Hindari posisi tidur dengan meletakkan tangan di belakang kepala atau tertidur sambil duduk dengan osisi ketiak di sandaran kursi.
- Jangan menulis dengan posisi tengkuranp, tapi duduklah di kursi dengan pantat merapat ke belakang dan punggung lurus menempel pada sandara.
- Sebagai umat Mulim, maka hendaklah kita menjauhi minuman keras. Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah melarang meminum khamr/minuman keras karena dapat menimbulkan kemadharatan (bahaya). Di antaranya, para penggemar minuman keras lebih mudah mengalami kesemutan, bila takaran alkohol yang merasuki tubuhnya terlalu banyak. Hal ini akibat alkohol mersak metabolisme vitamin B1, timbullah gangguan pada saraf. Tentu saja, karena vitamin ini salah satu unsur yang diperlukan untuk penghantaran rangsang listrik pada saraf.
- Banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin B untuk menjaga kesehatan saraf.
Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 04 Thn. XIII
Terkadang kita mersakan kesemutan ketika sedang mengetik atau duduk bersila terlalu lama. Kesemutan memang sudah tidak asing lagi bagi kita, karena hamper semua orang pernah merasakannya. Walaupun kelihatannya sepele, kesemutan sering menimbulkan rasa tidak nyaman. Selain itu, kesemutan juga bias menjadi salah satu tanda adanya gangguan saraf dan gejala penyakit serius. Pada kesempatan kali ini, diangkat pembahasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesemutan, termasuk beberapa kiat untuk mencegahnya.
Apakah Kesemutan Itu?
Kesemutan dalam ilmu kedokteran merupakan sebuah gejala gangguan pada fungsi saraf atau aliran darah yang mengakibatkan terjadinya perubahan sensasi yang tidak terasa menjadi kesemutan, baal (sensasi tebal), atau sedikit nyeri bila anggota tubuh bergerak sedikit saja. Gangguan fungsi saraf bias terjadi karena ada kerusakan pada saraf. Ada pula karena gangguan aliran darah yang menimbulkan pemberian makanan di saraf terhambat dan menyebabkan kesemutan. Penyebabnya bermacam-macam, bisa hanya karena tangan kita tertekuk lama atau tertindih sehingga menghambat aliran darah dan menjadi kesemutan atau bisa juga karena adanya penyakit-penyakit tertentu.
Kapan Harus Waspada?
Kita harus waspada jika ada tanda-tanda seperti kesemutan yang tidak hilang setelah bagian tubuh digerak-gerakkan, atau bila pada awalnya haya terasa di dua jari kemudian menjalar ke semua jari, lalu merambat ke tangan, atau semula hanya dialami sebagian kecil organ tubuh namun kemudian merambat ke bagian tubuh yang lebih luas, atau bila semula hanya terjadi sekali-sekali kemudian menjadi semakin sering, atau bila kesemutan menjadi rasa kebal. Jika kita mengalami gejala-gejala semacam ini, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan menyelidiki bagian tubuh yang mengalamii kesemutan, meliputi luasnya, tempat awal kesemutan, dan perkembangan kesemutan itu sejak awal. Semua informasi ini akan menunjukkan penyebab terjadinya kesemutan. Barangkali ada gangguan pada saraf tepi, otot, sumsum tulang belakang, atau mungkin otak.
Gejala Penyakit Serius
Kita perlu mengetahui beberapa penyakit serius yang ditandai gejala kesemutan, antara lain:
1. Carpal Tunnel Syndrome. Gejalanya berupa kesemutan yang menyerang ujung jari tangan kanan dan kemudian berkembang menjadi rasa tebal saat digunakan beraktivitas. Gejala kesemutan ini berkaitan dengan rogga di pergelangan tangan yang mengalami pembesaran otot-otot sehingga menekan saarf yang melewati terowongan tersebut. CTS bisa menjadi gangguan lebih serius bila dibiarkan cukup lama, misalnya 1-2 tahun. Pada tahanp ini tekanan otot sudah menganggu aliran darah ke tangan, dan mengakibatkan otot-otot yang mengalami kekurangan nutrisi akan mengecil, dan akibatnya bisa melemahkan otot.
2. Diabetes Mellitus. Pada penderita kencing manis, kesemutan adalah gejala kerusakan pembuluh-pembuluh dara. Akibatnya, darah yang mengalir di ujung-unjung saraf berkurang. Gejala yang dirasakan biasanya telapak kaki terasa tebal, kadang-kadang panas, dan kesemutan di ujung jari terus-menerus. Kemudian disertai rasa nyeri yang menikam, seperti ditusuk-tusuk di ujung telapak kaki, terutama pada malam hari.
3. Radang Sumsum Tulang Belakang. Terjadi pada orang dewasa, kadang-kadang gejala kesemutan didahului oleh flu berat. Kesemutan yang dirasakan akan menghebat, naik dari ujung jari kaki sampai ke pusar. Gejalanya berkembang menjadi rasa tebal di permukaan kulit. Setelah fase ini, penderita akan mengalami kesulitan berjalan. Ini adalah gejala radang sumsum tulang belakang, yang terjadi karena serangan virus bernama cytomegalovirus. Pada kasus seperti ini, penderita menjadi tidak bisa mengontrol buang air kecil, dan buang air besar juga sulit. Penyakit ini dapat disembuhkan total, dapat pula Cuma sembuh sebagian, tetapi ada juga yang sampai lumpuh.
4. Jantung. Pada penderita sakit jantung, kesemutan dapat juga timbul karena komplikasi jantung dan sarafnya.
5. Rematik. Penyakit yang satu ini juga bisa menimbulkan kesemutan atau rasa tebal. Gejala kesemutan karena rematik ini akan hilang bila rematiknya sembuh.
6. Stroke. Pada penderita stroke, bila yang terserang sistem otorik, maka bisa berakibat lumpuh. Namun, bila yang terserang sistem sensorik, yang dirasakan penderita hanya kesemutan atau baal sebelah, yang disebut sensorik stroke.
Anak-Anak Juga Bisa Mengalaminya
Jika si kecil mengeluh kesemutan, besar kemungkinan akibat kekurangan vitamin B. Biasanya ini diderita anak-anak yang agak besar, berbeda dengan orang dewasa, kesemutan pada anak jarang terjadi, karena jaringan sarafnya masih fleksibel dan anak-anak biasanya lebih aktif bergerak. Untuk mencegahnya, kita bisa memberikan makanan yang banyak mengandung vitamin B seperti daging, hati, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. Vitamin B bisa membantu mengaktifkan sistem saraf dengan membantu profduksi neurotransmiter-koenzim pembawa rangsangan pesan dari satu sel saraf ke sel saraf yang lain.
Kiat menghindari kesemutan
Ada beberapa kiat yang bisa kita praktekkan untuk menghindari kesemutan, antara lain:
- Jika sedang duduk bersila, sesekali ubahlah posisi, jika awalnya kaki kanan diatas kaki kiri, maka lakukan sebaliknya. Selain itu, hindari duduk di kursi dengan menyilangkan kaki terlalu lama.
- Bagi yang bekerja dengan menggunakan komputer, sebaiknya membiasakan mengetik dengan pergelangan tangan tidak menyentuh meja. Untuk itu, hendaknya mengetik dengan posisi duduk di kursi yang tingginya proporsional dengan meja dan keyboard.
- Hindari kebiasaan bertopang dagu dan berdiri disamping meja sambil menopang badan sebelah tangan.
- Jika anda termasuk orang yang banyak melakukan gerakan-gerakan ketika sedang tertidur, sebaiknya pilih alas tidur yang tidak keras. Supaya tidak terjadi benturan yang bisa menybebabkan gangguan saraf.
- Hindari posisi tidur dengan meletakkan tangan di belakang kepala atau tertidur sambil duduk dengan osisi ketiak di sandaran kursi.
- Jangan menulis dengan posisi tengkuranp, tapi duduklah di kursi dengan pantat merapat ke belakang dan punggung lurus menempel pada sandara.
- Sebagai umat Mulim, maka hendaklah kita menjauhi minuman keras. Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah melarang meminum khamr/minuman keras karena dapat menimbulkan kemadharatan (bahaya). Di antaranya, para penggemar minuman keras lebih mudah mengalami kesemutan, bila takaran alkohol yang merasuki tubuhnya terlalu banyak. Hal ini akibat alkohol mersak metabolisme vitamin B1, timbullah gangguan pada saraf. Tentu saja, karena vitamin ini salah satu unsur yang diperlukan untuk penghantaran rangsang listrik pada saraf.
- Banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin B untuk menjaga kesehatan saraf.
Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 04 Thn. XIII
Sabtu, 19 Juni 2010
ROKET AIR
A)Definisi
Roket air adalah sebuah pesawat sederhana yang dapat kita buat hanya dengan modal kemauan dan keterampilan. Roket air dibuat untuk banyak proses ada yaitu; tekanan udara, untuk mengukur ketinggian dan kecepatan udara. Tetapi yang sangat di tonjolkan pada Hukum tekanan udara. Roket ini dibuat dengan botol bekas yang banyak di beli oleh masyarakat yaitu botol soft drink. Mengapa botol soft drink yang kita pakai? Karena botol soft drink memiliki bahan yang kuat terhadap tekanan udara. Hal itu dapat dibuktikan suatu prodak minnuman bersoda memiliki kandungan gas karbon dioksida yang apabila botol tersebut di Shake (kocok), botol terebut akan mengeras karena tekanan udara yang ingin keluar tidak bisa keluar dan menyebabkan udara tersebut menekan lapisan botol supaya udara tersebut keluar. Ini merupakan aplikasi dari tugas Fisika yaitu tentang tekanan udara, karena tekanan udara jika di aplikasikan seperti ini di mudahkan untuk memahami sebuah materi dan dapat juga belajar bermain.
B)Bahan dan alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:
Bahan pembuatan roket:
Botol bekas (soft drink) : 3 buah
Pentil Motor : 1 buah
Fiberglass/toples bekas : 1 pasang
Mur untuk pentil : 1 buah
PiloX atau pewarna lainnya : bebas
Lem sifatnya sangat kuat : 1 buah
Air berwarna/tawar dan dicampur detergen/baking soda : 150 ml
Bahan pembuatan dudukan roket:
Pipa 1 meter dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:
8 cm : 4 buah
11 cm : 1 buah
5 cm : 3 buah
6 cm : 1 buah
3 cm : 2 buah
Pipa berbentuk L : 10 buah
Pipa berbentuk T : 9 buah
Lem Pipa : 1 buah
Pengait pentil motor : 1 buah
Selang kecil putih : 1,5 meter
Alat:
Gergaji
Gunting
Pompa dengan pengukur tekanan
Penggaris
Pensil
C)Cara Pembuatan Roket Air
a) Langkah pertama dalam membuat proses roket air yaitu dengan membuat roketnya terlebih dahulu.
b) Pilihlah botol soft drink sesuai dengan kekuatan tekanan yang besar.
c) Berikutnya potonglah 1 botol tersebut dari pantat botol 1 cm.
d) Gabungkan botol yang telah dipotong dengan botol satunya lagi dengan erat dan lurus.
e) Ambilah botol yang terakhir dan potonglah sisi botol yang tidak ada lekukan. Untuk di gabungkan dengan botol yang tidak dipotong di sisi bawah sesudah leher botol.
f) Rekatkan sambungan semua itu dengan lem power glue atau sebagainya.
g) Keringkanlah dibawah pohon untuk diangin-anginkan.
h) Sambil menunnggu mengering, kita membuat lubang untuk memberikan tekan supaya meluncur ke atas.
i) Kita membutuhkan tutup botol. Lubangi tutup itu dengan gunting tepat ditengah botol.
j) Setelah itu coba masukan pentil motor ke lubang itu. Apabila tidak bisa, kita bolongi sedikit lagi supaya dapat masuk pentil tersebut.
k) Berikutnya, eratkan tutup botol tersebut dan pentil dengan mur dengan cara di kunci.
l) Jika sudah kita langsung membuat kedudukan untuk roket.
m) Kita pilih terlebih dahulu paralon yang bagus dan kuat untuk menjadikan kedudukan roket.
n) Potong pipa panjang dengan ukur seperti berikut;
UKURAN PIPA
JUMLAH PIPA YANG DI GUNAKAN
8 cm: 4 buah
11 cm: 1 buah
5 cm: 3 buah
6 cm: 1 buah
3 cm: 2 buah
o)Lalu gabungkan semua potongan pipa tersebut dengan pipa L dan T, dengan peta skema berikut;
Keterangan:
p) Dan rakitlah dudukan diatas menjadi dudukan yang sempurna sesuia dengan symbol yang telah diberikan.
q) Lalu pasanglah roket diujung pipa untuk memulai meluncurkan roket tersebut.
r) Pertama isilah roket tersebut di sisi bawah dan letakkan dipengait yang berada di ujung pipa.
s) Pasanglah pentil yang berada di selang panjang ke pengait pompa.
t) Pompalah air yang berada didalam roket dengan tekanan udara 3,5 samapai 4.5.
u) Lepaskan pentil yang berada di pompa dan kemudian lepaskan pentil yang kedua di pengait yang ada di ujung pipa (hati-hati terhadap tekanan udara memuncratkan air ke sekitar peluncuran roket).
v) Dan roket pun meluncur dengan kekuatan kurang lebih 1 km perjam.
Roket air adalah sebuah pesawat sederhana yang dapat kita buat hanya dengan modal kemauan dan keterampilan. Roket air dibuat untuk banyak proses ada yaitu; tekanan udara, untuk mengukur ketinggian dan kecepatan udara. Tetapi yang sangat di tonjolkan pada Hukum tekanan udara. Roket ini dibuat dengan botol bekas yang banyak di beli oleh masyarakat yaitu botol soft drink. Mengapa botol soft drink yang kita pakai? Karena botol soft drink memiliki bahan yang kuat terhadap tekanan udara. Hal itu dapat dibuktikan suatu prodak minnuman bersoda memiliki kandungan gas karbon dioksida yang apabila botol tersebut di Shake (kocok), botol terebut akan mengeras karena tekanan udara yang ingin keluar tidak bisa keluar dan menyebabkan udara tersebut menekan lapisan botol supaya udara tersebut keluar. Ini merupakan aplikasi dari tugas Fisika yaitu tentang tekanan udara, karena tekanan udara jika di aplikasikan seperti ini di mudahkan untuk memahami sebuah materi dan dapat juga belajar bermain.
B)Bahan dan alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:
Bahan pembuatan roket:
Botol bekas (soft drink) : 3 buah
Pentil Motor : 1 buah
Fiberglass/toples bekas : 1 pasang
Mur untuk pentil : 1 buah
PiloX atau pewarna lainnya : bebas
Lem sifatnya sangat kuat : 1 buah
Air berwarna/tawar dan dicampur detergen/baking soda : 150 ml
Bahan pembuatan dudukan roket:
Pipa 1 meter dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:
8 cm : 4 buah
11 cm : 1 buah
5 cm : 3 buah
6 cm : 1 buah
3 cm : 2 buah
Pipa berbentuk L : 10 buah
Pipa berbentuk T : 9 buah
Lem Pipa : 1 buah
Pengait pentil motor : 1 buah
Selang kecil putih : 1,5 meter
Alat:
Gergaji
Gunting
Pompa dengan pengukur tekanan
Penggaris
Pensil
C)Cara Pembuatan Roket Air
a) Langkah pertama dalam membuat proses roket air yaitu dengan membuat roketnya terlebih dahulu.
b) Pilihlah botol soft drink sesuai dengan kekuatan tekanan yang besar.
c) Berikutnya potonglah 1 botol tersebut dari pantat botol 1 cm.
d) Gabungkan botol yang telah dipotong dengan botol satunya lagi dengan erat dan lurus.
e) Ambilah botol yang terakhir dan potonglah sisi botol yang tidak ada lekukan. Untuk di gabungkan dengan botol yang tidak dipotong di sisi bawah sesudah leher botol.
f) Rekatkan sambungan semua itu dengan lem power glue atau sebagainya.
g) Keringkanlah dibawah pohon untuk diangin-anginkan.
h) Sambil menunnggu mengering, kita membuat lubang untuk memberikan tekan supaya meluncur ke atas.
i) Kita membutuhkan tutup botol. Lubangi tutup itu dengan gunting tepat ditengah botol.
j) Setelah itu coba masukan pentil motor ke lubang itu. Apabila tidak bisa, kita bolongi sedikit lagi supaya dapat masuk pentil tersebut.
k) Berikutnya, eratkan tutup botol tersebut dan pentil dengan mur dengan cara di kunci.
l) Jika sudah kita langsung membuat kedudukan untuk roket.
m) Kita pilih terlebih dahulu paralon yang bagus dan kuat untuk menjadikan kedudukan roket.
n) Potong pipa panjang dengan ukur seperti berikut;
UKURAN PIPA
JUMLAH PIPA YANG DI GUNAKAN
8 cm: 4 buah
11 cm: 1 buah
5 cm: 3 buah
6 cm: 1 buah
3 cm: 2 buah
o)Lalu gabungkan semua potongan pipa tersebut dengan pipa L dan T, dengan peta skema berikut;
Keterangan:
p) Dan rakitlah dudukan diatas menjadi dudukan yang sempurna sesuia dengan symbol yang telah diberikan.
q) Lalu pasanglah roket diujung pipa untuk memulai meluncurkan roket tersebut.
r) Pertama isilah roket tersebut di sisi bawah dan letakkan dipengait yang berada di ujung pipa.
s) Pasanglah pentil yang berada di selang panjang ke pengait pompa.
t) Pompalah air yang berada didalam roket dengan tekanan udara 3,5 samapai 4.5.
u) Lepaskan pentil yang berada di pompa dan kemudian lepaskan pentil yang kedua di pengait yang ada di ujung pipa (hati-hati terhadap tekanan udara memuncratkan air ke sekitar peluncuran roket).
v) Dan roket pun meluncur dengan kekuatan kurang lebih 1 km perjam.
Kamis, 22 April 2010
Ibrahim Handoko Nominasi Peneliti Remaja Terbaik 2010 di Jerman
Satu lagi anak bangsa yang moncer di luar negeri, tepatnya di negerinya Adolf Hitler, di Jerman. ABG yang bernama Ibrahim Handoko ini masuk sebagai Nominasi Peneliti Remaja Terbaik 2010 di Jerman gara – gara dia bisa menyelesaikan perhitungan angka piramida menggunakan rumus dan formula ciptaannya sendiri. Prestasinya ini membikin bule – bule di jerman bikin geleng – geleng kepala. Nah, daripada lihat orang – orang tua di DPR/MPR, menteri & pejabat yang sibuk korupsi dan sibuk menutupi belangnya, mendingan anda baca kabar selengkapnya yang saya cuplik dari detiknews.com.
Rumus-Piramida-Ibrahim-Handoko
Kamis, 25/02/2010 05:18 WIB
Temukan Rumus Angka Piramida, Remaja RI Disorot Media Jerman
Berlin – Seorang remaja Indonesia Ibrahim Handoko (15) mencuri perhatian media-media di Jerman. Ibrahim berhasil memformulasikan persamaan untuk menyelesaikan perhitungan angka piramida dengan jumlah tidak terbatas.
Ibrahim, remaja santun yang juga aktif di berbagai kegiatan masjid ini mengundang decak kagum dari para pengajarnya di Jerman.
Seperti yang dilansir dari situs berita jerman www.derwesten.de, Kamis (25/2/2010) guru matematika dan pembimbing Ibrahim, Michael Wallau mengatakan muridnya adalah seorang yang luar biasa.
“Ini adalah temuan yang luar biasa bagi seorang remaja berusia 15 tahun, terlebih lagi ia menyelesaikan persamaan ini hanya disela-sela waktu luangnya,“ ujar Wallau pada derwesten.de.
Pada awalnya, Ibrahim hanya berniat membantu adik perempuannya menyelesaikan tugas sekolah tentang piramida. Persoalan ini pada intinya adalah menghitung jumlah angka pada elemen teratas suatu piramida.
Biasanya, persoalan ini diselesaikan dengan cara menjumlahkan satu persatu angka di setiap elemen penyusun pramida sehingga ditemukan jumlah total dalam piramida tersebut. Dengan rumus temuan Ibrahim, persoalan ini bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat tanpa harus menghitung satu persatu.
Berkat penemuannya ini, Ibrahim menjadi salah satu nominasi peneliti remaja terbaik tahun 2010 di Jerman. Selain itu, putra pasangan Bapak Budi Handoko dan Ibu Nuningsih ini, juga terpilih sebagai matematikawan terbaik dan berhak mewakili distriknya dalam olimpiade matematika di tingkat negara bagian.
Sumber: www.detiknews.com
Rumus-Piramida-Ibrahim-Handoko
Kamis, 25/02/2010 05:18 WIB
Temukan Rumus Angka Piramida, Remaja RI Disorot Media Jerman
Berlin – Seorang remaja Indonesia Ibrahim Handoko (15) mencuri perhatian media-media di Jerman. Ibrahim berhasil memformulasikan persamaan untuk menyelesaikan perhitungan angka piramida dengan jumlah tidak terbatas.
Ibrahim, remaja santun yang juga aktif di berbagai kegiatan masjid ini mengundang decak kagum dari para pengajarnya di Jerman.
Seperti yang dilansir dari situs berita jerman www.derwesten.de, Kamis (25/2/2010) guru matematika dan pembimbing Ibrahim, Michael Wallau mengatakan muridnya adalah seorang yang luar biasa.
“Ini adalah temuan yang luar biasa bagi seorang remaja berusia 15 tahun, terlebih lagi ia menyelesaikan persamaan ini hanya disela-sela waktu luangnya,“ ujar Wallau pada derwesten.de.
Pada awalnya, Ibrahim hanya berniat membantu adik perempuannya menyelesaikan tugas sekolah tentang piramida. Persoalan ini pada intinya adalah menghitung jumlah angka pada elemen teratas suatu piramida.
Biasanya, persoalan ini diselesaikan dengan cara menjumlahkan satu persatu angka di setiap elemen penyusun pramida sehingga ditemukan jumlah total dalam piramida tersebut. Dengan rumus temuan Ibrahim, persoalan ini bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat tanpa harus menghitung satu persatu.
Berkat penemuannya ini, Ibrahim menjadi salah satu nominasi peneliti remaja terbaik tahun 2010 di Jerman. Selain itu, putra pasangan Bapak Budi Handoko dan Ibu Nuningsih ini, juga terpilih sebagai matematikawan terbaik dan berhak mewakili distriknya dalam olimpiade matematika di tingkat negara bagian.
Sumber: www.detiknews.com
Senin, 01 Maret 2010
Petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Ketika Makan Kurma
Senin, 17 September 2007 03:05:23 WIB
Oleh: Abu Zubair Zaki Rakhmawan
Sesungguhnya dalam diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat teladan dalam berbagai perkara, termasuk di dalamnya ketika makan kurma.
[a]. Disunnahkan Makan Kurma Sebelum Berangkat Shalat Iedul Fithri
Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat shalat pada hari raya Iedul Fithri, sehingga beliau makan beberapa buah kurma”.
Murajja bin Raja mengatakan : “Ubaidillah pernah memberitahukan kepadaku, dimana ia menceritakan, Anas bin Malik pernah memberitahukan kepadaku, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau makan kurma itu dalam jumlah yang ganjil” [1]
Dari hadits tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa mengkonsumsi kurma sebelum menuju tempat shalat Iedul Fithri adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sangat dianjurkan untuk makan lebih dari satu kurma dengan jumlah ganjil. Hal ini berdasarkan lafazh hadits di atas yang dilafazhkan ‘tamarat’ (kurma dalam bentuk jamak, bukan satu atau dua tapi lebih dari dua). Maka satu kurma belum cukup untuk menyempurnakan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu dianjurkan untuk makan kurma sebanyak tiga, lima, tujuh, sembilan ataupun sebelas, yang penting adalah berjumlah ganjil dan lebih dari dua.
Sedangkan hikmah dari mendahulukan makan sebelum shalat Iedul Fithri adalah sebagai simbol bahwa pada hari itu telah dihalalkan untuk berbuka atau makan dan minum di pagi hari. Hal ini juga karena hari sebelumnya adalah hari diwajibkannya puasa sedangkan hari ketika Iedul Fithri adalah hari diwajibkannya berbuka atau makan dan minum. Bersegera untuk merealisasikan konsekuensi dari wajibnya berbuka pada hari Iedul Fithri adalah sangat utama. Oleh karena itu dengan mengkonsumsi beberapa butir kurma sebelum berangkat ke tempat shalat Iedul Fithri telah mecakup keutamaan yang dianjurkan tersebut.[2]
Jadi yang dianjurkan adalah makan beberapa kurma sebelum berangkat menuju tempat shalat Iedul Fithri, bukan Iedul Adha. Hal ini sebagaimana hadits Buraidah.
“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah keluar (menuju tempat shalat ‘Ied) pada hari Iedul Fithri sampai beliau makan terlebih dahulu. Begitu juga tidak pernah makan ketika hari Iedul Adha sampai beliau selesai melaksanakan shalat Iedul Adha terlebih dahulu” [3]
[b]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Makan Kurma Dengan Keju
Sebagaimana yang diriwayatkan dari kedua anak Busyr As-Sulamiyyain, mereka berdua berkata.
“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi kami, maka kami hidangkan kepada beliau, keju dan kurma kering, sedangkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai keju dan tamr (kurma kering)” [4]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah memberikan komentarnya terhadap hadits tersebut dalam Ath-Thibb An-Nabawy : ‘Zubdah (keju) dapat berfungsi melunakkan tinja, melemaskan syaraf dan bengkak yang terjadi pada kandung empedu dan juga kerongkongan, berkhasiat juga mengatasi kekeringan yang terjadi. Bila dioleskan pada gusi bayi, berkhasiat sekali mempercepat pertumbuhan gigi. Berguna untuk mengatasi batuk yang timbul karena hawa panas atau hawa dingin, menghilangkan kudis dan kulit kasar. Rasa mual yang terkandung dapat menghilangkan selera makan namun dapat diatasi dengan makanan yang manis-manis, seperti madu dan kurma. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkombinasikan antara kurma dan keju, terdapat hikmah agar kedua jenis makan tersebut saling melengkapi” [5]
Keju dengan kandungan lemak dan protein yang tinggi dapat menambah kekurangan kandungan lemak yang terkandung dalam kurma.
[c]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Makan Kurma Dengan Mentimun
Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata.
“Artinya : Aku melihat Rasulullah makan buah mentimun dengan ruthab (kurma basah)” [6]
Hadits ini mempunyai pelajaran yang sangat agung yaitu menggambarkan tentang keahlian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal mengkonsumsi makanan secara seimbang.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencampur buah kurma dan mentimun dengan tujuan agar rasa panas yang terkandung dalam kurma dapat menyeimbangkan rasa dingin dan basah yang ada di mentimun, hal ini karena mentimun agak sulit untuk dicerna di lambung, dingin dan terkadang berbahaya[7]
[d]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Pernah Makan Kurma Dengan Semangka.
Sebagaimana hadits : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa makan semangka dengan kurma basah”. [8]
[c]. Kurma Dapat Dijadikan Arak Dimana Hal Itu Telah Diharamkan Dalam Islam
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya sebagian dari anggur itu (dapat dijadikan) khamr (arak), dan sebagian dari kurma itu (dapat dijadikan) khamr (arak), dan sebagian dari madu itu (dapat dijadikan) khamr (arak) dan sebagian dari biji gandum itu berupa khamr (arak), sebagian dari gandum gerst/sejenis tepung sereal (dapat dijadikan) khamr (arak)” [9]
[Disalin dengan sedikit penyesuaian dari buku Kupas Tuntas Khasiat Kurma Berdasarkan Al-Qur’an Al-Karim, As-Sunnah Ash-Shahihah dan Tinjauan Medis Modern, Penulis Zaki Rahmawan, Pengantar Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Media Tarbiyah – Bogor, Cetakan Pertama, Dzul Hijjah 1426H]
__________
Foote Note
[1]. HR Al-Bukhari (no. 953) dan Ibnu Majah (no. 1754) dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu
[2]. Diringkas dari Asy-Syarhul Mumti fii Zaadil ‘ala Zaadil Mustaqni (III/93-94) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, tahqiq Khalid Ammar, cet. Maktabah Islamiyah Mesir, th. 2002M
[3]. HR Ahmad (V/352), At-Tirmidzi (no. 542), Ibnu Majah (no. 1756), Al-Hakim (I/294), dan lafazh ini milik At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ish Shaghiir (no. 4845)
[4]. HR Abu Dawud (no. 3837) dan Ibnu Majah (no. 3343) dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah (no. 2694)
[5]. Ath-Thibb An-Nabawy (hal. 313) oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, cet. Maktabah Nizaar Musthafa Al-Baaz, th 1418H
[6]. HR Al-Bukhari (no. 5440) dan Muslim (no. 2043) dari Abdullah bin Ja’far
[7]. Ath-Thibb An-Nabawy (hal. 339-340) oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, cet. Maktabah Nizaar Musthafa Al-Baaz, th. 1418H
[8]. HR Al-Humaidhi dalam Musnad (I/42), Abu Dawud (no. 2826) dari Aisyah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah (no. 57)
[9]. HR Abu Dawud (no. 3676) dan Ahmad (IV/267). Dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Ash-Shahihah (no. 1593)]
Sumber : www.almanhaj.or.id
Senin, 17 September 2007 03:05:23 WIB
Oleh: Abu Zubair Zaki Rakhmawan
Sesungguhnya dalam diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat teladan dalam berbagai perkara, termasuk di dalamnya ketika makan kurma.
[a]. Disunnahkan Makan Kurma Sebelum Berangkat Shalat Iedul Fithri
Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat shalat pada hari raya Iedul Fithri, sehingga beliau makan beberapa buah kurma”.
Murajja bin Raja mengatakan : “Ubaidillah pernah memberitahukan kepadaku, dimana ia menceritakan, Anas bin Malik pernah memberitahukan kepadaku, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau makan kurma itu dalam jumlah yang ganjil” [1]
Dari hadits tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa mengkonsumsi kurma sebelum menuju tempat shalat Iedul Fithri adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sangat dianjurkan untuk makan lebih dari satu kurma dengan jumlah ganjil. Hal ini berdasarkan lafazh hadits di atas yang dilafazhkan ‘tamarat’ (kurma dalam bentuk jamak, bukan satu atau dua tapi lebih dari dua). Maka satu kurma belum cukup untuk menyempurnakan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu dianjurkan untuk makan kurma sebanyak tiga, lima, tujuh, sembilan ataupun sebelas, yang penting adalah berjumlah ganjil dan lebih dari dua.
Sedangkan hikmah dari mendahulukan makan sebelum shalat Iedul Fithri adalah sebagai simbol bahwa pada hari itu telah dihalalkan untuk berbuka atau makan dan minum di pagi hari. Hal ini juga karena hari sebelumnya adalah hari diwajibkannya puasa sedangkan hari ketika Iedul Fithri adalah hari diwajibkannya berbuka atau makan dan minum. Bersegera untuk merealisasikan konsekuensi dari wajibnya berbuka pada hari Iedul Fithri adalah sangat utama. Oleh karena itu dengan mengkonsumsi beberapa butir kurma sebelum berangkat ke tempat shalat Iedul Fithri telah mecakup keutamaan yang dianjurkan tersebut.[2]
Jadi yang dianjurkan adalah makan beberapa kurma sebelum berangkat menuju tempat shalat Iedul Fithri, bukan Iedul Adha. Hal ini sebagaimana hadits Buraidah.
“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah keluar (menuju tempat shalat ‘Ied) pada hari Iedul Fithri sampai beliau makan terlebih dahulu. Begitu juga tidak pernah makan ketika hari Iedul Adha sampai beliau selesai melaksanakan shalat Iedul Adha terlebih dahulu” [3]
[b]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Makan Kurma Dengan Keju
Sebagaimana yang diriwayatkan dari kedua anak Busyr As-Sulamiyyain, mereka berdua berkata.
“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi kami, maka kami hidangkan kepada beliau, keju dan kurma kering, sedangkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai keju dan tamr (kurma kering)” [4]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah memberikan komentarnya terhadap hadits tersebut dalam Ath-Thibb An-Nabawy : ‘Zubdah (keju) dapat berfungsi melunakkan tinja, melemaskan syaraf dan bengkak yang terjadi pada kandung empedu dan juga kerongkongan, berkhasiat juga mengatasi kekeringan yang terjadi. Bila dioleskan pada gusi bayi, berkhasiat sekali mempercepat pertumbuhan gigi. Berguna untuk mengatasi batuk yang timbul karena hawa panas atau hawa dingin, menghilangkan kudis dan kulit kasar. Rasa mual yang terkandung dapat menghilangkan selera makan namun dapat diatasi dengan makanan yang manis-manis, seperti madu dan kurma. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkombinasikan antara kurma dan keju, terdapat hikmah agar kedua jenis makan tersebut saling melengkapi” [5]
Keju dengan kandungan lemak dan protein yang tinggi dapat menambah kekurangan kandungan lemak yang terkandung dalam kurma.
[c]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Makan Kurma Dengan Mentimun
Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata.
“Artinya : Aku melihat Rasulullah makan buah mentimun dengan ruthab (kurma basah)” [6]
Hadits ini mempunyai pelajaran yang sangat agung yaitu menggambarkan tentang keahlian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal mengkonsumsi makanan secara seimbang.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencampur buah kurma dan mentimun dengan tujuan agar rasa panas yang terkandung dalam kurma dapat menyeimbangkan rasa dingin dan basah yang ada di mentimun, hal ini karena mentimun agak sulit untuk dicerna di lambung, dingin dan terkadang berbahaya[7]
[d]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Pernah Makan Kurma Dengan Semangka.
Sebagaimana hadits : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa makan semangka dengan kurma basah”. [8]
[c]. Kurma Dapat Dijadikan Arak Dimana Hal Itu Telah Diharamkan Dalam Islam
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya sebagian dari anggur itu (dapat dijadikan) khamr (arak), dan sebagian dari kurma itu (dapat dijadikan) khamr (arak), dan sebagian dari madu itu (dapat dijadikan) khamr (arak) dan sebagian dari biji gandum itu berupa khamr (arak), sebagian dari gandum gerst/sejenis tepung sereal (dapat dijadikan) khamr (arak)” [9]
[Disalin dengan sedikit penyesuaian dari buku Kupas Tuntas Khasiat Kurma Berdasarkan Al-Qur’an Al-Karim, As-Sunnah Ash-Shahihah dan Tinjauan Medis Modern, Penulis Zaki Rahmawan, Pengantar Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Media Tarbiyah – Bogor, Cetakan Pertama, Dzul Hijjah 1426H]
__________
Foote Note
[1]. HR Al-Bukhari (no. 953) dan Ibnu Majah (no. 1754) dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu
[2]. Diringkas dari Asy-Syarhul Mumti fii Zaadil ‘ala Zaadil Mustaqni (III/93-94) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, tahqiq Khalid Ammar, cet. Maktabah Islamiyah Mesir, th. 2002M
[3]. HR Ahmad (V/352), At-Tirmidzi (no. 542), Ibnu Majah (no. 1756), Al-Hakim (I/294), dan lafazh ini milik At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ish Shaghiir (no. 4845)
[4]. HR Abu Dawud (no. 3837) dan Ibnu Majah (no. 3343) dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah (no. 2694)
[5]. Ath-Thibb An-Nabawy (hal. 313) oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, cet. Maktabah Nizaar Musthafa Al-Baaz, th 1418H
[6]. HR Al-Bukhari (no. 5440) dan Muslim (no. 2043) dari Abdullah bin Ja’far
[7]. Ath-Thibb An-Nabawy (hal. 339-340) oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, cet. Maktabah Nizaar Musthafa Al-Baaz, th. 1418H
[8]. HR Al-Humaidhi dalam Musnad (I/42), Abu Dawud (no. 2826) dari Aisyah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah (no. 57)
[9]. HR Abu Dawud (no. 3676) dan Ahmad (IV/267). Dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Ash-Shahihah (no. 1593)]
Sumber : www.almanhaj.or.id
Selasa, 19 Januari 2010
Nasihat Untuk Remaja Muslim
Kami persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim, agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah subhanahu wata’ala sebagai penciptanya, agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi.
Wahai para pemuda muslim, tidakkah kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya? Tidakkah kalian menginginkan jannah (surga) Allah subhanahu wata’ala yang luasnya seluas langit dan bumi?
Ketahuilah, jannah Allah subhanahu wata’ala itu diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal. Jannah itu disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, mereka merasa bahwa gemerlapnya kehidupan dunia ini akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada kehidupan yang sengsara di negeri akhirat selamanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)
Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?
Wahai para pemuda, ketahuilah, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan kita bukan tanpa adanya tujuan. Bukan pula memberikan kita kesempatan untuk bersenang-senang saja, tetapi untuk meraih sebuah tujuan mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)
Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.
Dalam beribadah, kita dituntut untuk ikhlas dalam menjalankannya. Yaitu dengan beribadah semata-mata hanya mengharapkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan beribadah karena terpaksa, atau karena gengsi terhadap orang-orang di sekitar kita. Apalagi beribadah dalam rangka agar dikatakan bahwa kita adalah orang-orang yang alim, kita adalah orang-orang shalih atau bentuk pujian dan sanjungan yang lain.
Umurmu Tidak Akan Lama Lagi
Wahai para pemuda, jangan sekali-kali terlintas di benak kalian: beribadah nanti saja kalau sudah tua, atau mumpung masih muda, gunakan untuk foya-foya. Ketahuilah, itu semua merupakan rayuan setan yang mengajak kita untuk menjadi teman mereka di An Nar (neraka).
Tahukah kalian, kapan kalian akan dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala, berapa lama lagi kalian akan hidup di dunia ini? Jawabannya adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Wahai para pemuda, bertaqwalah kalian kepada Allah subhanahu wata’ala. Mungkin hari ini kalian sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang tertawa, berpesta, dan hura-hura menyambut tahun baru dengan berbagai bentuk maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi keesokan harinya kalian sudah berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang menangis menyaksikan jasad-jasad kalian dimasukkan ke liang lahad (kubur) yang sempit dan menyesakkan.
Betapa celaka dan ruginya kita, apabila kita belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ, فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ, يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ.
“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan kembali dan tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Wahai para pemuda, takutlah kalian kepada adzab Allah subhanahu wata’ala. Sudah siapkah kalian dengan timbangan amal yang pasti akan kalian hadapi nanti. Sudah cukupkah amal yang kalian lakukan selama ini untuk menambah berat timbangan amal kebaikan.
Betapa sengsaranya kita, ketika ternyata bobot timbangan kebaikan kita lebih ringan daripada timbangan kejelekan. Ingatlah akan firman Allah subhanahu wata’ala:
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ نَارٌ حَامِيَةٌ
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)
Bersegeralah dalam Beramal
Wahai para pemuda, bersegeralah untuk beramal kebajikan, dirikanlah shalat dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena shalat adalah yang pertama kali akan dihisab nanti pada hari kiamat, sebagaimana sabdanya:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلاَةُ
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali manusia dihisab dengannya di hari kiamat adalah shalat.” (HR. At Tirmidzi, An Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lafazh hadits riwayat Abu Dawud no.733)
Bagi laki-laki, hendaknya dengan berjama’ah di masjid. Banyaklah berdzikir dan mengingat Allah subhanahu wata’ala. Bacalah Al Qur’an, karena sesungguhnya ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat nanti.
Banyaklah bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kalian lakukan selama ini. Mudah-mudahan dengan bertaubat, Allah subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memberi pahala yang dengannya kalian akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Wahai para pemuda, banyak-banyaklah beramal shalih, pasti Allah subhanahu wata’ala akan memberi kalian kehidupan yang bahagia, dunia dan akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An Nahl: 97)
Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?
Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat nanti. Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu haditsnya:
لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)
Sekarang cobalah mengoreksi diri kalian sendiri, sudahkah kalian mengisi masa muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah subhanahu wata’ala? Ataukah kalian isi masa muda kalian dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?
Kalau kalian masih saja mengisi waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan lupa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka jawaban apa yang bisa kalian ucapkan di hadapan Allah subhanahu wata’ala Sang Penguasa Hari Pembalasan? Tidakkah kalian takut akan ancaman Allah subhanahu wata’ala terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah subhanahu wata’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:
مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)
Bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, pergunakanlah kesempatan di masa muda kalian ini untuk kebaikan.
Ingat-ingatlah selalu bahwa setiap amal yang kalian lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah subhanahu wata’ala.
Jauhi Perbuatan Maksiat
Apa yang menyebabkan Adam dan Hawwa dikeluarkan dari Al Jannah (surga)? Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua kepada Allah subhanahu wata’ala. Mereka melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala karena mendekati sebuah pohon di Al Jannah, mereka terbujuk oleh rayuan iblis yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala.
Wahai para pemuda, senantiasa iblis, setan, dan bala tentaranya berupaya untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Setiap amalan kejelekan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun kecil pasti akan dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau lakukan itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah: 8)
Setan juga menghendaki dengan kemaksiatan ini, umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan. Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wata’ala, itu merupakan wujud solidaritas dan kekompakan di antara kalian. Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang engkau cintai menjadi musuh yang paling engkau benci. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ
“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah: 91)
Demikianlah setan menjadikan perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sebagai sarana untuk memecah belah dan menimbulkan permusuhan di antara mereka.
Ibadah yang Benar Dibangun di atas Ilmu
Wahai para pemuda, setelah kalian mengetahui bahwa tugas utama kalian hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala semata, maka sekarang ketahuilah bahwa Allah subhanahu wata’ala hanya menerima amalan ibadah yang dikerjakan dengan benar. Untuk itulah wajib atas kalian untuk belajar dan menuntut ilmu agama, mengenal Allah subhanahu wata’ala, mengenal Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengenal agama Islam ini, mengenal mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah), serta mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.
Dengan ilmu agama, kalian akan terbimbing dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga ibadah yang kalian lakukan benar-benar diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak orang yang beramal kebajikan tetapi ternyata amalannya tidak diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, karena amalannya tidak dibangun di atas ilmu agama yang benar.
Oleh karena itu, wahai para pemuda muslim, pada kesempatan ini, kami juga menasehatkan kepada kalian untuk banyak mempelajari ilmu agama, duduk di majelis-majelis ilmu, mendengarkan Al Qur’an dan hadits serta nasehat dan penjelasan para ulama. Jangan sibukkan diri kalian dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi diri kalian, terlebih lagi hal-hal yang mendatangkan murka Allah subhanahu wata’ala.
Ketahuilah, menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no.224)
Akhir Kata
Semoga nasehat yang sedikit ini bisa memberikan manfaat yang banyak kepada kita semua. Sesungguhnya nasehat itu merupakan perkara yang sangat penting dalam agama ini, bahkan saling memberikan nasehat merupakan salah satu sifat orang-orang yang dijauhkan dari kerugian, sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam surat Al ‘Ashr:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)
Wallahu ta‘ala a’lam bishshowab.
Sumber: Buletin Al-Ilmu, Penerbit Yayasan As-Salafy Jember
Nasehat Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’
Pertanyaan:
Bagaimana seorang muslim menempuh jalan keselamatan? Apa yang harus dilakukannya dalam menempuh kehidupan yang penuh dengan hal-hal yang bersifat materi ini, yang manusia sangat berlebihan dalam bergelimang padanya sehingga menyebabkan kerasnya hati-hati mereka, Wal ‘Iyadzubillah?
Apa nasehat dan arahan anda kepada saya sebagai seorang pemuda berusia 20 tahun yang cenderung kepada dunia? Apa buku-buku yang anda nasehatkan kepada kami untuk dibaca?
Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’ menjawab:
Wajib atas engkau untuk bertaqwa kepada Allah ta’ala, mentaati-Nya, dan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi engkau dan menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat, menjauhi berbagai fitnah, senantiasa berbuat baik dan menghindari segala bentuk kejelekan, memperbanyak membaca Al-Qur’an disertai dengan upaya memahami maknanya, menjaga dzikir-dzikir yang shahih dan tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disertai dengan sikap rendah diri dan menghadirkan hati (khusyu’), membaca kitab (buku-buku) yang banyak terdapat di dalamnya hikmah-hikmah dan nasehat-nasehat seperti kitab Al-Fawa’id dan kitab Ad-Da’u Wad Dawa’ yang keduanya karangan Ibnul Qayyim rahimahullah, berdo’alah kepada Allah dalam sujud engkau dengan do’a-do’a yang terdapat dalam As-Sunnah disertai dengan rendah diri dan khusyu’, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah dan melapangkan hati engkau untuk berada di atas kebaikan, dan menjaga engkau dari segala fitnah yang nampak maupun tersembunyi.
Dan di antara kitab-kitab yang bermanfaat adalah Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ighatsatul Lahfan yang keduanya karangan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan juga kitab Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid, disertai dengan perhatian kepada kitab Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dan tafsri Ibni Katsir.
وصلى الله على نبينا محمد وصحبه وسلم.
[Fatawa Islamiyyah IV/498]
Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=418
Wahai para pemuda muslim, tidakkah kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya? Tidakkah kalian menginginkan jannah (surga) Allah subhanahu wata’ala yang luasnya seluas langit dan bumi?
Ketahuilah, jannah Allah subhanahu wata’ala itu diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal. Jannah itu disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, mereka merasa bahwa gemerlapnya kehidupan dunia ini akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada kehidupan yang sengsara di negeri akhirat selamanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)
Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?
Wahai para pemuda, ketahuilah, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan kita bukan tanpa adanya tujuan. Bukan pula memberikan kita kesempatan untuk bersenang-senang saja, tetapi untuk meraih sebuah tujuan mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)
Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.
Dalam beribadah, kita dituntut untuk ikhlas dalam menjalankannya. Yaitu dengan beribadah semata-mata hanya mengharapkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan beribadah karena terpaksa, atau karena gengsi terhadap orang-orang di sekitar kita. Apalagi beribadah dalam rangka agar dikatakan bahwa kita adalah orang-orang yang alim, kita adalah orang-orang shalih atau bentuk pujian dan sanjungan yang lain.
Umurmu Tidak Akan Lama Lagi
Wahai para pemuda, jangan sekali-kali terlintas di benak kalian: beribadah nanti saja kalau sudah tua, atau mumpung masih muda, gunakan untuk foya-foya. Ketahuilah, itu semua merupakan rayuan setan yang mengajak kita untuk menjadi teman mereka di An Nar (neraka).
Tahukah kalian, kapan kalian akan dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala, berapa lama lagi kalian akan hidup di dunia ini? Jawabannya adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Wahai para pemuda, bertaqwalah kalian kepada Allah subhanahu wata’ala. Mungkin hari ini kalian sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang tertawa, berpesta, dan hura-hura menyambut tahun baru dengan berbagai bentuk maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi keesokan harinya kalian sudah berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang menangis menyaksikan jasad-jasad kalian dimasukkan ke liang lahad (kubur) yang sempit dan menyesakkan.
Betapa celaka dan ruginya kita, apabila kita belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ, فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ, يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ.
“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan kembali dan tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Wahai para pemuda, takutlah kalian kepada adzab Allah subhanahu wata’ala. Sudah siapkah kalian dengan timbangan amal yang pasti akan kalian hadapi nanti. Sudah cukupkah amal yang kalian lakukan selama ini untuk menambah berat timbangan amal kebaikan.
Betapa sengsaranya kita, ketika ternyata bobot timbangan kebaikan kita lebih ringan daripada timbangan kejelekan. Ingatlah akan firman Allah subhanahu wata’ala:
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ نَارٌ حَامِيَةٌ
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)
Bersegeralah dalam Beramal
Wahai para pemuda, bersegeralah untuk beramal kebajikan, dirikanlah shalat dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena shalat adalah yang pertama kali akan dihisab nanti pada hari kiamat, sebagaimana sabdanya:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلاَةُ
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali manusia dihisab dengannya di hari kiamat adalah shalat.” (HR. At Tirmidzi, An Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lafazh hadits riwayat Abu Dawud no.733)
Bagi laki-laki, hendaknya dengan berjama’ah di masjid. Banyaklah berdzikir dan mengingat Allah subhanahu wata’ala. Bacalah Al Qur’an, karena sesungguhnya ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat nanti.
Banyaklah bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kalian lakukan selama ini. Mudah-mudahan dengan bertaubat, Allah subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memberi pahala yang dengannya kalian akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Wahai para pemuda, banyak-banyaklah beramal shalih, pasti Allah subhanahu wata’ala akan memberi kalian kehidupan yang bahagia, dunia dan akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An Nahl: 97)
Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?
Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat nanti. Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu haditsnya:
لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)
Sekarang cobalah mengoreksi diri kalian sendiri, sudahkah kalian mengisi masa muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah subhanahu wata’ala? Ataukah kalian isi masa muda kalian dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?
Kalau kalian masih saja mengisi waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan lupa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka jawaban apa yang bisa kalian ucapkan di hadapan Allah subhanahu wata’ala Sang Penguasa Hari Pembalasan? Tidakkah kalian takut akan ancaman Allah subhanahu wata’ala terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah subhanahu wata’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:
مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)
Bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, pergunakanlah kesempatan di masa muda kalian ini untuk kebaikan.
Ingat-ingatlah selalu bahwa setiap amal yang kalian lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah subhanahu wata’ala.
Jauhi Perbuatan Maksiat
Apa yang menyebabkan Adam dan Hawwa dikeluarkan dari Al Jannah (surga)? Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua kepada Allah subhanahu wata’ala. Mereka melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala karena mendekati sebuah pohon di Al Jannah, mereka terbujuk oleh rayuan iblis yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala.
Wahai para pemuda, senantiasa iblis, setan, dan bala tentaranya berupaya untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)
Setiap amalan kejelekan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun kecil pasti akan dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau lakukan itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah: 8)
Setan juga menghendaki dengan kemaksiatan ini, umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan. Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wata’ala, itu merupakan wujud solidaritas dan kekompakan di antara kalian. Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang engkau cintai menjadi musuh yang paling engkau benci. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ
“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah: 91)
Demikianlah setan menjadikan perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sebagai sarana untuk memecah belah dan menimbulkan permusuhan di antara mereka.
Ibadah yang Benar Dibangun di atas Ilmu
Wahai para pemuda, setelah kalian mengetahui bahwa tugas utama kalian hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala semata, maka sekarang ketahuilah bahwa Allah subhanahu wata’ala hanya menerima amalan ibadah yang dikerjakan dengan benar. Untuk itulah wajib atas kalian untuk belajar dan menuntut ilmu agama, mengenal Allah subhanahu wata’ala, mengenal Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengenal agama Islam ini, mengenal mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah), serta mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.
Dengan ilmu agama, kalian akan terbimbing dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga ibadah yang kalian lakukan benar-benar diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak orang yang beramal kebajikan tetapi ternyata amalannya tidak diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, karena amalannya tidak dibangun di atas ilmu agama yang benar.
Oleh karena itu, wahai para pemuda muslim, pada kesempatan ini, kami juga menasehatkan kepada kalian untuk banyak mempelajari ilmu agama, duduk di majelis-majelis ilmu, mendengarkan Al Qur’an dan hadits serta nasehat dan penjelasan para ulama. Jangan sibukkan diri kalian dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi diri kalian, terlebih lagi hal-hal yang mendatangkan murka Allah subhanahu wata’ala.
Ketahuilah, menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no.224)
Akhir Kata
Semoga nasehat yang sedikit ini bisa memberikan manfaat yang banyak kepada kita semua. Sesungguhnya nasehat itu merupakan perkara yang sangat penting dalam agama ini, bahkan saling memberikan nasehat merupakan salah satu sifat orang-orang yang dijauhkan dari kerugian, sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam surat Al ‘Ashr:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)
Wallahu ta‘ala a’lam bishshowab.
Sumber: Buletin Al-Ilmu, Penerbit Yayasan As-Salafy Jember
Nasehat Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’
Pertanyaan:
Bagaimana seorang muslim menempuh jalan keselamatan? Apa yang harus dilakukannya dalam menempuh kehidupan yang penuh dengan hal-hal yang bersifat materi ini, yang manusia sangat berlebihan dalam bergelimang padanya sehingga menyebabkan kerasnya hati-hati mereka, Wal ‘Iyadzubillah?
Apa nasehat dan arahan anda kepada saya sebagai seorang pemuda berusia 20 tahun yang cenderung kepada dunia? Apa buku-buku yang anda nasehatkan kepada kami untuk dibaca?
Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’ menjawab:
Wajib atas engkau untuk bertaqwa kepada Allah ta’ala, mentaati-Nya, dan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi engkau dan menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat, menjauhi berbagai fitnah, senantiasa berbuat baik dan menghindari segala bentuk kejelekan, memperbanyak membaca Al-Qur’an disertai dengan upaya memahami maknanya, menjaga dzikir-dzikir yang shahih dan tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disertai dengan sikap rendah diri dan menghadirkan hati (khusyu’), membaca kitab (buku-buku) yang banyak terdapat di dalamnya hikmah-hikmah dan nasehat-nasehat seperti kitab Al-Fawa’id dan kitab Ad-Da’u Wad Dawa’ yang keduanya karangan Ibnul Qayyim rahimahullah, berdo’alah kepada Allah dalam sujud engkau dengan do’a-do’a yang terdapat dalam As-Sunnah disertai dengan rendah diri dan khusyu’, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah dan melapangkan hati engkau untuk berada di atas kebaikan, dan menjaga engkau dari segala fitnah yang nampak maupun tersembunyi.
Dan di antara kitab-kitab yang bermanfaat adalah Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ighatsatul Lahfan yang keduanya karangan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan juga kitab Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid, disertai dengan perhatian kepada kitab Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dan tafsri Ibni Katsir.
وصلى الله على نبينا محمد وصحبه وسلم.
[Fatawa Islamiyyah IV/498]
Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=418
Langganan:
Postingan (Atom)