<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309</id><updated>2012-02-16T16:16:58.204+07:00</updated><category term='Pengetahuan Umum'/><category term='Kesehatan'/><category term='artikel islam'/><category term='Kaidah/Prinsip2'/><category term='Aqidah'/><category term='Murottal'/><category term='Fikih'/><category term='Akhlak'/><category term='Bahasa Arab'/><title type='text'>Zhiyaulhaq</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-5483564406282478965</id><published>2011-09-05T00:41:00.000+07:00</published><updated>2011-09-05T00:41:02.664+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kaidah/Prinsip2'/><title type='text'>Kaidah dan Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah Dalam Mengambil dan Menggunakan Dalil</title><content type='html'>Setiap firqoh memiliki dalil untuk menguatkan pendapatnya. Terkadang mereka menggunakan dalil-dalil yang shohih. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jamaa'ah membuat kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip dalam pengambilan dalil dan dalam menggunakannya itu sendiri. Berikut adalah beberapa kaidah dan prinsip ahlus sunnah:&lt;br /&gt;1. Sumber 'aqidah adalah Kitabulloh (Al-Qur'an), Sunnah Rasulullah &lt;i&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt;   yang shohih, dan 'ijma Salafush Shalih.&lt;br /&gt;&lt;span class:"fullpost"&gt; &lt;br /&gt;2. Setiap Sunnah yang shohih, yang berasal dari Rasululloh &lt;i&gt;shollallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; wajib diterima, walaupun sifatnya ahad (hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi atau lebih, tetapi periwayatannya bukan dalam jumlah yang tak terhitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Yang menjadi rujukan dalam memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah nash-nash yang menjelaskannya, pemahaman Salafush Shalih dan para Imam yang mengikuti jejak mereka, serta dilihat arti yang benar dari bahasa Arab. Jika hal terebut sudah benar, maka tidak dipertentangkan menurut bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Prinsip-prinsip utama dalam agama, semua telah dijelaskan oleh Nabi &lt;i&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt;. siapapun tidak berhak untuk mengadakan sesuatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya, apalagi sampai mengatakan hal tersebut bagian dari agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Berserah diri, patuh dan taat hanya kepada allah dan Rasul-Nya, secara lahir dan batin. Tidak menolak sesuatu dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih, (baik menolaknya itu) dengan qiyas, perasaan, kasyf (iluminasi atau penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghaib), ucapan seorang syaikh, ataupun pendapat imam, dan yang sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dalil 'aqli (akal) yang benar akan sesuai dengan dalil naqli (nash yang shohih). Sesuatu yang qath'i (pasti) dari kedua dalil tersebut, tidak akan bertentangan selamanya. Apabila sepertinya ada pertentangan di antara keduanya, maka dalil naqli harus didahulukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Rasulullah &lt;i&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; adalah ma'sum dan para Shahabat secara keseluruhan dijauhkan Allah dari kesepakatan di atas kesesatan namun secara individu, tidak ada seorangpun dari mereka yang ma'shum. Jika ada perbedaan diantara para Imam atau selain mereka, maka perkara tersebut dikembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah &lt;i&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dengna memaafkan orang yang keliru dan berprasangka baik bahwa ia adalah orang berijtihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah beberapa kaidah dan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam mengambil dan menggunakan dalil. Mungkin masih banyak yang belum kita ketahui. Wallahu 'alam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-5483564406282478965?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/5483564406282478965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2011/09/kaidah-dan-prinsip-ahlus-sunnah-wal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/5483564406282478965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/5483564406282478965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2011/09/kaidah-dan-prinsip-ahlus-sunnah-wal.html' title='Kaidah dan Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama&apos;ah Dalam Mengambil dan Menggunakan Dalil'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-4502419548088512648</id><published>2011-08-22T08:25:00.000+07:00</published><updated>2011-08-22T08:25:31.553+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan Umum'/><title type='text'>5 Kiat Aman Menangkal Program Jahat di Facebook</title><content type='html'>oleh: Ardhi Suryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jakarta&lt;/b&gt; - Popularitas Facebook memancing minat penjahat cyber untuk menyebar program jahat di situs jejaring sosial itu. Judul video yang sensasional kerap kali menipu pengguna, padahal itu cuma jebakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut 5 kiat aman untuk menangkalnya yang dikutip detikINET dari perusahaan keamanan Eset, Jumat (19/8/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Selalu menggunakan software keamanan pada komputer, lengkapi dengan antivirus berperforma tinggi, dan jangan lupa untuk selalu mengupdatenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Selalu waspada jika ada percakapan yang mencurigakan. Contoh, chat dengan bahasa asing dan susunan huruf yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hindari untuk mengklik link-link aneh. Biasanya, terkait video porno dan hal hal berjudul sensasional lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sesuaikan level keamanan dan privacy settings di situs jejaring sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Terdapat banyak aplikasi yang diterbitkan oleh pihak ketiga yang dicurigai sebagai hasil kerja dari pelaku kejahatan dunia maya dan masuk sebagai spam dalam komputer user. Jadi Anda jangan asal mendownload aplikasi yang tidak jelas asal usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudhi Kukuh Technical Director PT. Prosperita -- ESET Indonesia menambahkan, jika mengacu pada fenomena sosial masyarakat pada era belakangan ini, tidak mengherankan jika para pengembang malware kemudian memanfaatkan situs-situs jejaring sosial untuk menyebarkan program-program jahatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salah satu contoh yang lekat dalam ingatan kita adalah Trojan yang diidentifikasi sebagai Koobface yaitu varian trojan dengan cara infiltrasi yang tajam," tukas Yudhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Motif dari Trojan Koobface adalah mendapatkan perhatian dengan mengirimkan pesan-pesan yang tentunya untuk menarik perhatian dari pengguna facebook. Kemudian malware tersebut akan menciptakan botnet, atau sebuah jaringan zombie yang dapat dikontrol dan diperintah secara remote oleh pelaku cybercrime," pungkasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://www.detikinet.com/read/2011/08/19/114014/1706673/510/5-kiat-aman-menangkal-program-jahat-di-facebook?i991101mainnews"&gt;www.detik.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class:"fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-4502419548088512648?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/4502419548088512648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2011/08/5-kiat-aman-menangkal-program-jahat-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/4502419548088512648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/4502419548088512648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2011/08/5-kiat-aman-menangkal-program-jahat-di.html' title='5 Kiat Aman Menangkal Program Jahat di Facebook'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-4242277170836211538</id><published>2011-01-02T10:19:00.003+07:00</published><updated>2011-01-02T10:26:24.532+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlak'/><title type='text'>Ilmu Dulu Baru Amal</title><content type='html'>Oleh : Ammi Nur Baits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seseorang yang bercerita, dalam sebuah perjalanan manasik haji, para jamaah haji secara bertubi-tubi mengajukan banyak pertanyaan kepada pembimbing haji. Hampir semua permasalahan yang mereka jumpai dalam pelaksanaan ibadah haji, selalu dikonsultasikan kepada pembimbing. Kita yakin, suasana semacam ini hampir dialami oleh semua jamaah haji. Mengapa bisa terjadi demikian? Jawabannya hanya ada dua kemungkinan; pertama, mereka khawatir jangan-jangan ibadah haji yang mereka lakukan batal dan tidak diterima oleh Allah. Atau kedua, mereka takut dan khawatir jangan sampai melakukan tindakan pelanggaran yang menyebabkan mereka harus membayar denda.&lt;br /&gt;&lt;span class:"fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Demikianlah gambaran semangat orang terhadap ilmu ketika melaksanakan ibadah haji. Suasana itu terbentuk disebabkan kekhawatiran mereka agar hajinya tidak batal. Mereka sadar, ibadah ini telah memakan banyak biaya dan tenaga, sehingga sangat disayangkan ketika ibadah yang sangat mahal nilainya ini, tidak menghasilkan sesuatu apapun bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah sikap dan perasaan semacam ini hadir dalam diri kita dalam setiap melaksanakan ibadah, atau bahkan dalam setiap amal perbuatan kita? Ataukah sebaliknya, justru kita begitu menganggap enteng setiap amal, sehingga tidak mempedulikan pondasi ilmunya. Inilah yang penting untuk kita renungkan. Semangat untuk mendasari setiap amal dengan ilmu merupakan cerminan perhatian seseorang terhadap kesempurnaan beramal. Untuk menunjukkan sikap ini, seorang ulama, yang bernama Sufyan at-Tsauri mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنْ اسْتَطَعتَ ، أَلَّا تَحُكَّ رَأسَكَ إِلَّا بِأَثَرٍ فَافعَلْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu mampu tidak akan menggaruk kepala kecuali jika ada dalilnya maka lakukanlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Al Jami’ li Akhlaq ar Rawi wa Adab as-Sami’, Khatib al-Baghdadi, Mauqi Jami’ al-Hadis: 1/197)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama ini menasehatkan agar setiap amal yang kita lakukan sebisa mungkin didasari dengan dalil. Sampai-pun dalam masalah kebiasaan kita, atau bahkan sampai dalam masalah yang mungkin dianggap sepele. Apalagi dalam masalah ibadah. Karena inilah syarat mutlak seseorang dikatakan mengamalkan dalil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya, masih banyak di antara kaum muslimin yang kurang mempedulikan landasan ilmu ketika beramal yang sifatnya rutinitas. Jarang kita temukan orang yang melaksanakan ibadah rutin, semacam shalat misalnya, kemudian dia berusaha mencari tahu, apa landasan setiap gerakan dan bacaan shalat yang dia kerjakan. Bisa jadi ini didasari anggapan, amal rutinitas  ini terlalu ringan dan mudah untuk dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;font color=red&gt;Ilmu Syarat Sah Amal&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus berilmu sebelum beramal? Pada bagian inilah yang akan melengkapi keterangan di atas, yang mengajak untuk senantiasa mendasari amal dengan ilmu. Inti dari penjelasan ini adalah kesimpulan bahwa ilmu adalah syarat sah amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab shahihnya, Imam Bukhari mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَابٌ العِلمُ قَبلَ القَولِ وَالعَمَلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Shahih al-Bukhari, kitab: al-Ilmu, bab al ilmu qabla al-qoul wa al amal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Imam Bukhari ini telah mendapatkan perhatian khusus dari para ulama. Karena itu, perkataan beliau ini banyak dikutip oleh para ulama setelahnya dalam buku-buku  mereka. Imam Bukhari berdalil dengan firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغفِرْ لِذَنبِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan mintalah ampunan untuk dosamu” (QS. Muhammad: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ayat ini, Allah memulai perintahnya dengan: “ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah”, yang ini merupakan perintah untuk mencari ilmu. Kemudian Allah sebutkan amal yang sangat penting yaitu istighfar, sebagaimana Allah sebutkan di lanjutan ayat, yang artinya: “….mintalah ampunan untuk dosamu.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjelaskan hadis ini, al-Hafidz al-Aini dalam kitab syarh shahih Bukhari mengutip perkataan Ibnul Munayir berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang beliau maksudkan bahwasanya ilmu adalah syarat sah ucapan dan perbuatan.        Ucapan dan perbuatan tidak akan dinilai kecuali dengan ilmu. Oleh sebab itu, ilmu        didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Karena ilmu yang akan men-sahkan niat, dan     niat adalah yang men-sahkan amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Umdatu al-Qori, Syarh Shahih Bukhari, al-Hafidz al-Aini, jilid 2, hal. 476).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keterangan Ibnul Munayir dapat disimpulkan, posisi ilmu dalam amal adalah sebagai pengendali niat. Karena seseorang baru bisa berniat untuk beramal dengan niat yang benar, jika dia memahami (baca: mengilmui) tujuan dia beramal. Hal ini sebagaimana penjelasan yang disampaikan oleh Ibnu Batthal, dengan mengutip keterangan al-Muhallab, yang mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amal itu tidak mungkin diterima kecuali yang didahului dengan tujuan untuk Allah. Inti     dari tujuan ini adalah memahami (mengilmui) tentang pahala yang Allah janjikan, serta           memahami tata cara ikhlas kepada Allah dalam beramal. Dalam keadaan semacam ini,            bolehlah amal tersebut diharapkan bisa memberikan manfaat, karena telah didahului             dengan ilmu. Sebaliknya, ketika amal itu tidak diiringi dengan niat, tidak mengharapkan       pahala, dan kosong dari ikhlas karena Allah maka hakekatnya bukanlah amal, namun ini        seperti perbuatan orang gila, yang tidak dicatat amalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Syarh Shahih Bukhari karya Ibnu Batthal,    Syamilah, 1/145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, setiap orang yang hendak beramal, dia dituntut untuk memahami amal yang akan dia kerjakan. Agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan menyebabkan amalnya tidak diterima. Mungkin dari tulisan Imam Bukhari di atas, ada sebagian orang yang bertanya: Untuk apa kita harus belajar, padahal belum waktunya untuk diamalkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya setiap orang dituntut untuk senantiasa belajar, meskipun ilmu yang dia pelajari belum waktunya untuk diamalkan. Seperti ilmu tentang haji, padahal dia belum memiliki kemampuan untuk berangkat haji. Karena ilmu itu akan senantiasa memberikan manfaat bagi dirinya atau orang lain. Al-Hafidz al-Aini ketika menjelaskan perkataan Imam Bukhari di atas, beliau menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari mengingatkan hal ini – Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan –, agar tidak   didahului oleh pemahaman bahwa ilmu itu tidak manfaat kecuali jika disertai dengan amal.          Pemahaman ini dilatar-belakangi sikap meremehkan ilmu dan menganggap mudah dalam       mencari ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Umadatul Qori Syarh Shahih Bukhari, al-Hafidz al-Aini, as-Syamilah, 2/476]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;font color=red&gt;Apa itu Ilmu?&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kami maksud dengan ilmu adalah dalil, baik dari al Qur’an maupun hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikhul Islam, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;العِلمَ مَا قَامَ عَلَيْهِ الدَّلِيلُ وَالنَّافِعُ مِنْهُ مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ilmu adalah kesimpulan yang ada dalilnya, sedangkan ilmu yang bermanfaat adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ilmu yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Majmu’ Fatawa, Syamilah, jilid 6, hal. 388)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ini perlu ditegaskan agar tidak terjadi kesalah-pahaman. Intinya ingin menjelaskan, setiap orang yang beramal dan dia tahu dalilnya maka boleh dikatakan, orang ini telah beramal atas dasar ilmu. Sebaliknya, beramal namun tidak ada landasan dalil belum dikatakan beramal atas dasar ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana dengan orang awam yang tidak faham dalil? Apakah dia diwajibkan mencari dalil? Jawabannya, untuk orang awam, dalil bagi mereka adalah keterangan dan fatwa ulama yang mendasari nasehatnya dengan dalil. Bukan keterangan ulama yang pemikirannya bertolak belakang dengan al-Qur’an dan sunnah. Dalilnya adalah firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bertanyalah kepada ahli ilmu, jika kalian tidak mengetahuinya” (QS. Al-Anbiya: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;font color=red&gt;Muslim Vs Nasrani Vs Yahudi&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekait masalah ini, ada tiga kelompok manusia yang sangat esktrim perbedaannya. Ketiga jenis manusia ini Allah sebutkan dalam al-Qur’an, di surat al-Fatihah. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (5) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ (6) غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus {} yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat {} Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Al-Fatihah: 5 – 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat di atas, Allah membagi manusia terkait dengan hidayah ilmu menjadi tiga golongan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, golongan orang yang mendapat nikmat. Merekalah golongan yang mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, golongan orang-orang yang dimurkai. Merekalah orang-orang yahudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, golongan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang nasrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam menjelaskan sebab kedua umat yahudi dan nasrani dikafirkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, bahwa kekafiran orang yahudi pada asalnya disebabkan mereka tidak              mengamalkan ilmu mereka. Mereka memahami kebenaran, namun mereka tidak mengikuti             kebenaran tersebut dengan amal atau ucapan. Sedangkan kekafiran nasrani disebabkan amal               perbuatan mereka yang tidak didasari ilmu. Mereka rajin dalam melaksanakan berbagai                 macam ibadah, tanpa adanya syariat dari Allah… karena itu, sebagian ulama, seperti Sufyan   bin Uyainah dan yang lainnya mengatakan: “Jika ada golongan ulama yang sesat, itu karena dalam dirinya ada kemiripan dengan orang yahudi. Sedangkan golongan ahli ibadah yang      rusak karena dalam dirinya ada kemiripan dengan orang nasrani” (Iqtidha’ Shirathal       Mustaqim, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani, dengan Tahqiq Dr. Nashir al-`Aql, Kementrian           Wakaf dan Urusan Islam KSA, 1419 H, jilid 1, hal. 79 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan yang bagus di atas memberikan kesimpulan, titik perbedaan antara umat islam dengan kaum yahudi dan nasrani adalah terkait masalah ilmu dan amal. Umat islam menduduki posisi pertengahan, dengan menggabungkan antara ilmu dan amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;font color=red&gt;Tingkatan Ilmu&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melengkapi pembahasan, berikutnya kita kupas tentang tingkatan ilmu berdasarkan hukumnya. Sesungguhnya hukum belajar ilmu syar`i itu ada dua tingkatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, fardhu `ain (menjadi kewajiban setiap orang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu syar`i yang wajib diketahui dan dipelajari semua orang adalah ilmu syar`i yang menjadi syarat seseorang untuk bisa memahami aqidah pokok dengan benar dan tata cara ibadah yang hendak dikerjakan. Termasuk juga ilmu tentang praktek mu`amalah yang hendak dia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, fardhu kifayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan yang kedua adalah ilmu syar`i yang harus dipelajari oleh sebagian kaum muslimin dengan jumlah tertentu, sehingga memenuhi kebutuhan untuk disebarkan kepada umat. Dalam kondisi ini, jika sudah ada sebagian kaum muslimin dengan jumlah yang dianggap cukup, yang melaksanakannya maka kaum muslimin yang lain tidak diwajibkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang ingin mengkhususkan diri mempelajari ilmu syar`i lebih mendalam, hendaknya dia meniatkan diri untuk melaksanakan tugas fardhu kifayah dalam bentuk mencari ilmu. Agar dia mendapatkan tambahan pahala mengamalkan amalan fardhu kifayah, disamping dia juga mendapatkan ilmu. Allahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[lih. Kitab al-Ilmu, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Mauqi` al-Islam, hal. 14]&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/ilmu-dulu-baru-amal.html"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-4242277170836211538?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/4242277170836211538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2011/01/ilmu-dulu-baru-amal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/4242277170836211538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/4242277170836211538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2011/01/ilmu-dulu-baru-amal.html' title='Ilmu Dulu Baru Amal'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-80072694720139162</id><published>2011-01-02T09:54:00.005+07:00</published><updated>2011-01-02T10:09:17.374+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlak'/><title type='text'>Orang Yang Berjiwa Besar</title><content type='html'>oleh: &lt;a href="http://abumushlih.com/"&gt;Abu Muslih Ari Wahyudi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Harta tidak akan berkurang gara-gara sedekah. Tidaklah seorang hamba memberikan maaf -terhadap kesalahan orang lain- melainkan Allah pasti akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap rendah hati (tawadhu’) karena Allah (ikhlas) melainkan pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/194])&lt;br /&gt;&lt;span class:"fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang mulia ini memberikan berbagai pelajaran penting bagi kita, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hadits ini menganjurkan kita untuk bersikap ihsan/suka berbuat baik kepada orang lain, entah dengan harta, dengan memaafkan kesalahan mereka, ataupun dengan bersikap tawadhu’ kepada mereka (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)&lt;br /&gt;2. Anjuran untuk banyak bersedekah. Karena dengan sedekah itu akan membuat hartanya berbarokah dan terhindar dari bahaya. Terlebih lagi dengan bersedekah akan didapatkan balasan pahala yang berlipat ganda (lihat Syarh Muslim [8/194]). Selain itu, sedekah juga menjadi sebab terbukanya pintu-pintu rezeki (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)&lt;br /&gt;3. Anjuran untuk menjauhi sifat bakhil/kikir.&lt;br /&gt;4. Kebakhilan tidak akan menghasilkan keberuntungan&lt;br /&gt;5. Hadits ini menunjukkan keutamaan bersedekah dengan harta&lt;br /&gt;6. Sedekah adalah ibadah&lt;br /&gt;7. Allah mencintai orang yang suka bersedekah -dengan ikhlas tentunya-&lt;br /&gt;8. Terkadang manusia menyangka bahwa sesuatu bermanfaat baginya, namun apabila dicermati dari sudut pandang syari’at maka hal itu justru tidak bermanfaat. Demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu alangkah tidak bijak orang yang menjadikan hawa nafsu, perasaan, ataupun akal pikirannya yang terbatas sebagai standar baik tidaknya sesuatu. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan larangan-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 89)&lt;br /&gt;9. Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya menepis keragu-raguan dan menyingkap kesalahpahaman yang bercokol di dalam hati manusia&lt;br /&gt;10. Memberikan targhib/motivasi merupakan salah satu metode pengajaran yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;br /&gt;11. Hadits ini juga menunjukkan pentingnya memotivasi orang lain untuk beramal salih&lt;br /&gt;12. Anjuran untuk memberikan maaf kepada orang lain yang bersalah kepada kita -secara pribadi-. Dengan demikian -ketika di dunia- maka kedudukannya akan bertambah mulia dan terhormat. Di akherat pun, kedudukannya akan bertambah mulia dan pahalanya bertambah besar jika orang tersebut memiliki sifat pemaaf (lihat Syarh Muslim [8/194]).&lt;br /&gt;13. Di antara hikmah memaafkan kesalahan orang adalah akan bisa merubah musuh menjadi teman -sehingga hal ini bisa menjadi salah satu cara untuk membuka jalan dakwah-, atau bahkan bisa menyebabkan orang lain mudah memberikan bantuan dan pembelaan di saat dia membutuhkannya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)&lt;br /&gt;14. Allah mencintai orang yang pemaaf.&lt;br /&gt;15. Anjuran untuk bersikap tawadhu’/rendah hati. Karena dengan kerendahan hati itulah seorang hamba akan bisa memperoleh ketinggian derajat dan kemuliaan, ketika di dunia maupun di akherat kelak (lihat Syarh Muslim [8/194]).&lt;br /&gt;16. Hakekat orang yang tawadhu’ adalah orang yang tunduk kepada kebenaran, patuh kepada perintah dan larangan Allah dan rasul-Nya serta bersikap rendah hati kepada sesama manusia, baik kepada yang masih muda ataupun yang sudah tua. Lawan dari tawadhu’ adalah takabur/sombong (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)&lt;br /&gt;17. Allah mencintai orang yang tawadhu’&lt;br /&gt;18. Larangan bersikap takabur; yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain&lt;br /&gt;19. Tawadhu’ yang terpuji adalah yang dilandasi dengan keikhlasan, bukan yang dibuat-buat; yaitu yang timbul karena ada kepentingan dunia yang bersembunyi di baliknya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)&lt;br /&gt;20. Yang menjadi penyempurna dan ruh/inti dari ihsan/kebajikan adalah niat yang ikhlas dalam beramal karena Allah (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)&lt;br /&gt;21. Ketawadhu’an merupakan salah satu sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah. Di samping ada sebab lainnya seperti; keimanan -dan itu yang paling pokok- serta ilmu yang dimilikinya. Bahkan, ketawadhu’an itu sendiri merupakan buah agung dari iman dan ilmu yang tertanam dalam diri seorang hamba (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)&lt;br /&gt;22. Hadits ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk mencari ketinggian dan kemuliaan derajat di sisi-Nya. Sedangkan orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa (lihat QS. al-Hujurat: 13). Dan salah satu kunci ketakwaan adalah kemampuan untuk mengekang hawa nafsu, sehingga orang tidak akan bakhil dengan hartanya, akan mudah memaafkan, dan tidak bersikap arogan ataupun bersikap sombong di hadapan manusia.&lt;br /&gt;23. Hadits ini menunjukkan keutamaan mengekang hawa nafsu dan keharusan untuk menundukkannya kepada syari’at Rabbul ‘alamin&lt;br /&gt;24. Hendaknya menjauhi sebab-sebab yang menyeret kepada sifat-sifat tercela -misalnya; kikir dan sombong- dan berusaha untuk mengikisnya jika seseorang mendapati sifat itu ada di dalam dirinya&lt;br /&gt;25. Kemuliaan derajat yang hakiki adalah di sisi Allah (diukur dengan syari’at), tidak diukur dengan pandangan kebanyakan manusia&lt;br /&gt;26. Bisa jadi orang itu tidak dikenal atau rendah dalam pandangan manusia -secara umum-, akan tetapi di sisi Allah dia adalah sosok yang sangat mulia dan dicintai-Nya. Tidakkah kita ingat kisah Uwais al-Qarani seorang tabi’in terbaik namun tidak dikenal orang, diremehkan, dan tidak menyukai popularitas?&lt;br /&gt;27. Pujian dan sanjungan orang lain kepada kita bukanlah standar apalagi jaminan. Sebab ketinggian derajat yang hakiki adalah di sisi-Nya. Oleh sebab itu, tatkala dikabarkan kepada Imam Ahmad oleh muridnya mengenai pujian orang-orang kepadanya, beliaupun berkata, “Wahai Abu Bakar -nama panggilan muridnya-, apabila seseorang telah mengenal jati dirinya, maka tidak lagi bermanfaat ucapan (pujian) orang lain terhadapnya.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil Ilm, hal. 22). Ini adalah Imam Ahmad, seorang yang telah hafal satu juta hadits dan rela mempertaruhkan nyawanya demi menegakkan Sunnah dan membasmi bid’ah. Demikianlah akhlak salaf, aduhai… di manakah posisi kita bila dibandingkan dengan mereka? Jangan-jangan kita ini tergolong orang yang maghrur/tertipu dengan pujian orang lain kepada kita. Orang lain mungkin menyebut kita sebagai ‘anak ngaji’, orang alim, orang soleh, atau bahkan aktifis dakwah. Namun, sesungguhnya kita sendiri mengetahui tentang jati diri kita yang sebenarnya, segala puji hanya bagi Allah yang telah menutupi aib-aib kita di hadapan manusia… Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami&lt;br /&gt;28. Islam menyeru kepada akhlak yang mulia&lt;br /&gt;29. Islam mengajarkan sikap peduli kepada sesama dan agar tidak bersikap masa bodoh terhadap nasib atau keadaan mereka&lt;br /&gt;30. Sesungguhnya ketaatan itu -meskipun terasa sulit atau berat bagi jiwa- pasti akan membuahkan manfaat besar yang kembali kepada pelakunya sendiri. Sebaliknya, kedurhakaan/maksiat itu -meskipun terasa menyenangkan dan enak- maka pasti akan berdampak jelek bagi dirinya sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perkara paling bermanfaat secara mutlak adalah ketaatan manusia kepada Rabbnya secara lahir maupun batin. Adapun perkara paling berbahaya baginya secara mutlak adalah kemaksiatan kepada-Nya secara lahir ataupun batin.” (al-Fawa’id, hal. 89). Allah ta’ala telah menegaskan (yang artinya), “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyenangi sesuatu padahal itu adalah buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui -segala sesuatu-.” (QS. al-Baqarah: 216)&lt;br /&gt;31. Pahala besar bagi orang yang berjiwa besar; yaitu orang yang tidak segan-segan untuk menyisihkan sesuatu yang dicintainya -yaitu harta- guna berinfak di jalan Allah, mau melapangkan dadanya untuk memaafkan kesalahan orang lain kepadanya, serta bersikap tawadhu’ dan tidak meremehkan orang lain.&lt;br /&gt;32. Ketiga macam amal soleh ini -dengan izin Allah- bisa terkumpul dalam diri seseorang. Dia menjadi orang yang dermawan, suka memaafkan, dan juga rendah hati. Perhatikanlah sifat-sifat dan kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya ketiga sifat ini akan kita temukan dalam diri beliau. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah teladan yang baik, yaitu bagi orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)&lt;br /&gt;33. Di samping menyeru kepada persatuan umat Islam -di atas kebenaran- maka Islam juga menyerukan perkara-perkara yang menjadi perantara atau sebab terwujudnya hal itu. Di antaranya adalah dengan menganjurkan 3 hal di atas: suka bersedekah -yang wajib ataupun yang sunnah-, suka memaafkan, dan bersikap rendah hati/tawadhu’. Sesungguhnya, kalau kita mau mencermati kondisi kita di jaman ini -yang diwarnai dengan kekacauan serta fitnah yang timbul di medan dakwah-, akan kita dapati bahwa kebanyakan di antara kita -barangkali- amat sangat kurang dalam menerapkan ketiga hal tadi. Akibat tidak suka bersedekah, banyak kepentingan umat -khususnya dakwah- yang tidak terurus dengan baik. Akibat sulit memaafkan, permusuhan yang tadinya hanya bersifat personal pun akhirnya melebar menjadi permusuhan kelompok. Akibat perasaan lebih tinggi dan gengsi, jalinan ukhuwah yang terkoyak pun seolah tak bisa dijalin kembali. Masing-masing pihak ingin menang sendiri dan berat mendengarkan pandangan atau argumentasi saudaranya. Maka yang terjadi adalah sikap saling menyalahkan, dan kalau perlu menjatuhkan kehormatan saudaranya tanpa alasan yang dibenarkan. Kalau seperti itu caranya, ya tidak akan pernah ketemu… Bisa jadi ini hanya sekedar analisa, namun tidak kecil kemungkinannya itu merupakan realita yang ada, wallahul musta’an. Sebagian orang, setelah selesai mendengar kritikan dari saudaranya seketika itu pula ia memberikan ‘serangan balik’ kepada sang pengkritik. Padahal, nasehat yang didengarnya belum lagi meresap ke dalam akal sehatnya. Karena merasa dirinya telah ‘dilecehkan’ dia pun berkata kepada temannya, “Saya juga punya kritikan kepadamu. Kamu itu begini dan begitu…” Wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- marilah kita bersama-sama berlatih untuk menerima kritik dan nasehat dengan lapang dada (lihat wasiat ke-31 bagi penuntut ilmu, dalam Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilm, hal. 268-269). Ingatlah ucapan seorang Syaikh yang mulia ketika berceramah menegaskan isi nasehat Syaikh Rabi’ bin Hadi -hafizhahullah- dalam Daurah Nasional yang belum lama berlalu di Masjid Agung Bantul Yogyakarta, “Tidak ada seorang insanpun melainkan pasti pernah terjatuh dalam kekeliruan… Namun, yang tercela adalah orang yang tetap bersikukuh mempertahankan kesalahannya.” Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang berjiwa besar, Allahumma amin. Rabbanaghfirlana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil iman, wa laa taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu, Rabbana innaka ra’ufur rahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;a href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/orang-yang-berjiwa-besar.html"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-80072694720139162?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/80072694720139162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2011/01/orang-yang-berjiwa-besar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/80072694720139162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/80072694720139162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2011/01/orang-yang-berjiwa-besar.html' title='Orang Yang Berjiwa Besar'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-6801941949627900538</id><published>2010-09-10T17:25:00.001+07:00</published><updated>2010-09-10T17:26:20.354+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel islam'/><title type='text'>Perpisahan Dengan Bulan Ramadhan</title><content type='html'>Tidak terasa sudah sebulan kita menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Dan saatnya kita berpisah dengan bulan yang penuh barokah, bulan yang penuh rahmat dan ampunan Allah, serta bulan di mana banyak yang dibebaskan dari siksa neraka. Pada pembahasan kali ini, kami mengangkat sebuah pelajaran yang cukup berharga yang kami olah dari kitab Latho-if Al Ma’arif karangan Ibnu Rajab Al Hambali dengan judul “Wadha’ Ramadhan”  (Perpisahan dengan Bulan Ramadhan), juga terdapat beberapa tambahan pembahasan dari kitab lainnya. Semoga kalimat-kalimat yang secuil ini bermanfaat bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebab Ampunan Dosa di Bulan Ramadhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, jika kita betul-betul merenungkan, Allah begitu sayang kepada orang-orang yang gemar melakukan ketaatan di bulan Ramadhan. Cobalah kita perhatikan dengan seksama, betapa banyak amalan yang di dalamnya terdapat pengampunan dosa. Maka sungguh sangat merugi jika seseorang meninggalkan amalan-amalan tersebut. Dia sungguh telah luput dari ampunan Allah yang begitu luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah kita lihat pada amalan puasa yang telah kita jalani selama sebulan penuh, di dalamnya terdapat ampunan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengampunan dosa di sini bisa diperoleh jika seseorang menjaga diri dari batasan-batasan Allah dan hal-hal yang semestinya dijaga.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula pada amalan shalat tarawih, di dalamnya juga terdapat pengampunan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadar dengan amalan shalat, juga akan mendapatkan pengampunan dosa sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan-amalan tadi akan menghapuskan dosa dengan syarat apabila seseorang melakukan amalan tersebut karena (1) iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan (2) mencari pahala di sisi Allah, bukan melakukannya karena alasan riya’ atau alasan lainnya.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pengampunan dosa di sini dimaksudkan untuk dosa-dosa kecil sebagaimana pendapat mayoritas ulama.[6] Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.”[7] Yang dimaksud dengan pengampunan dosa dalam hadits riwayat Muslim ini, ada dua penafsiran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, amalan wajib (seperti puasa Ramadhan, -pen) bisa memnghapus dosa apabila seseorang menjauhi dosa-dosa besar. Apabila seseorang tidak menjauhi dosa-dosa besar, maka amalan-amalan tersebut tidak dapat mengampuni dosa baik dosa kecil maupun dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, amalan wajib dapat mengampuni dosa namun hanya dosa kecil saja, baik dia menjauhi dosa besar ataupun tidak. Dan amalan wajib tersebut sama sekali tidak akan menghapuskan dosa besar.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama bahwa dosa yang diampuni adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar bisa terhapus hanya melalui taubatan nashuhah (taubat yang sesungguhnya).[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pengampunan dosa pada malam lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah sempurna (29 atau 30 hari). Dengan sempurnanya bulan Ramadhan, seseorang akan mendapatkan pengampunan dosa yang telah lalu dari amalan puasa dan amalan shalat tarawih yang ia laksanakan.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melalui amalan puasa, shalat malam di bulan Ramadhan dan shalat di malam lailatul qadar, juga terdapat amalan untuk mendapatkan ampunan Allah yaitu melalui istighfar. Memohon ampun seperti ini adalah di antara bentuk do’a. Dan do’a orang yang berpuasa adalah do’a yang mustajab (terkabulkan), apalagi ketika berbuka.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula pengeluaran zakat fithri di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fithri akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fithri adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, -pen) dalam shalat.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dapat kita saksikan, begitu banyak amalan di bulan Ramadhan yang terdapat pengampunan dosa, bahkan itu ada sampai penutup bulan Ramadhan. Sampai-sampai Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Tatkala semakin banyak pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapati pengampunan tersebut, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan yang banyak.”[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Seharusnya Keadaan Seseorang di Hari Raya Idul Fithri Seperti Ini&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui beberapa amalan di bulan Ramadhan yang bisa menghapuskan dosa-dosa, maka seseorang di hari raya Idul Fithri, ketika dia kembali berbuka (tidak berpuasa lagi) seharusnya dalam keadaan bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya bersih dari dosa. Namun hal ini dengan syarat, seseorang haruslah bertaubat dari dosa besar yang pernah ia terjerumus di dalamnya, dia bertaubat dengan penuh rasa penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah perkataan Az Zuhri berikut, “Ketika hari raya Idul Fithri, banyak manusia yang akan keluar menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat ‘ied, Allah pun akan menyaksikan mereka. Allah pun akan mengatakan, “Wahai hambaku, puasa kalian adalah untuk-Ku, shalat-shalat kalian di bulan Ramadhan adalah untuk-Ku, kembalilah kalian dalam keadaan mendapatkan ampunan-Ku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama salaf lainnya mengatakan kepada sebagian saudaranya ketika melaksanakan shalat ‘ied di tanah lapang, “Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.”[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Selepas Ramadhan, Para Salaf Khawatir Amalannya Tidak Diterima&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Para ulama salaf terdahulu begitu semangat untuk menyempurnakan amalan mereka, kemudian mereka berharap-harap agar amalan tersebut diterima oleh Allah dan khawatir jika tertolak. Merekalah yang disebutkan dalam firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (Qs. Al Mu’minun: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Mereka para salaf begitu berharap agar amalan-amalan mereka diterima daripada banyak beramal. Bukankah engkau mendengar firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Ma-idah: 27)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Fudholah bin ‘Ubaid, beliau mengatakan, “Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji saja, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Ma-idah: 27)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Diinar mengatakan, “Tidak diterimanya amalan lebih ku khawatirkan daripada banyak beramal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Aziz bin Abi Rowwad berkata, “Saya menemukan para salaf begitu semangat untuk melakukan amalan sholih. Apabila telah melakukannya, mereka merasa khawatir apakah amalan mereka diterima ataukah tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu sebagian ulama sampai-sampai mengatakan, “Para salaf biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat pula perkataan ‘Umar bin ‘Abdul Aziz berikut tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri. Dikatakan  kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kekhawatiran para salaf. Mereka begitu khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima. Namun berbeda dengan kita yang amalannya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan para salaf. Kita begitu “pede” dan yakin dengan diterimanya amalan kita. Sungguh, teramatlah jauh kita dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana Mungkin Mendapatkan Pengampunan di Bulan Ramadhan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita melihat bahwa di bulan Ramadhan ini penuh dengan pengampunan dosa dari Allah Ta’ala, namun banyak yang menyangka bahwa dirinya kembali suci seperti bayi yang baru lahir selepas bulan Ramadhan, padahal kesehariannya di bulan Ramadhan tidak lepas dari melakukan dosa-dosa besar. Sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwa dosa-dosa kecil bisa terhapus dengan amalan puasa, shalat malam dan menghidupkan malam lailatul qadar. Namun ingatlah bahwa pengampunan tersebut bisa diperoleh bila seseorang menjauhi dosa-dosa besar. Lalu bagaimanakah dengan kebiasaan sebagian kaum muslimin yang berpuasa namun menganggap remeh shalat lima waktu, bahkan seringkali meninggalkannya ketika dia berpuasa padahal meninggalkannya termasuk dosa besar?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kaum muslimin begitu semangat memperhatikan amalan puasa, namun begitu lalai dari amalan shalat lima waktu. Padahal dengan sangat nyata dapat kami katakan bahwa orang yang berpuasa namun enggan menunaikan shalat, puasanya tidaklah bernilai apa-apa. Bahkan puasanya menjadi tidak sah disebabkan meninggalkan shalat lima waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan, “Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat telah melakukan dosa kekafiran dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (Qs. At Taubah: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” [16]“[17] Namun ini nyata terjadi pada sebagian orang yang menunaikan puasa. Mereka begitu semangat menunaikan puasa Ramadhan, namun begitu lalai dari rukun Islam yang lebih penting yang merupakan syarat sah keislaman seseorang yaitu menunaikan shalat lima waktu. Hanya Allah lah yang memberi taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu seperti inikah Idul Fithri dikatakan sebagai hari kemenangan sedangkan hak Allah tidak dipedulikan? Seperti inikah Idul Fithri disebut hari yang suci sedangkan ketika berpuasa dikotori dengan durhaka kepada-Nya? Kepada Allah-lah tempat kami mengadu, semoga Allah senantiasa memberi taufik. Ingatlah, meninggalkan shalat lima waktu bukanlah dosa biasa, namun dosa yang teramat bahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” [18] Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata,  “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.”[19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kenyataan yang dialami oleh orang yang berpuasa. Kadang puasa yang dilakukan tidak mendapatkan ganjaran apa-apa atau ganjaran yang kurang dikarenakan ketika puasa malah diisi dengan berbuat maksiat kepada Allah, bahkan diisi dengan melakukan dosa besar yaitu meninggalkan shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”[20] Jika demikian, di manakah hari kemenangan yang selalu dibesar-besarkan ketika Idul Fithri? Di manakah hari yang dikatakan telah suci lahir dan batin sedangkan hak Allah diinjak-injak? Lalu apa gunanya minta maaf kepada sesama begitu digembar-gemborkan di hari ied sedangkan permintaan maaf kepada Rabb atas dosa yang dilakukan disepelekan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Takbir di Penghujung Ramadhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena begitu banyak pengampunan dosa di bulan Ramadhan, kita diperintahkan oleh Allah di akhir bulan untuk bertakbir kepada-Nya dalam rangka bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Qs. Al Baqarah: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan takbir di sini adalah bacaan “Allahu Akbar”. Mayoritas ulama mengatakan bahwa ayat ini adalah dorongan untuk bertakbir di akhir Ramadhan. Sedangkan kapan waktu takbir tersebut,  para ulama berbeda pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama, takbir tersebut adalah ketika malam idul fithri.&lt;br /&gt;Pendapat kedua, takbir tersebut adalah ketika melihat hilal Syawal hingga berakhirnya khutbah Idul Fithri.&lt;br /&gt;Pendapat ketiga, takbir tersebut dimulai ketika imam keluar untuk melaksanakan shalat ied.&lt;br /&gt;Pendapat keempat, takbir pada hari Idul Fithri.&lt;br /&gt;Pendapat kelima yang merupakan pendapat Imam Malik dan Imam Asy Syafi’i, takbir ketika keluar dari rumah menuju tanah lapang hingga imam keluar untuk shalat ‘ied.&lt;br /&gt;Pendapat keenam yang merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, takbir tersebut adalah ketika Idul Adha dan ketika Idul Fithri tidak perlu bertakbir.[21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur di sini dilakukan untuk mensyukuri nikmat Allah berupa taufik untuk melakukan puasa, kemudahan untuk melakukannya, mendapat pembebasan dari siksa neraka dan ampunan yang diperoleh ketika melakukannya. Atas nikmat inilah, seseorang diperintahkan untuk berdzikir kepada Allah, bersyukur kepada-Nya dan bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa sebenar-benarnya takwa adalah mentaati Allah tanpa bermaksiat kepada-Nya, mengingat Allah tanpa lalai dari-Nya dan bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, tanpa kufur darinya.[22]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd. Di penghujung bulan Ramadhan ini, hanyalah ampunan dan pembebasan dari siksa neraka yang kami harap-harap dari Allah yang Maha Pengampun. Kami pun berharap semoga Allah menerima amalan kita semua di bulan Ramadhan, walaupun kami rasa amalan kami begitu sedikit dan begitu banyak kekurangan di dalamnya. Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian). Semoga Allah menjadi kita insan yang istiqomah dalam menjalankan ibadah selepas bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat (Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya setiap kebaikan menjadi sempurna). Wa shallallahu wa salaamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan menjelang Shubuh, Ahad, 1 Syawal 1430 H, di Ori, Pelauw – Maluku Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/ramadhan/perpisahan-dengan-bulan-ramadhan.html"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]  HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]  Lihat Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 372, Daar Ibnu Katsir [Tahqiq: Yasin Muhammad As Sawaas]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]  HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]  HR. Bukhari no. 1901.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]  Lihat Fathul Bari, 6/290, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]  Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 372 dan Fathul Baari, 6/290&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]  HR. Muslim no. 233.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8]  Latho-if Al Ma’arif, hal. 372&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9]  -Idem-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Latho-if Al Ma’arif, hal. 373&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11]  Latho-if Al Ma’arif, hal. 378&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12]  Latho-if Al Ma’arif, hal. 383&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13]  Latho-if Al Ma’arif, hal. 378&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14]  Latho-if Al Ma’arif, hal. 373-374&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15]  HR. Muslim no. 82&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16]  HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17]  Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 17/62, Asy Syamilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18]  Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, Darul Imam Ahmad, Kairo-Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19]  Al Kaba’ir (Ma’a Syarhi Li Fadhilatisy Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin), Al Imam Adz Dzahabiy, hal. 25, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20]  HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21]  Lihat Fathul Qodir, Asy Syaukani, 1/239, Mawqi’ At Tafasir, Asy Syamilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22]  Latho-if Al Ma’arif, hal. 381&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-6801941949627900538?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/6801941949627900538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/09/perpisahan-dengan-bulan-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/6801941949627900538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/6801941949627900538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/09/perpisahan-dengan-bulan-ramadhan.html' title='Perpisahan Dengan Bulan Ramadhan'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-5049530153273110905</id><published>2010-07-15T20:35:00.007+07:00</published><updated>2010-07-15T20:44:19.845+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Bila Cinta Menyapa</title><content type='html'>‘Cinta bikin orang gila’, begitu kata sebagian orang. Barangkali ada benarnya. Buktinya, banyak kita saksikan para pemuda atau pemudi yang rela melanggar aturan-aturan agama demi mencari keridhaan pacarnya. Alasan mereka, ‘cinta itu membutuhkan pengorbanan’. Kalau berkorban harta atau bahkan nyawa untuk membela agama Allah, tentu tidak kita ingkari. Namun, bagaimana jika yang dikorbankan adalah syariat Islam dan yang dicari bukan keridhaan Ar-Rahman? Semoga tulisan yang ringkas ini bisa menjadi bahan renungan bagi kita bersama, agar cinta yang mengalir di peredaran darah kita tidak berubah menjadi bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di antara manusia ada yang mencintai sekutu-sekutu selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah, adapun orang-orang yang beiman lebih dalam cintanya kepada Allah. Seandainya orang-orang yang zhalim itu menyaksikan tatkala mereka melihat adzab (pada hari kiamat) bahwa sesungguhnya seluruh kekuatan adalah milik Allah dan bahwa Allah sangat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah : 165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, “Allah menceritakan bahwa mereka (orang musyrik) mencintai pujaan-pujaan mereka/sesembahan tandingan itu sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Maka hal itu menunjukkan bahwa mereka juga mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat besar. Akan tetapi hal itu belum bisa memasukkan mereka ke dalam Islam. Lalu bagaimana jadinya orang yang mencintai pujaan (selain Allah) dengan rasa cinta yang lebih besar daripada kecintaan kepada Allah? Lalu apa jadinya orang yang hanya mencintai pujaan tandingan itu dan sama sekali tidak mencintai Allah?” (sebagaimana dinukil dalam Hasyiyah Kitab Tauhid, hal. 7. islamspirit.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan : “Allah ta’ala menyebutkan tentang kondisi orang-orang musyrik ketika hidup di dunia dan ketika berada di akhirat. Mereka itu telah mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah yaitu [sesembahan-sesembahan] tandingan. Mereka menyembahnya disamping menyembah Allah. Dan mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Dia itu adalah Allah yang tidak ada sesembahan yang hak kecuali Dia, tidak ada yang sanggup menentang-Nya, tidak ada yang bisa menandingi-Nya dan tiada sekutu bersama-Nya. Di dalam Ash-Shahihain [Sahih Bukhari dan Muslim] dari Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu’anhu-, dia berkata : Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang terbesar.” Beliau menjawab : “Yaitu engkau mengangkat selain Allah sebagai sekutu bagi-Nya padahal Dialah yang menciptakanmu.” Sedangkan firman Allah, “adapun orang-orang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.” Hal itu dikarenakan kecintaan mereka (orang yang beriman) ikhlas untuk Allah dan karena kesempurnaan mereka dalam mengenali-Nya, penghormatan dan tauhid mereka kepada-Nya. Mereka tidak mempersekutukan apapun dengan-Nya. Akan tetapi mereka hanya menyembah-Nya semata, bertawakal kepada-Nya dan mengembalikan segala urusan kepada-Nya…” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, I/262)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : “Allah ta’ala mengabarkan bahwasanya barangsiapa yang mencintai sesuatu selain Allah sebagaimana mencintai Allah ta’ala maka dia termasuk kategori orang yang telah menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Syirik ini terjadi dalam hal kecintaan bukan dalam hal penciptaan dan rububiyah… Karena sesungguhnya mayoritas penduduk bumi ini telah mengangkat selain Allah sebagai sekutu dalam perkara cinta dan pengagungan.” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah menjelaskan, “Orang-orang musyrik itu menyetarakan sesembahan mereka dengan Allah dalam hal kecintaan dan pengagungan. Inilah pemaknaan ayat tersebut sebagaimana dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah…” (Ibthaalu Tandiid, hal. 180).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam mengatakan : “Penyetaraan semacam itulah yang disebutkan di dalam firman Allah ta’ala tatkala menceritakan penyesalan mereka di akhirat ketika berada di neraka. Mereka berkata kepada sesembahan-sesembahan dan sekutu-sekutu mereka dalam keadaan mereka sama-sama mendapatkan adzab (yang artinya) : “Demi Allah, dahulu kami di dunia berada dalam kesesatan yang nyata, karena kami mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.” (QS. Asy-Syu’araa’ : 97-98). Telah dimaklumi bersama, bahwasanya mereka bukan mensejajarkan sesembahan mereka dengan Rabbul ‘alamin dalam hal penciptaan dan rububiyah. Namun mereka hanya mensejejajarkan pujaan-pujaan itu dengan Allah dalam hal cinta dan pengagungan…” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320-321)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan : “Kecintaan orang-orang yang beriman lebih dalam dikarenakan kecintaan tersebut adalah kecintaan yang murni yang tidak terdapat noda syirik di dalamnya. Sehingga kecintaan orang-orang yang beriman menjadi lebih dalam daripada kecintaan mereka (orang-orang kafir) kepada Allah.” (Al-Qaul Al-Mufid, II/4-5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa makna ‘orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah’ yaitu apabila dibandingkan dengan kecintaan para pengangkat tandingan itu terhadap sekutu-sekutu mereka. Karena orang-orang yang beriman itu memurnikan cinta untuk Allah, sedangkan mereka mempersekutukan-Nya. Selain itu, mereka juga mencintai sesuatu yang memang layak untuk dicintai, dan kecintaan kepada-Nya merupakan sumber kebaikan, kebahagiaan dan kemenangan hamba. Adapun orang-orang musyrik itu telah mencintai sesuatu yang pada hakikatnya tidak berhak sama sekali untuk dicintai. Dan mencintai tandingan-tandingan itu justru menjadi sumber kebinasaan dan kehancuran hamba serta tercerai-cerainya urusannya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 80).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Sumber terjadinya kesyirikan terhadap Allah adalah syirik dalam perkara cinta. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)…” Beliau menegaskan : “Maksud dari pembicaraan ini adalah bahwasanya hakikat penghambaan tidak akan bisa diraih apabila diiringi dengan kesyirikan kepada Allah dalam urusan cinta. Lain halnya dengan mahabbah lillah. Karena sesungguhnya kecintaan tersebut merupakan salah satu koneskuensi dan tuntutan dari penghambaan kepada Allah. Karena sesungguhnya kecintaan kepada rasul –bahkan harus mendahulukan kecintaan kepadanya daripada kepada diri sendiri, orang tua dan anak-anak- merupakan perkara yang menentukan kesempurnaan iman. Sebab mencintai beliau termasuk bagian dari mencintai Allah. Demikian pula halnya pada kecintaan fillah dan lillah…” (Ad-Daa’ wad-Dawaa’, hal. 212-213)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktikan Cintamu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai dia menjadikan aku lebih dicintainya daripada anak, orang tua dan seluruh umat manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata : “Maka keimanan tidak menjadi sempurna sampai Rasul lebih dicintainya daripada seluruh makhluk. Kalau demikian halnya yang seharusnya diterapkan dalam kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bagaimanakah lagi dengan kecintaan kepada Allah ta’ala?!!…” (Al-Qaul Al-Mufid, II/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah : Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku.” (QS. Ali-’Imraan : 31). Syaikhul Islam berkata : “Maka tidaklah seseorang menjadi pecinta Allah hingga dia mau tunduk mengikuti Rasulullah.” (lihat Al-’Ubudiyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan : “Pokok dari seluruh amal perbuatan adalah rasa suka (cinta). Karena seorang manusia tidaklah melakukan sesuatu kecuali apa yang disukainya, baik dalam rangka mendapatkan manfaat atau untuk menolak madharat. Maka apabila dia melakukan sesuatu tentulah karena dia menyukainya, mungkin karena dzat sesuatu itu sendiri (sebab internal) seperti halnya makanan atau karena sebab eksternal seperti halnya meminum obat. Ibadah kepada Allah itu dibangun di atas pondasi kecintaan. Bahkan rasa cinta itulah hakikat dari ibadah. Sebab apabila anda beribadah tanpa memiliki rasa cinta maka ibadah yang anda perbuat akan terasa hambar dan tidak ada ruhnya. Karena sesungguhnya apabila di dalam hati seorang insan masih terdapat rasa cinta kepada Allah dan keinginan untuk menikmati surga-Nya maka tentunya dia akan menempuh jalan untuk menggapainya…” (Al-Qaul Al-Mufid, II/3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa yang pada dirinya terdapat ketiganya niscaya akan merasakan manisnya iman; [1] Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, [2] dia mencintai orang lain tidak lain disebabkan cinta karena Allah, [3] dan dia tidak suka kembali kepada kekafiran sebagaimana dia tidak suka untuk dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR. Bukhari [15,20,5581,6428] dan Muslim [60,61] dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Tali keimanan yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [92] dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu disahihkan Al-Albani dalam takhrij Kitabul Iman karya Ibnu Taimiyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Tanda kebenaran cinta itu ialah apabila seseorang dihadapkan kepadanya dua perkara, salah satunya dicintai Allah dan Rasul-Nya sementara di dalam dirinya tidak ada keinginan (nafsu) untuk itu, sedangkan perkara yang lain adalah sesuatu yang disukai dan diinginkan oleh nafsunya akan tetapi hal itu akan menghilangkan atau mengurangi perkara yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Apabila ternyata dia lebih memprioritaskan apa yang diinginkan oleh nafsunya di atas apa yang dicintai Allah ini berarti dia telah berbuat zalim dan meninggalkan kewajiban yang seharusnya dilakukannya” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 332).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka perhatikanlah wahai saudaraku kecenderungan dan gerak-gerik hatimu, jangan-jangan selama ini engkau telah menobatkan sesembahan selain Allah jauh di dalam lubuk hatimu; entah itu harta, kedudukan, jabatan, benda, atau sesosok manusia. Engkau mengharapkannya, menggantungkan cita-citamu kepadanya, takut kehilangan dirinya sebagaimana rasa takutmu kehilangan bantuan dari Allah ta’ala, sehingga keridhaannya pun menjadi tujuan segala perbuatan dan tingkah lakumu. Halal dan haram tidak lagi kau pedulikan, aturan Allah pun kau lupakan. Aduhai, betapa malang orang-orang yang telah menjadikan makhluk yang lemah dan tak berdaya sebagai tumpuan harapan hidupnya. Sungguh benar Ibnul Qayyim rahimahullah yang mengatakan, “Sesungguhnya mayoritas penduduk bumi ini telah mengangkat selain Allah sebagai sekutu dalam perkara cinta dan pengagungan.” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menyelamatkan hati kita dari tipu daya Iblis dan bala tentaranya, dan semoga Allah meneguhkan hati kita untuk menjunjung tinggi kecintaan kepada-Nya di atas segala-galanya. Sebab tidak ada lagi yang lebih melegakan hati dan perasaan kita selain tatkala Allah ta’ala telah menetapkan cinta-Nya untuk kita, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi-Nya, segala puji bagi Allah Rabb penguasa seluruh alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Muslih&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://muslim.or.id/aqidah/bila-cinta-menyapa.html"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-5049530153273110905?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/5049530153273110905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/07/bila-cinta-menyapa_15.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/5049530153273110905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/5049530153273110905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/07/bila-cinta-menyapa_15.html' title='Bila Cinta Menyapa'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-5036576634455569078</id><published>2010-06-23T11:17:00.000+07:00</published><updated>2010-06-23T11:17:37.302+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>KESEMUTAN PERTANDA PENYAKIT SERIUS?</title><content type='html'>oleh: Dr. Avie Andriyani Ummu shofiyyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Terkadang kita mersakan kesemutan ketika sedang mengetik atau duduk bersila terlalu lama. Kesemutan memang sudah tidak asing lagi bagi kita, karena hamper semua orang pernah merasakannya. Walaupun kelihatannya sepele, kesemutan sering menimbulkan rasa tidak nyaman. Selain itu, kesemutan juga bias menjadi salah satu tanda adanya gangguan saraf dan gejala penyakit serius. Pada kesempatan kali ini, diangkat pembahasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesemutan, termasuk beberapa kiat untuk mencegahnya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apakah Kesemutan Itu?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kesemutan dalam ilmu kedokteran merupakan sebuah gejala gangguan pada fungsi saraf atau aliran darah yang mengakibatkan terjadinya perubahan sensasi yang tidak terasa menjadi kesemutan, baal (sensasi tebal), atau sedikit nyeri bila anggota tubuh bergerak sedikit saja. Gangguan fungsi saraf bias terjadi karena ada kerusakan pada saraf. Ada pula karena gangguan aliran darah yang menimbulkan pemberian makanan di saraf terhambat dan menyebabkan kesemutan. Penyebabnya bermacam-macam, bisa hanya karena tangan kita tertekuk lama atau tertindih sehingga menghambat aliran darah dan menjadi kesemutan atau bisa juga karena adanya penyakit-penyakit tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kapan Harus Waspada?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kita harus waspada jika ada tanda-tanda seperti kesemutan yang tidak hilang setelah bagian tubuh digerak-gerakkan, atau bila pada awalnya haya terasa di dua jari kemudian menjalar ke semua jari, lalu merambat ke tangan, atau semula hanya dialami sebagian kecil organ tubuh namun kemudian merambat ke bagian tubuh yang lebih luas, atau bila semula hanya terjadi sekali-sekali kemudian menjadi semakin sering, atau bila kesemutan menjadi rasa kebal. Jika kita mengalami gejala-gejala semacam ini, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan menyelidiki bagian tubuh yang mengalamii kesemutan, meliputi luasnya, tempat awal kesemutan, dan perkembangan kesemutan itu sejak awal. Semua informasi ini akan menunjukkan penyebab terjadinya kesemutan. Barangkali ada gangguan pada saraf tepi, otot, sumsum tulang belakang, atau mungkin otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gejala Penyakit Serius&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu mengetahui beberapa penyakit serius yang ditandai gejala kesemutan, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. &lt;b&gt;Carpal Tunnel Syndrome&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;. Gejalanya berupa kesemutan yang menyerang ujung jari tangan kanan dan kemudian berkembang menjadi rasa tebal saat digunakan beraktivitas. Gejala kesemutan ini berkaitan dengan rogga di pergelangan tangan yang mengalami pembesaran otot-otot sehingga menekan saarf yang melewati terowongan tersebut. CTS bisa menjadi gangguan lebih serius bila dibiarkan cukup lama, misalnya 1-2 tahun. Pada tahanp ini tekanan otot sudah menganggu aliran darah ke tangan, dan mengakibatkan otot-otot yang mengalami kekurangan nutrisi akan mengecil, dan akibatnya bisa melemahkan otot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. &lt;b&gt;Diabetes Mellitus&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;. Pada penderita kencing manis, kesemutan adalah gejala kerusakan pembuluh-pembuluh dara. Akibatnya, darah yang mengalir di ujung-unjung saraf berkurang. Gejala yang dirasakan biasanya telapak kaki terasa tebal, kadang-kadang panas, dan kesemutan di ujung jari terus-menerus. Kemudian disertai rasa nyeri yang menikam, seperti ditusuk-tusuk di ujung telapak kaki, terutama pada malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. &lt;b&gt;Radang Sumsum Tulang Belakang&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;. Terjadi pada orang dewasa, kadang-kadang gejala kesemutan didahului oleh flu berat. Kesemutan yang dirasakan akan menghebat, naik dari ujung jari kaki sampai ke pusar. Gejalanya berkembang menjadi rasa tebal di permukaan kulit. Setelah fase ini, penderita akan mengalami kesulitan berjalan. Ini adalah gejala radang sumsum tulang belakang, yang terjadi karena serangan virus bernama cytomegalovirus. Pada kasus seperti ini, penderita menjadi tidak bisa mengontrol buang air kecil, dan buang air besar juga sulit. Penyakit ini dapat disembuhkan total, dapat pula Cuma sembuh sebagian, tetapi ada juga yang sampai lumpuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. &lt;b&gt;Jantung&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;. Pada penderita sakit jantung, kesemutan dapat juga timbul karena komplikasi jantung dan sarafnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Rematik&lt;/b&gt;. Penyakit yang satu ini juga bisa menimbulkan kesemutan atau rasa tebal. Gejala kesemutan karena rematik ini akan hilang bila rematiknya sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Stroke&lt;/b&gt;. Pada penderita stroke, bila yang terserang sistem otorik, maka bisa berakibat lumpuh. Namun, bila yang terserang sistem sensorik, yang dirasakan penderita hanya kesemutan atau baal sebelah, yang disebut sensorik stroke. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Anak-Anak Juga Bisa Mengalaminya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika si kecil mengeluh kesemutan, besar kemungkinan akibat kekurangan vitamin B. Biasanya ini diderita anak-anak yang agak besar, berbeda dengan orang dewasa, kesemutan pada anak jarang terjadi, karena jaringan sarafnya masih fleksibel dan anak-anak biasanya lebih aktif bergerak. Untuk mencegahnya, kita bisa memberikan makanan yang banyak mengandung vitamin B seperti daging, hati, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. Vitamin B bisa membantu mengaktifkan sistem saraf dengan membantu profduksi neurotransmiter-koenzim pembawa rangsangan pesan dari satu sel saraf ke sel saraf yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kiat menghindari kesemutan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kiat yang bisa kita praktekkan untuk menghindari kesemutan, antara lain:&lt;br /&gt;- Jika sedang duduk bersila, sesekali ubahlah posisi, jika awalnya kaki kanan diatas kaki kiri, maka lakukan sebaliknya. Selain itu, hindari duduk di kursi dengan menyilangkan kaki terlalu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bagi yang bekerja dengan menggunakan komputer, sebaiknya membiasakan mengetik dengan pergelangan tangan tidak menyentuh meja. Untuk itu, hendaknya mengetik dengan posisi duduk di kursi yang tingginya proporsional dengan meja dan keyboard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hindari kebiasaan bertopang dagu dan berdiri disamping meja sambil menopang badan sebelah tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika anda termasuk orang yang banyak melakukan gerakan-gerakan ketika sedang tertidur, sebaiknya pilih alas tidur yang tidak keras. Supaya tidak terjadi benturan yang bisa menybebabkan gangguan saraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hindari posisi tidur dengan meletakkan tangan di belakang kepala atau tertidur sambil duduk dengan osisi ketiak di sandaran kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jangan menulis dengan posisi tengkuranp, tapi duduklah di kursi dengan pantat merapat ke belakang dan punggung lurus menempel pada sandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sebagai umat Mulim, maka hendaklah kita menjauhi minuman keras. Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah melarang meminum khamr/minuman keras karena dapat menimbulkan kemadharatan (bahaya). Di antaranya, para penggemar minuman keras lebih mudah mengalami kesemutan, bila takaran alkohol yang merasuki tubuhnya terlalu banyak. Hal ini akibat alkohol mersak metabolisme vitamin B1, timbullah gangguan pada saraf. Tentu saja, karena vitamin ini salah satu unsur yang diperlukan untuk penghantaran rangsang listrik pada saraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin B untuk menjaga kesehatan saraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 04 Thn. XIII&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-5036576634455569078?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/5036576634455569078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/06/kesemutan-pertanda-penyakit-serius.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/5036576634455569078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/5036576634455569078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/06/kesemutan-pertanda-penyakit-serius.html' title='KESEMUTAN PERTANDA PENYAKIT SERIUS?'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-248290612404406332</id><published>2010-06-19T09:45:00.000+07:00</published><updated>2010-06-19T09:45:04.280+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan Umum'/><title type='text'>ROKET AIR</title><content type='html'>A)Definisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roket air adalah sebuah pesawat sederhana yang dapat kita buat hanya dengan modal kemauan dan keterampilan. Roket air dibuat untuk banyak proses ada yaitu; tekanan udara, untuk mengukur ketinggian dan kecepatan udara. Tetapi yang sangat di tonjolkan pada Hukum tekanan udara. Roket ini dibuat dengan botol bekas yang banyak di beli oleh masyarakat yaitu botol soft drink. Mengapa botol soft drink yang kita pakai? Karena botol soft drink memiliki bahan yang kuat terhadap tekanan udara. Hal itu dapat dibuktikan suatu prodak minnuman bersoda memiliki kandungan gas karbon dioksida yang apabila botol tersebut di Shake (kocok), botol terebut akan mengeras karena tekanan udara yang ingin keluar tidak bisa keluar dan menyebabkan udara tersebut menekan lapisan botol supaya udara tersebut keluar. Ini merupakan aplikasi dari tugas Fisika yaitu tentang tekanan udara, karena tekanan udara jika di aplikasikan seperti ini di mudahkan untuk memahami sebuah materi dan dapat juga belajar bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B)Bahan dan alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Bahan pembuatan roket:&lt;br /&gt;Botol bekas (soft drink) : 3 buah&lt;br /&gt;Pentil Motor : 1 buah&lt;br /&gt;Fiberglass/toples bekas : 1 pasang&lt;br /&gt;Mur untuk pentil : 1 buah&lt;br /&gt;PiloX atau pewarna lainnya : bebas&lt;br /&gt;Lem sifatnya sangat kuat : 1 buah&lt;br /&gt;Air berwarna/tawar dan dicampur detergen/baking soda : 150 ml&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan pembuatan dudukan roket:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipa 1 meter dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:&lt;br /&gt;8 cm : 4 buah&lt;br /&gt;11 cm : 1 buah&lt;br /&gt;5 cm : 3 buah&lt;br /&gt;6 cm : 1 buah&lt;br /&gt;3 cm : 2 buah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipa berbentuk L : 10 buah&lt;br /&gt;Pipa berbentuk T : 9 buah&lt;br /&gt;Lem Pipa : 1 buah&lt;br /&gt;Pengait pentil motor : 1 buah&lt;br /&gt;Selang kecil putih : 1,5 meter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat:&lt;br /&gt;Gergaji&lt;br /&gt;Gunting&lt;br /&gt;Pompa dengan pengukur tekanan&lt;br /&gt;Penggaris&lt;br /&gt;Pensil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C)Cara Pembuatan Roket Air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Langkah pertama dalam membuat proses roket air yaitu dengan membuat roketnya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;b) Pilihlah botol soft drink sesuai dengan kekuatan tekanan yang besar.&lt;br /&gt;c) Berikutnya potonglah 1 botol tersebut dari pantat botol 1 cm.&lt;br /&gt;d) Gabungkan botol yang telah dipotong dengan botol satunya lagi dengan erat dan lurus.&lt;br /&gt;e) Ambilah botol yang terakhir dan potonglah sisi botol yang tidak ada lekukan. Untuk di gabungkan dengan botol yang tidak dipotong di sisi bawah sesudah leher botol.&lt;br /&gt;f) Rekatkan sambungan semua itu dengan lem power glue atau sebagainya.&lt;br /&gt;g) Keringkanlah dibawah pohon untuk diangin-anginkan.&lt;br /&gt;h) Sambil menunnggu mengering, kita membuat lubang untuk memberikan tekan supaya meluncur ke atas.&lt;br /&gt;i) Kita membutuhkan tutup botol. Lubangi tutup itu dengan gunting tepat ditengah botol.&lt;br /&gt;j) Setelah itu coba masukan pentil motor ke lubang itu. Apabila tidak bisa, kita bolongi sedikit lagi supaya dapat masuk pentil tersebut.&lt;br /&gt;k) Berikutnya, eratkan tutup botol tersebut dan pentil dengan mur dengan cara di kunci.&lt;br /&gt;l) Jika sudah kita langsung membuat kedudukan untuk roket.&lt;br /&gt;m) Kita pilih terlebih dahulu paralon yang bagus dan kuat untuk menjadikan kedudukan roket.&lt;br /&gt;n) Potong pipa panjang dengan ukur seperti berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UKURAN PIPA&lt;br /&gt;JUMLAH PIPA YANG DI GUNAKAN&lt;br /&gt;8 cm: 4 buah&lt;br /&gt;11 cm: 1 buah&lt;br /&gt;5 cm: 3 buah&lt;br /&gt;6 cm: 1 buah&lt;br /&gt;3 cm: 2 buah&lt;br /&gt;o)Lalu gabungkan semua potongan pipa tersebut dengan pipa L dan T, dengan peta skema berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;p) Dan rakitlah dudukan diatas menjadi dudukan yang sempurna sesuia dengan symbol yang telah diberikan.&lt;br /&gt;q) Lalu pasanglah roket diujung pipa untuk memulai meluncurkan roket tersebut.&lt;br /&gt;r) Pertama isilah roket tersebut di sisi bawah dan letakkan dipengait yang berada di ujung pipa.&lt;br /&gt;s) Pasanglah pentil yang berada di selang panjang ke pengait pompa.&lt;br /&gt;t) Pompalah air yang berada didalam roket dengan tekanan udara 3,5 samapai 4.5.&lt;br /&gt;u) Lepaskan pentil yang berada di pompa dan kemudian lepaskan pentil yang kedua di pengait yang ada di ujung pipa (hati-hati terhadap tekanan udara memuncratkan air ke sekitar peluncuran roket).&lt;br /&gt;v) Dan roket pun meluncur dengan kekuatan kurang lebih 1 km perjam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-248290612404406332?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/248290612404406332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/06/roket-air.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/248290612404406332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/248290612404406332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/06/roket-air.html' title='ROKET AIR'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-162210452011687466</id><published>2010-04-22T10:02:00.003+07:00</published><updated>2010-04-22T10:05:04.368+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengetahuan Umum'/><title type='text'>Ibrahim Handoko Nominasi Peneliti Remaja Terbaik 2010 di Jerman</title><content type='html'>Satu lagi anak bangsa yang moncer di luar negeri, tepatnya di negerinya Adolf Hitler, di Jerman. ABG yang bernama Ibrahim Handoko ini masuk sebagai Nominasi Peneliti Remaja Terbaik 2010 di Jerman gara – gara dia bisa menyelesaikan perhitungan angka piramida menggunakan rumus dan formula ciptaannya sendiri. Prestasinya ini membikin bule – bule di jerman bikin geleng – geleng kepala. Nah, daripada lihat orang – orang tua di DPR/MPR, menteri &amp; pejabat yang sibuk korupsi dan sibuk menutupi belangnya, mendingan anda baca kabar selengkapnya yang saya cuplik dari detiknews.com.&lt;br /&gt;Rumus-Piramida-Ibrahim-Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 25/02/2010 05:18 WIB&lt;br /&gt;Temukan Rumus Angka Piramida, Remaja RI Disorot Media Jerman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin – Seorang remaja Indonesia Ibrahim Handoko (15) mencuri perhatian media-media di Jerman. Ibrahim berhasil memformulasikan persamaan untuk menyelesaikan perhitungan angka piramida dengan jumlah tidak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim, remaja santun yang juga aktif di berbagai kegiatan masjid ini mengundang decak kagum dari para pengajarnya di Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dilansir dari situs berita jerman www.derwesten.de, Kamis (25/2/2010) guru matematika dan pembimbing Ibrahim, Michael Wallau mengatakan muridnya adalah seorang yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah temuan yang luar biasa bagi seorang remaja berusia 15 tahun, terlebih lagi ia menyelesaikan persamaan ini hanya disela-sela waktu luangnya,“ ujar Wallau pada derwesten.de.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, Ibrahim hanya berniat membantu adik perempuannya menyelesaikan tugas sekolah tentang piramida. Persoalan ini pada intinya adalah menghitung jumlah angka pada elemen teratas suatu piramida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, persoalan ini diselesaikan dengan cara menjumlahkan satu persatu angka di setiap elemen penyusun pramida sehingga ditemukan jumlah total dalam piramida tersebut. Dengan rumus temuan Ibrahim, persoalan ini bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat tanpa harus menghitung satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat penemuannya ini, Ibrahim menjadi salah satu nominasi peneliti remaja terbaik tahun 2010 di Jerman. Selain itu, putra pasangan Bapak Budi Handoko dan Ibu Nuningsih ini, juga terpilih sebagai matematikawan terbaik dan berhak mewakili distriknya dalam olimpiade matematika di tingkat negara bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2010/02/25/051841/1306363/10/temukan-rumus-angka-piramida-remaja-ri-disorot-media-jerman"&gt;www.detiknews.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-162210452011687466?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/162210452011687466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/04/ibrahim-handoko-nominasi-peneliti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/162210452011687466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/162210452011687466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/04/ibrahim-handoko-nominasi-peneliti.html' title='Ibrahim Handoko Nominasi Peneliti Remaja Terbaik 2010 di Jerman'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-5917398059859159662</id><published>2010-03-01T18:01:00.002+07:00</published><updated>2010-03-01T18:04:49.159+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikih'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;Petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Ketika Makan Kurma&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Senin, 17 September 2007 03:05:23 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Abu Zubair Zaki Rakhmawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya dalam diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat teladan dalam berbagai perkara, termasuk di dalamnya ketika makan kurma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a]. Disunnahkan Makan Kurma Sebelum Berangkat Shalat Iedul Fithri&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat shalat pada hari raya Iedul Fithri, sehingga beliau makan beberapa buah kurma”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murajja bin Raja mengatakan : “Ubaidillah pernah memberitahukan kepadaku, dimana ia menceritakan, Anas bin Malik pernah memberitahukan kepadaku, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau makan kurma itu dalam jumlah yang ganjil” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa mengkonsumsi kurma sebelum menuju tempat shalat Iedul Fithri adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sangat dianjurkan untuk makan lebih dari satu kurma dengan jumlah ganjil. Hal ini berdasarkan lafazh hadits di atas yang dilafazhkan ‘tamarat’ (kurma dalam bentuk jamak, bukan satu atau dua tapi lebih dari dua). Maka satu kurma belum cukup untuk menyempurnakan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu dianjurkan untuk makan kurma sebanyak tiga, lima, tujuh, sembilan ataupun sebelas, yang penting adalah berjumlah ganjil dan lebih dari dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hikmah dari mendahulukan makan sebelum shalat Iedul Fithri adalah sebagai simbol bahwa pada hari itu telah dihalalkan untuk berbuka atau makan dan minum di pagi hari. Hal ini juga karena hari sebelumnya adalah hari diwajibkannya puasa sedangkan hari ketika Iedul Fithri adalah hari diwajibkannya berbuka atau makan dan minum. Bersegera untuk merealisasikan konsekuensi dari wajibnya berbuka pada hari Iedul Fithri adalah sangat utama. Oleh karena itu dengan mengkonsumsi beberapa butir kurma sebelum berangkat ke tempat shalat Iedul Fithri telah mecakup keutamaan yang dianjurkan tersebut.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi yang dianjurkan adalah makan beberapa kurma sebelum berangkat menuju tempat shalat Iedul Fithri, bukan Iedul Adha. Hal ini sebagaimana hadits Buraidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah keluar (menuju tempat shalat ‘Ied) pada hari Iedul Fithri sampai beliau makan terlebih dahulu. Begitu juga tidak pernah makan ketika hari Iedul Adha sampai beliau selesai melaksanakan shalat Iedul Adha terlebih dahulu” [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Makan Kurma Dengan Keju&lt;br /&gt;Sebagaimana yang diriwayatkan dari kedua anak Busyr As-Sulamiyyain, mereka berdua berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi kami, maka kami hidangkan kepada beliau, keju dan kurma kering, sedangkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai keju dan tamr (kurma kering)” [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah memberikan komentarnya terhadap hadits tersebut dalam Ath-Thibb An-Nabawy : ‘Zubdah (keju) dapat berfungsi melunakkan tinja, melemaskan syaraf dan bengkak yang terjadi pada kandung empedu dan juga kerongkongan, berkhasiat juga mengatasi kekeringan yang terjadi. Bila dioleskan pada gusi bayi, berkhasiat sekali mempercepat pertumbuhan gigi. Berguna untuk mengatasi batuk yang timbul karena hawa panas atau hawa dingin, menghilangkan kudis dan kulit kasar. Rasa mual yang terkandung dapat menghilangkan selera makan namun dapat diatasi dengan makanan yang manis-manis, seperti madu dan kurma. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkombinasikan antara kurma dan keju, terdapat hikmah agar kedua jenis makan tersebut saling melengkapi” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keju dengan kandungan lemak dan protein yang tinggi dapat menambah kekurangan kandungan lemak yang terkandung dalam kurma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Makan Kurma Dengan Mentimun&lt;br /&gt;Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Aku melihat Rasulullah makan buah mentimun dengan ruthab (kurma basah)” [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini mempunyai pelajaran yang sangat agung yaitu menggambarkan tentang keahlian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal mengkonsumsi makanan secara seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencampur buah kurma dan mentimun dengan tujuan agar rasa panas yang terkandung dalam kurma dapat menyeimbangkan rasa dingin dan basah yang ada di mentimun, hal ini karena mentimun agak sulit untuk dicerna di lambung, dingin dan terkadang berbahaya[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[d]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Pernah Makan Kurma Dengan Semangka.&lt;br /&gt;Sebagaimana hadits : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa makan semangka dengan kurma basah”. [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c]. Kurma Dapat Dijadikan Arak Dimana Hal Itu Telah Diharamkan Dalam Islam&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya sebagian dari anggur itu (dapat dijadikan) khamr (arak), dan sebagian dari kurma itu (dapat dijadikan) khamr (arak), dan sebagian dari madu itu (dapat dijadikan) khamr (arak) dan sebagian dari biji gandum itu berupa khamr (arak), sebagian dari gandum gerst/sejenis tepung sereal (dapat dijadikan) khamr (arak)” [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dengan sedikit penyesuaian dari buku Kupas Tuntas Khasiat Kurma Berdasarkan Al-Qur’an Al-Karim, As-Sunnah Ash-Shahihah dan Tinjauan Medis Modern, Penulis Zaki Rahmawan, Pengantar Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Media Tarbiyah – Bogor, Cetakan Pertama, Dzul Hijjah 1426H]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. HR Al-Bukhari (no. 953) dan Ibnu Majah (no. 1754) dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu&lt;br /&gt;[2]. Diringkas dari Asy-Syarhul Mumti fii Zaadil ‘ala Zaadil Mustaqni (III/93-94) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, tahqiq Khalid Ammar, cet. Maktabah Islamiyah Mesir, th. 2002M&lt;br /&gt;[3]. HR Ahmad (V/352), At-Tirmidzi (no. 542), Ibnu Majah (no. 1756), Al-Hakim (I/294), dan lafazh ini milik At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ish Shaghiir (no. 4845)&lt;br /&gt;[4]. HR Abu Dawud (no. 3837) dan Ibnu Majah (no. 3343) dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah (no. 2694)&lt;br /&gt;[5]. Ath-Thibb An-Nabawy (hal. 313) oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, cet. Maktabah Nizaar Musthafa Al-Baaz, th 1418H&lt;br /&gt;[6]. HR Al-Bukhari (no. 5440) dan Muslim (no. 2043) dari Abdullah bin Ja’far&lt;br /&gt;[7]. Ath-Thibb An-Nabawy (hal. 339-340) oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, cet. Maktabah Nizaar Musthafa Al-Baaz, th. 1418H&lt;br /&gt;[8]. HR Al-Humaidhi dalam Musnad (I/42), Abu Dawud (no. 2826) dari Aisyah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah (no. 57)&lt;br /&gt;[9]. HR Abu Dawud (no. 3676) dan Ahmad (IV/267). Dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Ash-Shahihah (no. 1593)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2231/slash/0"&gt;www.almanhaj.or.id&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-5917398059859159662?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/5917398059859159662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/03/petunjuk-rasulullah-shallallahu-alaihi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/5917398059859159662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/5917398059859159662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/03/petunjuk-rasulullah-shallallahu-alaihi.html' title=''/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-895209083364710473</id><published>2010-01-19T17:47:00.000+07:00</published><updated>2010-01-19T17:47:14.546+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel islam'/><title type='text'>Nasihat Untuk Remaja Muslim</title><content type='html'>Kami persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim, agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah subhanahu wata’ala sebagai penciptanya, agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para pemuda muslim, tidakkah kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya? Tidakkah kalian menginginkan jannah (surga) Allah subhanahu wata’ala yang luasnya seluas langit dan bumi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, jannah Allah subhanahu wata’ala itu diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal. Jannah itu disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, mereka merasa bahwa gemerlapnya kehidupan dunia ini akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada kehidupan yang sengsara di negeri akhirat selamanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para pemuda, ketahuilah, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan kita bukan tanpa adanya tujuan. Bukan pula memberikan kita kesempatan untuk bersenang-senang saja, tetapi untuk meraih sebuah tujuan mulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beribadah, kita dituntut untuk ikhlas dalam menjalankannya. Yaitu dengan beribadah semata-mata hanya mengharapkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan beribadah karena terpaksa, atau karena gengsi terhadap orang-orang di sekitar kita. Apalagi beribadah dalam rangka agar dikatakan bahwa kita adalah orang-orang yang alim, kita adalah orang-orang shalih atau bentuk pujian dan sanjungan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umurmu Tidak Akan Lama Lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para pemuda, jangan sekali-kali terlintas di benak kalian: beribadah nanti saja kalau sudah tua, atau mumpung masih muda, gunakan untuk foya-foya. Ketahuilah, itu semua merupakan rayuan setan yang mengajak kita untuk menjadi teman mereka di An Nar (neraka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kalian, kapan kalian akan dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala, berapa lama lagi kalian akan hidup di dunia ini? Jawabannya adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para pemuda, bertaqwalah kalian kepada Allah subhanahu wata’ala. Mungkin hari ini kalian sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang tertawa, berpesta, dan hura-hura menyambut tahun baru dengan berbagai bentuk maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi keesokan harinya kalian sudah berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang menangis menyaksikan jasad-jasad kalian dimasukkan ke liang lahad (kubur) yang sempit dan menyesakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa celaka dan ruginya kita, apabila kita belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ, فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ, يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan kembali dan tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para pemuda, takutlah kalian kepada adzab Allah subhanahu wata’ala. Sudah siapkah kalian dengan timbangan amal yang pasti akan kalian hadapi nanti. Sudah cukupkah amal yang kalian lakukan selama ini untuk menambah berat timbangan amal kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sengsaranya kita, ketika ternyata bobot timbangan kebaikan kita lebih ringan daripada timbangan kejelekan. Ingatlah akan firman Allah subhanahu wata’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ نَارٌ حَامِيَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersegeralah dalam Beramal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para pemuda, bersegeralah untuk beramal kebajikan, dirikanlah shalat dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena shalat adalah yang pertama kali akan dihisab nanti pada hari kiamat, sebagaimana sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلاَةُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya amalan yang pertama kali manusia dihisab dengannya di hari kiamat adalah shalat.” (HR. At Tirmidzi, An Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lafazh hadits riwayat Abu Dawud no.733)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi laki-laki, hendaknya dengan berjama’ah di masjid. Banyaklah berdzikir dan mengingat Allah subhanahu wata’ala. Bacalah Al Qur’an, karena sesungguhnya ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaklah bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kalian lakukan selama ini. Mudah-mudahan dengan bertaubat, Allah subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memberi pahala yang dengannya kalian akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para pemuda, banyak-banyaklah beramal shalih, pasti Allah subhanahu wata’ala akan memberi kalian kehidupan yang bahagia, dunia dan akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An Nahl: 97)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat nanti. Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu haditsnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang cobalah mengoreksi diri kalian sendiri, sudahkah kalian mengisi masa muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah subhanahu wata’ala? Ataukah kalian isi masa muda kalian dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kalian masih saja mengisi waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan lupa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka jawaban apa yang bisa kalian ucapkan di hadapan Allah subhanahu wata’ala Sang Penguasa Hari Pembalasan? Tidakkah kalian takut akan ancaman Allah subhanahu wata’ala terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah subhanahu wata’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, pergunakanlah kesempatan di masa muda kalian ini untuk kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat-ingatlah selalu bahwa setiap amal yang kalian lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah subhanahu wata’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauhi Perbuatan Maksiat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menyebabkan Adam dan Hawwa dikeluarkan dari Al Jannah (surga)? Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua kepada Allah subhanahu wata’ala. Mereka melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala karena mendekati sebuah pohon di Al Jannah, mereka terbujuk oleh rayuan iblis yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para pemuda, senantiasa iblis, setan, dan bala tentaranya berupaya untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap amalan kejelekan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun kecil pasti akan dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau lakukan itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah: 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setan juga menghendaki dengan kemaksiatan ini, umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan. Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wata’ala, itu merupakan wujud solidaritas dan kekompakan di antara kalian. Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang engkau cintai menjadi musuh yang paling engkau benci. Allah subhanahu wata’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah: 91)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah setan menjadikan perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sebagai sarana untuk memecah belah dan menimbulkan permusuhan di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah yang Benar Dibangun di atas Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para pemuda, setelah kalian mengetahui bahwa tugas utama kalian hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala semata, maka sekarang ketahuilah bahwa Allah subhanahu wata’ala hanya menerima amalan ibadah yang dikerjakan dengan benar. Untuk itulah wajib atas kalian untuk belajar dan menuntut ilmu agama, mengenal Allah subhanahu wata’ala, mengenal Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengenal agama Islam ini, mengenal mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah), serta mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ilmu agama, kalian akan terbimbing dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga ibadah yang kalian lakukan benar-benar diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak orang yang beramal kebajikan tetapi ternyata amalannya tidak diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, karena amalannya tidak dibangun di atas ilmu agama yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, wahai para pemuda muslim, pada kesempatan ini, kami juga menasehatkan kepada kalian untuk banyak mempelajari ilmu agama, duduk di majelis-majelis ilmu, mendengarkan Al Qur’an dan hadits serta nasehat dan penjelasan para ulama. Jangan sibukkan diri kalian dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi diri kalian, terlebih lagi hal-hal yang mendatangkan murka Allah subhanahu wata’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no.224)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir Kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga nasehat yang sedikit ini bisa memberikan manfaat yang banyak kepada kita semua. Sesungguhnya nasehat itu merupakan perkara yang sangat penting dalam agama ini, bahkan saling memberikan nasehat merupakan salah satu sifat orang-orang yang dijauhkan dari kerugian, sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam surat Al ‘Ashr:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu ta‘ala a’lam bishshowab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Buletin Al-Ilmu, Penerbit Yayasan As-Salafy Jember&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana seorang muslim menempuh jalan keselamatan? Apa yang harus dilakukannya dalam menempuh kehidupan yang penuh dengan hal-hal yang bersifat materi ini, yang manusia sangat berlebihan dalam bergelimang padanya sehingga menyebabkan kerasnya hati-hati mereka, Wal ‘Iyadzubillah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa nasehat dan arahan anda kepada saya sebagai seorang pemuda berusia 20 tahun yang cenderung kepada dunia? Apa buku-buku yang anda nasehatkan kepada kami untuk dibaca?&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’ menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib atas engkau untuk bertaqwa kepada Allah ta’ala, mentaati-Nya, dan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi engkau dan menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat, menjauhi berbagai fitnah, senantiasa berbuat baik dan menghindari segala bentuk kejelekan, memperbanyak membaca Al-Qur’an disertai dengan upaya memahami maknanya, menjaga dzikir-dzikir yang shahih dan tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disertai dengan sikap rendah diri dan menghadirkan hati (khusyu’), membaca kitab (buku-buku) yang banyak terdapat di dalamnya hikmah-hikmah dan nasehat-nasehat seperti kitab Al-Fawa’id dan kitab Ad-Da’u Wad Dawa’ yang keduanya karangan Ibnul Qayyim rahimahullah, berdo’alah kepada Allah dalam sujud engkau dengan do’a-do’a yang terdapat dalam As-Sunnah disertai dengan rendah diri dan khusyu’, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah dan melapangkan hati engkau untuk berada di atas kebaikan, dan menjaga engkau dari segala fitnah yang nampak maupun tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di antara kitab-kitab yang bermanfaat adalah Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ighatsatul Lahfan yang keduanya karangan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan juga kitab Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid, disertai dengan perhatian kepada kitab Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dan tafsri Ibni Katsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وصلى الله على نبينا محمد وصحبه وسلم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa Islamiyyah IV/498]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=418&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-895209083364710473?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/895209083364710473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/01/nasihat-untuk-remaja-muslim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/895209083364710473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/895209083364710473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2010/01/nasihat-untuk-remaja-muslim.html' title='Nasihat Untuk Remaja Muslim'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-8120026336765329001</id><published>2009-12-27T14:31:00.004+07:00</published><updated>2009-12-27T14:40:30.149+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa Arab'/><title type='text'>Belajar Bahasa Arab</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;iframe scrolling="auto" width="450" src="http://www.freewebs.com/arabindo/isi.htm" height="500"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-8120026336765329001?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/8120026336765329001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/belajar-bahasa-arab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/8120026336765329001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/8120026336765329001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/belajar-bahasa-arab.html' title='Belajar Bahasa Arab'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-5980596416229367929</id><published>2009-12-25T15:20:00.001+07:00</published><updated>2009-12-25T15:22:29.019+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel islam'/><title type='text'>50 Pelajaran Berharga dari Haji</title><content type='html'>Oleh: Syeikh Aqil bin Salim Asy-Syammari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Alloh… sholawat dan salam atas Nabi pilihan Alloh… waba’du:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah, 50 pelajaran berharga dari Rukun Islam Kelima untuk kehidupan manusia. Semoga Alloh memberikan taufig, bantuan, dan menunjuki kebenaran pada kami dalam menyelesaikan tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendidikan untuk mentauhidkan Alloh, baik dalam ucapan maupun amalan, hal ini terlihat jelas dalam beberapa amalan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bacaan talbiyah, yang disebut juga dengan kalimat tauhid: Labbaikallohumma labbaik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Dimasukkannya dalam talbiyah kata: la syarika lak (tiada sekutu bagi-Mu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kata la syarika lak yang diulangi dua kali dalam bacaan talbiyah, ini menunjukkan adanya penekanan dalam hal tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Kata-kata: “Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk”, maksudnya adalah: “Sesungguhnya semua pujian, segala nikmat, dan seluruh kekuasaan hanya bagi-Mu ya Alloh”, dan ini juga mengandung nilai tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Larangan thowaf di selain Ka’bah, itu artinya kita dilarang untuk thowaf di arofah, di jamarot, di pemakaman, tempat keramat, tempat bersejarah, dll. Ini semua bukti keyakinan kita, bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh, dan itulah diantara bentuk nyata mentauhidkan Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendidikan untuk banyak memuji Alloh. Hal ini tampak pada kata hamdalah yang ada dalam talbiyah. Meski saat datang ke tanah suci, jamaah haji sedang dalam keadaan tertimpa musibah, didera cobaan, sakit, miskin, dan terasingkan… mereka semua tetap memuji Alloh, seakan-akan mereka dalam keadaan lapang, sehat, dan kuat… Sungguh tak diragukan lagi, memuji Alloh dianjurkan bagi setiap muslim, baik di saat suka, maupun duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pendidikan untuk selalu membasahi lisan dengan dzikir, ini tampak pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Disunnahkannya membaca talbiyah hingga sampai di masjidil harom, atau sampai melihat ka’bah, atau sampai memulai thowaf. Meski para ulama berbeda pendapat tentang kapan harus mengakhiri talbiyah, tapi semua pendapat itu mengisyaratkan anjuran untuk memperbanyak talbiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Saat thowaf, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa, atau dzikir, atau pujian pada Alloh, dan semuanya merupakan bentuk dzikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Dalam sai juga demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Doa di Hari Arofah yang berupa dzikir: “la ilaaha illallohu wahdahu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Hari-hari di mina adalah hari untuk makan, minum, dan berdzikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Disyariatkannya melempar jumroh adalah untuk berdzikir mengingat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Disunnahkan untuk membaca takbir dalam setiap lemparan kerikilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi tempat dan kesempatan lain untuk memperbanyak dzikir dalam ibadah haji ini. Itu semua mengajarkan pada seorang muslim agar lisannya selalu basah dengan bacaan dzikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mengajarkan kita untuk mengingat mati, yaitu dari pengenaan kain kafan dalam pelaksanaannya. Dengan ini, seorang mukmin akan teringat dan merasakan bagaimana akhir hidupnya, sehingga hal itu akan mempengaruhi hati dan amalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mengajarkan manusia untuk zuhud pada dunia dan kenikmatannya. Baik dia seorang yang kaya, presiden, atau menteri, ia tidak akan mengenakan kecuali baju putih itu. Seandainya ia ingin mengenakan baju lain yang dimilikinya, tetap saja tidak diperbolehkan baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6- Mendidik manusia untuk qona’ah, sekaligus memberi pelajaran bahwa kekayaan yang hakiki adalah pada sifat qonaah itu. Oleh karena itu, para jama’ah haji dilatih untuk cukup hanya dengan mengenakan pakaian yang menutupi auratnya, cukup dengan tidur sekedar bisa menghilangkan lelah dan malas, dan cukup dengan makan sekedar bisa menopang tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Mengajarkan pada manusia, bahwa kekayaan duniawi tidaklah memiliki kedudukan di sisi Alloh bila dilihat dari dzatnya. Oleh karena itu para jamaah haji sama-sama dalam pakaian dan amalannya. Adapun kekayaan, kefakiran, kedudukan, dan tempat tinggal mereka, sungguh hal itu tidak punya pengaruh apa-apa. Yang mempengaruhi mereka hanyalah keikhlasan dan mengikuti sunnah dalam beramal. Sungguh demi Alloh, betapa banyak para masakin di tempat itu yang lebih mulia, dari mereka yang kaya dan memiliki kedudukan yang tinggi!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Mengajarkan pada manusia dasar Persatuan Islam, hal ini tampak dari seragamnya perbuatan, amalan, tempat, dan waktu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Mengajarkan pada manusia untuk sabar dalam menghadapi kemaksiatan, hal itu tampak pada hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sabar untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang ketika dalam keadaan ihrom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sabar untuk tidak melakukan kefasikan, sebagaimana firman-Nya: “Barangsiapa berkewajiban menunaikan ibadah haji dalam bulan-bulan haji, maka janganlah ia berbuat fasik dan keji”. Sehingga ketika ia pulang ke negerinya, ia telah terdidik dan terbiasa sabar dari segala kemaksiatan, sebagaimana ia sabar menghadapinya pada hari-hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Mengajarkan pada muslim untuk sabar dalam ketaatan. Dan barangsiapa mau merenungi masalah-masalah tentang haji, tentu ia akan menemukan makna ini. Hal itu terlihat diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jama’ah haji ingin bersegera kembali ke negerinya, ia tidak diperkenankan sebelum tanggal 12 dzulhijjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulangnya juga harus setelah melempar dan thowaf wada’, meski ia berasal dari negeri yang jauh, tetap saja ia harus menjalani semua amalan ketaatan ini, baru setelah itu diperkenankan untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Mengajarkan pada manusia, agar menyiapkan diri sebelum melakukan ketaatan, oleh karena itu disunnahkan bagi yang ingin memulai ihrom, agar mandi, membersihkan diri, memotong kuku, membersihkan rambut kemaluan dan ketiaknya, dan memarfumi badannya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Begitu pula ketika sudah tahallul awal dan akan melakukan thowaf ifadloh, disunnahkan baginya memakai parfum, sebagaimana dicontohkan oleh beliau. Tak diragukan lagi, tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap jiwa ketika menjalani ibadahnya, sekaligus menambah kekhusyu’annya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Mengajarkan pada manusia untuk ikhlas dan tulus hati, yang keduanya adalah puncak amalan hati, dengan keduanya sebuah amal akan diterima dan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Mengajarkan pada manusia untuk tawakkal dan menyerahkan urusannya hanya pada Alloh semata, terutama dalam menunaikan dan memudahkan ibadahnya. Lihatlah bagaimana seorang muslim yang datang dengan meninggalkan keluarga, anak, dan hartanya, tentunya ia akan menyerahkan urusan harta dan sanak keluarganya pada Tuhannya, ia juga tentunya banyak meminta permohonan pada-Nya dalam menjalani beratnya perjalanan, terutama mereka yang datang dari negeri jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. mengajarkan manusia untuk bertawakkal yang benar, tentunya tawakkal yang tidak mengesampingkan usaha lahiriyah yang diperintahkan untuk mencari rizki, oleh karenanya Alloh berfirman: “Tidak ada masalah jika kalian ingin mengharapkan kemurahan (rizki) dari Tuhan kalian”. Ayat ini turun pada mereka yang menyangka bahwa makna tawakkal adalah dengan meninggalkan berdagang dalam haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Mengajarkan pada manusia untuk mewujudkan semua amalan-amalan hati. Sungguh tiada ibadah yang tampak padanya semua atau sebagian besar amalan hati seperti dalam haji ini. Terkumpul dalam ibadah haji ini amalan ikhlas, ketulusan hati, roja’, tawakkal, zuhud, waro’, muhasabah, keyakinan… dll”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Mendidik manusia untuk menundukkan hati dari apa yang diingininya, selama hal itu dilarang oleh syariat. Parfum, tutup kepala, dan semua larangan ihrom haruslah ditinggalkan oleh jama’ah haji padahal hatinya menginginkannya. Ia meninggalkannya bukan karena apa-apa, tapi karena syariat melarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. mengajarkan manusia untuk taat dengan aturan dan batasan syariat. Hal ini nampak dalam aturan miqot dan batasannya, aturan waktu melempar, aturan waktu meninggalkan arofah, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Mengajarkan pada manusia untuk membuka pintu qiyas yang shohih. Pelajaran berharga ini, bisa kita ambil dari ucapan Umar r.a. pada penduduk negeri Irak ketika mereka mengatakan: “Sungguh dua miqot itu, tidak pas dengan jalan kami”, maka Umar r.a. mengatakan: “Ambillah tempat yang sejajar dengannya di jalan kalian” (muttafaqun alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini, seorang muslim tahu bahwa aturan syariat bukanlah aturan yang kaku, dan tak bisa dirubah sama sekali. Tapi terbuka juga dalam aturan syariat ini pintu qiyas, tentunya hal ini hanya dikhususkan bagi mereka yang memiliki syarat dan ketentuan dalam ber-ijtihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Mengajarkan pada manusia tentang rukun kedua diterimanya suatu amalan, yakni mengikuti tuntunan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Oleh karena itu, beliau menyabdakan: “Ambillah cara manasik kalian dariku!” (muttafaqun alaih). Beliau juga mengatakan dalam kesempatan lain: “Melemparlah dengan kerikil yang seperti ini!”. Begitu juga perkataan Umar r.a. pada hajar aswad: “Aku tahu, kau ini hanyalah sebuah batu, yang takkan mampu memberi manfaat atau mendatangkan bahaya, andai saja aku tidak melihat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menciummu, tentunya aku takkan menciummu” (muttafaqun alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan itu semua, seorang muslim akan lulus dari madrasah hajinya, dalam keadaan telah terbiasa mengikuti tuntunan Nabinya -shollallohu alaihi wasallam-, baik dalam hal yang besar, maupun yang paling kecil sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Memberikan pelajaran akan mudahnya ajaran syariat, sehingga keyakinan ini bisa tertanam dalam hatinya dan terasa ringan ketika menerapkannya. Hal ini, bisa terlihat dalam amalan-amalan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Letak miqot yang menyebar dan terpisah-pisah, hingga memudahkan para jama’ah haji dalam memulai ihromnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Cara manasik haji yang bermacam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Adanya hukum khusus bagi para jama’ah yang lemah dan lanjut usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Mendidik manusia, agar memperhatikan adanya perbedaan diantara mereka. Sungguh tidaklah mereka berada pada derajat yang sama. Hal ini tampak pada adanya cara manasik haji yang bermacam-macam. Diantara mereka ada yang tidak mampu menunaikan hajinya, kecuali dengan cara ifrod. Diantara mereka ada yang hanya mampu melakukannya dengan qiron dan hal itu menjadi lebih mudah dan lebih utama baginya. Dan diantara mereka ada yang bisa menunaikan manasik dengan cara yang paling utama, yakni tamattu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ini menunjukkan tingginya perhatian syariat pada keadaan, kemampuan, masalah, dan perbedaan mereka. Sekaligus merupakan bantahan bagi orang yang menuntut bersatunya umat dalam segala hal, baik dalam amalan maupun dalam hal kepentingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Mengajari manusia bagaimana fikhul khilaf dalam kehidupan nyata, hal itu tampak pada hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Perbedaan para jama’ah dalam dalam memilih cara manasiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perbedaan para jama’ah dalam menjalani amalan yang dilakukan pada hari ke-10 bulan Dzulhijjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Perbedaan para jama’ah dalam hal dzikir yang dibaca ketika meninggalkan Mina menuju Arofah. Sebagaimana disebutkan, para sahabat dulu ada yang bertalbiyah, ada juga yang bertakbir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Perbedaan waktu bolehnya beranjak dari Muzdalifah ke Mina, melihat keadaan masing-masing, bagi yang lemah ada waktu tersendiri, dan bagi yang kuat ada waktu tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Perbedaan para jama’ah dalam memilih nafar awal atau nafar tsani untuk ibadah hajinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Perbedaan para jama’ah dalam memilih menggundul atau memendekkan rambutnya ketika hendak bertahallul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua contoh di atas, mengajari para jama’ah bagaimana menyikapi perbedaan dan individunya. Sungguh, tidak ada nukilan tentang timbulnya cekcok atau tuduhan antara satu sahabat dengan sahabat lainnya, karena sebab memilih cara manasik tertentu, meski pilihan mereka adalah cara manasik yang kurang utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Mengajari manusia, bahwa tidak semua yang diterangkan oleh syari’at itu mungkin dicerna oleh akal, tujuannya adalah agar syariat tetap menjadi pemegang kendali hukum di atas akal, bukan di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah sebagai contoh sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: “Perbanyaklah haji dan umroh, karena keduanya bisa menghilangkan kefakiran sebagaimana mampunya tengku pembakar menghilangkan karatnya besi. (Diriwayatkan oleh para pengarang kitab sunan, dan dishohihkan oleh Albani)…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jika di nalar dengan akal, memperbanyak haji dan umroh itu, akan mengundang banyak kebutuhan dan tentunya akan banyak menghabiskan uang, tapi syariat malah mengatakan seperti itu. Sungguh akal tidak akan bisa menerangkan secara rasional, bahwa orang yang memperbanyak haji dan umroh akan menghilangkan kefakiran, Alloh lah yang tahu akan hakikat di balik itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini, seorang muslim akan terdidik untuk selalu menghubungkan dirinya dengan Alloh dan ilmu-Nya, sekaligus melatihnya untuk berjiwa besar dan mau mengakui kelemahan dan kekurangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Mengajari manusia, bahwa yang paling afdlol, adalah yang sesuai dg syariat, bukan yang lebih berat dan susah, misalnya: Memulai ihrom dari miqot, lebih utama dari pada memulainya dari tempat sebelumnya, meski itu lebih berat dan susah. Sehingga dengan ini, seorang muslim terdidik untuk memuliakan syariat dan memperhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Melatih manusia, untuk terbiasa tertib dan taat aturan. Budaya tersebut bukanlah keistimewaan negeri kafir, sebaliknya itu merupakah nilai Islam yang telah kita abaikan. Nilai ini tampak dari hal-hal berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Harusnya tertib dalam menjalani amalan-amalan Umroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sunnahnya tertib dalam menjalankan amalan-amalan pada hari ke-10 bulan dzulhijjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Harusnya tertib ketika melempar jamarot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang sungguh mengherankan, di zaman kita ini, justru ketertiban itu malah dijadikan cemoohan!… (bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :addariny.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-5980596416229367929?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/5980596416229367929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/50-pelajaran-berharga-dari-haji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/5980596416229367929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/5980596416229367929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/50-pelajaran-berharga-dari-haji.html' title='50 Pelajaran Berharga dari Haji'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-5618114255353466948</id><published>2009-12-25T15:10:00.002+07:00</published><updated>2009-12-25T15:13:49.792+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Murottal'/><title type='text'>Muhammad Thaha Al Junaid</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/jfTHyHLMnsc&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;color1=0x402061&amp;color2=0x9461ca"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/jfTHyHLMnsc&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;color1=0x402061&amp;color2=0x9461ca" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-5618114255353466948?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/5618114255353466948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/5618114255353466948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/5618114255353466948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/blog-post.html' title='Muhammad Thaha Al Junaid'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-3967362792053763320</id><published>2009-12-20T08:23:00.002+07:00</published><updated>2009-12-25T15:06:54.422+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel islam'/><title type='text'>Bahaya Syirik</title><content type='html'>&lt;div style="color: #555555; font-family: Georgia,Helvetica,Arial,Sans-Serif; font-size: 13px; line-height: 140%; margin: 9px 0pt 3px;"&gt;&lt;span&gt;Posted:&lt;/span&gt; 15 Dec 2009 09:39 PM PST&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; font-family: Georgia,Helvetica,Arial,Sans-Serif; font-size: 13px; line-height: 140%; margin: 0pt;"&gt;Segala puji itu hak Allah zat yang telah mengutus rasul-Nya dengan membawa ilmu yang manfaat serta amal shalih untuk memenangkan agama-Nya atas semua agama dan cukuplah Allah sebagai saksi.&lt;br /&gt;Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan diri-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya. Hal ini saya ucapkan sebagai ikrar atas keesaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang mengajak manusia untuk menuju ridha-Nya dengan mengesakan-Nya.&lt;br /&gt;Semoga Allah menyanjungnya, keluarganya dan semua sahabatnya serta memberi tambahan keselamatan.&lt;br /&gt;Wahai orang-orang yang beriman, para hamba Allah, bertakwalah kalian kepada Allah. Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjaganya dan membimbingnya untuk melakukan kebaikan dalam semua urusan baik urusan agama ataupun urusan dunia. Ketahuilah bahwa takwa adalah melakukan ketaatan kepada Allah karena beriman kepada Allah dan berharap pahala dari-Nya dan meninggalkan perbuatan maksiat karena beriman kepada Allah dan merasa takut dengan siksaan-Nya.&lt;br /&gt;Menjadi kewajiban setiap muslim untuk hidup di dunia ini dalam keadaan merasa khawatir jika melakukan suatu hal atau suatu dosa yang menyebabkan Allah marah dan murka.&lt;br /&gt;Perkara paling penting yang seorang hamba itu wajib merasa takut dengannya sehingga dia bersemangat untuk menjaga diri darinya dan memaksa jiwanya untuk menjauhinya adalah kemusyrikan. Memang merasa takut untuk melakukan kemusyrikan adalah sebuah tujuan agung yang wajib diwujudkan oleh setiap muslim.&lt;br /&gt;Kemusyrikan adalah dosa yang paling besar, paling berbahaya, merupakan tindakan kezaliman yang paling zalim, kejahatan yang paling besar dan dosa yang tidak bakal terampuni.&lt;br /&gt;Menyekutukan Allah adalah perbuatan menghancurkan rububiyyah dan melecehkan uluhiyyah Allah serta berburuk sangka dengan pencipta alam semesta.&lt;br /&gt;Kemusyrikan adalah menyamakan makhluk dengan Allah yang hal ini berarti menyamakan makhluk yang tidak sempurna dan tidak punya apa-apa dengan zat yang agung serta kaya raya.&lt;br /&gt;Kemusyrikan adalah sebuah dosa yang rasa takut kita dengannya harus lebih besar dibandingkan rasa takut kita dengan hal selainnya.&lt;br /&gt;Terdapat banyak dalil dalam al Qur’an dan sunah yang jika direnungkan dan ditelaah oleh seorang hamba akan menyebabkan timbulnya rasa takut di dalam hati terhadap kemusyrikan sehingga dia akan mewaspadainya dan menjaga diri jangan sampai terjerumus ke dalamnya.&lt;br /&gt;Renungkanlah firman Allah yang terdapat dalam dua ayat dalam surat an Nisa&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ&lt;br /&gt;Yang artinya, &lt;em&gt;“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”&lt;/em&gt; (QS an Nisa: 48)&lt;br /&gt;Dalam ayat ini terdapat penjelasan yang sangat jelas bahwa orang yang berjumpa Allah dalam keadaan musyrik maka tidak ada harapan baginya untuk mendapatkan ampunan Allah karena tempat kembalinya adalah neraka dan dia akan kekal di dalamnya. Di dalamnya dia tidak akan mati tidak pula ada keringanan siksa untuknya. Sebagaimana firman Allah,&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ (٣٦)وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ (٣٧)&lt;br /&gt;Yang artinya, &lt;em&gt;“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas Setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami niscaya Kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah Kami kerjakan”. dan Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.”&lt;/em&gt; (QS Fathir: 36-37)&lt;br /&gt;Di antara faktor penyebab timbulnya rasa takut di dalam hati orang yang beriman dengan kemusyrikan adalah merenungkan keadaan orang-orang shalih dan para nabi yang merasa demikian takut terhadap dosa yang sangat besar ini.&lt;br /&gt;Cukuplah dalam kesempatan ini kita renungkan bersama doa pemimpin orang-orang yang bertauhid, sang kekasih Allah, Ibrahim. Beliau adalah seorang yang telah Allah angkat sebagai kekasih-Nya. Beliau hancurkan patung-patung berhala dengan tangannya. Beliau berdakwah mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah dan telah melakukan hal yang luar biasa untuk itu. Renungkanlah doa beliau sebagaimana yang terdapat dalam al Qur’an,&lt;br /&gt;وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ (٣٥)رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣٦)&lt;br /&gt;Yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: &lt;em&gt;“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia. Maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku. Dan barangsiapa yang mendurhakai Aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”&lt;/em&gt; (QS Ibrahim 35-36)&lt;br /&gt;Renungkanlah pemimpin orang-orang yang bertauhid berdoa kepada Allah agar dirinya dan anak keturunannya dijauhkan dari penyembahan terhadap berhala. Artinya beliau meminta agar dirinya dan keturunannya diletakkan di posisi yang jauh dan tidak dekat dengan kemusyrikan dengan bahasa lain tidak terjerumus dalam jaring-jaring dan berbagai sarana pengantar menuju kemusyrikan.&lt;br /&gt;Salah seorang ulama salaf, Ibrahim at Taimi namanya, suatu ketika membaca ayat ini lantas berkomentar, “Siapa berani merasa terjamin selamat dari kemusyrikan setelah Ibrahim?”&lt;br /&gt;Artinya jika Ibrahim sang kekasih Allah saja merasa khawatir melakukan kemusyrikan dan berdoa kepada Allah agar selamat darinya maka bagaimana mungkin orang selainnya berani merasa aman darinya?&lt;br /&gt;Nabi kita setiap pagi berdoa sebanyak tiga kali. Demikian pula setiap sore. Beliau berdoa, “Ya Allah aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekafiran dan dari kefakiran dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur.”&lt;br /&gt;Diantara doa Nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim adalah, “Ya Allah, aku hanya pasrah kepada-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakal kepada-Mu dan kembali kepada-Mu. Hanya karena-Mu aku mendebat. Aku memohon perlindungan dengan kemuliaan-Mu yang tiada sesembahan yang pantas disembah melainkan diri-Mu agar engkau tidak menyesatkanku. Engkau adalah zat yang hidup dan tidak mati. Sedangkan jin dan manusia mati.”&lt;br /&gt;Di antara doa Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; adalah, &lt;em&gt;“Ya Allah, aku memohon hidayah dan sikap yang benar kepada-Mu.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadits seputar hal ini banyak sekali. Bahkan Ummu Salamah mengatakan bahwa mayoritas doa Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; adalah &lt;em&gt;“Wahai zat yang membolak-balikkan hati palingkanlah hati kami untuk tetap mentaatimu.”&lt;/em&gt; Aku yaitu Ummu Salamah bertanya, &lt;em&gt;“Wahai Nabi, apakah hati itu bisa berubah-ubah?”&lt;/em&gt; Nabi bersabda, &lt;em&gt;“Memang, semua hati itu diantara dua jemari Allah. Dia membolak-balikkannya sebagaimana yang Dia kehendaki. Jika Dia mau maka Dia akan mengarahkan hati tersebut pada kebenaran dan jika Dia mau maka Dia akan menyesatkan hati tersebut.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Di antara dalil dalam permasalahan ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al Musnad dan yang lainnya. Suatu hari Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda kepada para sahabat, &lt;em&gt;“Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil.”&lt;/em&gt; Para sahabat lantas bertanya tentang apa yang dimaksud dengan syirik kecil. &lt;em&gt;“Riya’”&lt;/em&gt;, jawab Nabi.&lt;br /&gt;Para ulama mengatakan jika Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; saja mengkhawatirkan para sahabat terjerumus dalam kemusyrikan kecil padahal mereka adalah mereka dalam masalah ketaatan dan tauhid lantas bagaimana dengan orang yang levelnya sangat jauh di bawah para sahabat bahkan tidak ada sepersepuluh dengan para sahabat dalam masalah tauhid dan ibadah?&lt;br /&gt;Terdapat riwayat dalam kitab &lt;em&gt;al Adab al Mufrod&lt;/em&gt; yang kualitas sanadnya adalah hasan mengingat banyaknya riwayat pendukung, Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, “Sungguh kemusyrikan di tengah-tengah kalian itu lebih samar dari pada langkah semut.”&lt;br /&gt;Salah seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kemusyrikan adalah mengangkat tandingan untuk Allah padahal Dia adalah sang pencipta?”&lt;br /&gt;Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya sungguh kemusyrikan di tengah-tengah kalian itu lebih samar dibandingkan dengan langkah semut.”&lt;/em&gt; Kemudian Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Maukah kutunjukkan kepada kalian suatu kalimat yang jika kalian ucapkan maka Allah akan menghilangkan dari kalian dosa kemusyrikan baik sedikit ataupun banyak.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Tentu”&lt;/em&gt;, jawab para sahabat. Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Itulah ucapan Ya Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai kami menyekutukan-Mu dalam keadaan kami mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu untuk dosa yang tidak kami ketahui.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menjadi kewajiban kita bersama untuk menghafalkan doa ini dan rutin membacanya.&lt;br /&gt;Ya Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai kami menyekutukan-Mu dalam keadaan kami mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu untuk dosa yang tidak kami ketahui.&lt;br /&gt;Di antara hal yang menyebabkan timbulnya rasa khawatir dengan kemusyrikan adalah apa yang Nabi katakan dalam banyak hadits bahwa ada di antara umat beliau akan ada yang kembali menyembah berhala. Hal ini terdapat dalam beberapa hadits diantaranya adalah:&lt;br /&gt;Terdapat dalam Sunan Abu Daud dan yang lainnya Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Kiamat tidak akan terjadi sehingga beberapa kabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik dan beberapa kabilah dari umatku menyembah berhala.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain, Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Kiamat tidak akan terjadi hingga pantat para wanita dari suku Daud bergoyang di hadapan Dzul Kholashoh.”&lt;/em&gt; Dzul Kholashoh adalah nama berhala.&lt;br /&gt;Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; juga bersabda, &lt;em&gt;“Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam lobang biawak gurun tentu kalian juga akan memasukinya.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Semua hadits di atas Nabi sampaikan dalam rangka menghendaki kebaikan untuk umatnya dan untuk mengingatkan umatnya dari bahaya dosa yang sangat besar itu dan kejahatan yang sangat ngeri itu.&lt;br /&gt;Semoga Allah melindungi kita semua darinya.&lt;br /&gt;Di antara faktor yang mendorong kita untuk memiliki kekhawatiran dengan kemusyrikan adalah orang musyrik itu dekat dengan neraka. Tidak ada yang menghalangi untuk masuk neraka kecuali karena belum mati saja.&lt;br /&gt;Renungkanlah sabda Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; yang terdapat dalam &lt;em&gt;Sahih Bukhari&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;“Barang siapa mati dalam keadaan berdoa kepada selain Allah maka pasti akan masuk neraka.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Para ulama mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat dalil bahwa neraka itu dekat dengan orang musyrik. Tidak ada penghalangnya dengan neraka melainkan karena belum mati.&lt;br /&gt;Semua dalil di atas mendorong orang beriman untuk merasa sangat khawatir dengan kemusyrikan. Kemudian rasa khawatir tersebut menggerakkan hati untuk mempelajari dosa besar tersebut supaya bisa mewaspadainya dan menjaga diri darinya dalam hidup ini.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dalam &lt;em&gt;Sahih Bukhari&lt;/em&gt; Hudzaifah bin al Yaman mengatakan, “Para sahabat Nabi suka bertanya kepada Nabi tentang kebaikan sedangkan aku suka bertanya kepada beliau mengenai keburukan karena aku khawatir dengannya.”&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, lindungi kami dari kemusyrikan wahai pemilik alam semesta. Ya Allah, lindungi kami dari kemusyrikan wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai kami menyekutukan-Mu dalam keadaan kami&lt;/em&gt; mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu untuk dosa yang tidak kami ketahui.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, kami memohon kepada-Mu tauhid yang murni dan iman yang membaja.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah kami memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyesatkan orang lain ataupun disesatkan oleh orang lain wahai zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, aku memohon kepada-Mu hidayah, takwa, terjaganya kehormatan dan kecukupan rizki&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah yang aku sampaikan. Aku memohon ampunan untukku dan kalian serta seluruh kaum muslimin dari seluruh dosa.&lt;br /&gt;Mohonlah ampunan kepada-Nya niscaya Dia akan mengampuni kalian sesungguhnya Dia maha pengampun lagi maha penyayang&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Khutbah Kedua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Segala puji itu milik Allah. Dialah dzat yang memiliki kebaikan yang sangat besar dan anugrah serta kedermawanan yang sangat luas.&lt;br /&gt;Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tanpa ada sekutu baginya.&lt;br /&gt;Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga Allah menyanjung dan memberi keselamatan untuknya, keluarganya dan semua shahabatnya.&lt;br /&gt;Terdapat banyak dalil dari al Qur’an dan sunah yang menunjukkan bahwa kemusyrikan itu ada dua macam yaitu besar dan kecil. Dua macam kemusyrikan ini berbeda pengertian dan konsekuensinya.&lt;br /&gt;Pengertian syirik besar adalah menyamakan selain Allah dengan Allah baik dalam rububiyyah, nama dan sifat ataupun dalam uluhiyyah.&lt;br /&gt;Siapa saja yang menyamakan selain Allah dengan Allah dalam salah satu hak khusus Allah maka dia telah menyekutukan Allah dengan syirik besar yang mengeluarkan palakunya dari agama Islam.&lt;br /&gt;Sedangkan syirik kecil adalah segala perbuatan yang dicap sebagai kemusyrikan oleh dalil, akan tetapi belum sampai derajat syirik besar. Contohnya adalah bersumpah dengan Allah, ucapan ’sebagaimana kehendak Allah dan kehendakmu’, ’seandainya tidak demikian tentu yang terjadi adalah demikian dan demikian’ dan ucapan-ucapan semisal yang mengandung kemusyrikan akan tetapi orang yang mengucapkannya tidak memaksudkannya.&lt;br /&gt;Sedangkan konsekuensi hukum dari dua macam kemusyrikan tersebut di Akherat tentu berbeda. Pelaku syirik besar itu kekal di dalam neraka selamanya, tidak mati tidak pula mendapatkan keringanan siksa.&lt;br /&gt;Sedangkan syirik kecil dampaknya tidak sampai seperti itu. Meski pada asalnya syirik kecil itu dosa besar yang paling besar sebagaimana perkataan sahabat, Abdullah bin Mas’ud. Beliau berkata, “Sungguh jika aku bersumpah dengan menyebut nama Allah sedangkan isi sumpahku adalah dusta itu lebih aku sukai dari pada aku bersumpah dengan selain nama Allah meskipun isi sumpahku adalah benar.”&lt;br /&gt;Bersumpah dengan selain nama Allah meski isi sumpahnya benar adalah kemusyrikan. Sedangkan bersumpah dengan nama Allah sedangkan isinya adalah dusta adalah melakukan dosa besar yaitu dusta. Dosa besar tidak bisa dibandingkan dengan kemusyrikan. Ini menunjukkan kepahaman para sahabat dengan agama ini.&lt;br /&gt;Permasalahan kemusyrikan dan mengetahui bentuk-bentuknya adalah permasalahan yang sangat penting untuk diperhatikan mengingat banyak orang yang tidak mengetahui perkara agung ini.&lt;br /&gt;Banyak orang yang melakukan berbagai amalan dan perkara yang merupakan kemusyrikan namun mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah kemusyrikan. Bahkan sebagian orang tertipu dengan nama dan label sehingga tercegah dari ibadah yang murni untuk Allah akhirnya melakukan berbagai hal yang haram bahkan berbagai perbuatan kemusyrikan. Semoga Allah melindungi kita.&lt;br /&gt;Kita memohon kepada Allah agar memahamkan kita semua dengan agama-Nya dan memberi taufik kepada kita semua untuk mengikuti sunah Nabi-Nya serta memberi hidayah kepada kita semua agar menita jalan-Nya yang lurus.&lt;br /&gt;Hendaknya kalian mengucapkan sholawat dan salam untuk pemimpin orang-orang yang bertauhid dan teladan para sahabat, Muhammad bin Abdillah sebagaimana yang Allah perintahkan dalam kitab-Nya,&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا&lt;br /&gt;Yang artinya, &lt;em&gt;“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”&lt;/em&gt; (QS al Ahzab: 56)&lt;br /&gt;Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, “Barang siapa yang bershalawat untukku sekali maka Allah akan bershalawat untuknya sebanyak sepuluh kali.”&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, berikanlah shalawat-Mu untuk Muhammad dan untuk keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat untuk Ibrahim dan untuk keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau itu maha terpuji dan maha agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkah untuk Ibrahim dan untuk keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau itu maha terpuji dan maha agung.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah berikan ridho-Mu untuk empat khulafaur rasyidin yang mendapatkan hidayah yaitu Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali. Demikian pula ya Allah berikanlah ridho-Mu untuk semua shahabat dan tabiin serta semua orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat nanti. Demikian juga berikanlah ridho-Mu untuk kami dengan anugrah, kemurahan dan kebaikan-Mu, wahai zat yang maha pemurah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin dan hinakanlah kemusyrikan dan orang-orang musyrik serta hancurkanlah semua musuh-musuh agama.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami para mujahid yang berjihad di jalan-Mu di semua tempat.&lt;br /&gt;Ya Allah, jadikanlah diri-Mu sebagai penolong, penguat, pembantu dan penjaga mereka.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah bereskanlah para musuh agama karena sesunguhnya mereka tidak akan mampu mengalahka-Mu.&lt;br /&gt;Ya Allah, kami jadikan diri-Mu di leher-leher mereka dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan mereka.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, berikanlah rasa aman untuk kami di negeri kami sendiri dan perbaikilah para penguasa dan pemimpin kami.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami adalah orang yang merasa takut dan bertakwa kepada-Mu serta mengikuti ridho-Mu wahai pemilik alam semesta.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah bimbinglah penguasa kami untuk meniti hidayahMu dan jadikanlah amalnya adalah amal yang kau ridhoi.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, berikanlah kepada jiwa kami ketakwaan. Sucikanlah jiwa kami. Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikan jiwa karena Engkau adalah zat yang mengatur jiwa manusia.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami dan dosa seluruh kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan dan seluruh orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami baik yang kecil apalagi yang besar, yang dahulu ataupun belakangan, yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sungguh Engkau adalah maha pengampun. Oleh karena itu turunkanlah hujan yang deras kepada kami.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah turunkan hujan untuk kami, turunkan hujan untuk kami, turunkan hujan untuk kami.&lt;br /&gt;Ya turunkanlah hujan yang manfaat, berlimpah dan penuh kebaikan kepada kami. Janganlah Kau turunkan hujan yang membahayakan kami baik di masa sekarang ataupun di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;Ya Allah suburkan hati kami dengan iman dan suburkanlah negeri kami dengan hujan&lt;br /&gt;Ya Allah, kasih sayang-Mu yang kami harapkan maka janganlah Kau pasrahkan kami melainkan kepada diri-Mu.&lt;br /&gt;Ya Allah, jangan Kau pasrahkan diri kami kepada kami sendiri meski hanya sekejap mata.&lt;br /&gt;Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau.&lt;br /&gt;Seruan kami yang terakhir adalah ucapan alhamdu lillahi rabbil ‘alamin.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Moga Allah memuji, memberi keselamatan, keberkahan dan nikmat untuk hamba Allah dan utusanNya yaitu nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh shahabatnya.&lt;br /&gt;Khutbah Jumat Syaikh ‘Abdur Rozaq bin ‘Abdil Muhsin Al Abad Al Badr, pada tanggal 26 Syawal 1427 H.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Penerjemah: Ustadz Aris Munandar&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/nasehat-ulama/bahaya-syirik.html" target="_blank" title="bahaya syirik"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-3967362792053763320?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/3967362792053763320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/bahaya-syirik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/3967362792053763320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/3967362792053763320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/bahaya-syirik.html' title='Bahaya Syirik'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-9044516071361704424</id><published>2009-12-18T16:51:00.000+07:00</published><updated>2009-12-18T16:51:46.249+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel islam'/><title type='text'>Kemuliaan Akhlak Ahlus Sunnah wal Jama'ah</title><content type='html'>Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengajak manusia untuk beribada hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja dan memperbaiki akhlak manusia. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik".&lt;br /&gt;Sesungguhnya antara akhlak dengan 'aqidah terdapat hubungan yang sangat kuat sekali, karena akhlak yang baik itu sebagai bukti dari keimanan dan akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman, semakin sempurna akhlak seorang muslim berarti semakin kuat imannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak yang mulia adalah bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan, pemiliknya sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu alahi wasallam dan akhlak yang baik adalah salah satu penyebab seseorang untuk dapat masuk surga.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sungguh akhlak yang mulia itu meninggikan derajat seseorang di sisi Allah, sebagaimana sabda Rasulullah :&lt;br /&gt;"Sesungguhnya seorang mukmin itu dengan sebab akhlaknya yang baik, akan mencapai derajat orang yang shaum di siang hari dan shalat di tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak yang mulia dapat menambah umur dan menjadikan rumah menjadi makmur, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:&lt;br /&gt;"Akhlak yang baik dan bertetannga yang baik keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara akhlak Salafush Shalih radhiyallahu anhum, yaitu:&lt;br /&gt;1. Ikhlas dalam ilmu dan amal serta takut dari riya'.&lt;br /&gt;2. Jujur dalam segala hal dan menjauhkan diri dari sifat dusta.&lt;br /&gt;3. Bersungguh-sungguh dalam menunaikan amanah dan tidak khianat.&lt;br /&gt;4. Menjunjung tinggi hak-hak Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;5. Berusaha meninggalkan segala bentuk kemunafikan.&lt;br /&gt;6. Lembut hatinya, banyak menigngat mati dan akhirat serta takut terhadap akhir kehidupan yang jelek.&lt;br /&gt;7. Banyak berdzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla, dan tidak berbicara yang sia-sia, tersenyum kepada sesama muslim.&lt;br /&gt;8. Tawadhu' (rendah hati) dan tidak sombong.&lt;br /&gt;9. Banyak bertaubat, beristighfar kepada Allah baik siang maupun malam.&lt;br /&gt;10. Bersungguh-sungguh dalam bertakwa, serta senantiasa takut kepada Allah.&lt;br /&gt;11. Sibuk dengan aib diri sendiri dan tidak sibut dengan aib orang lain serta selalu menutupi aib orang lain.&lt;br /&gt;12. Senantiasa menjaga lisan mereka, tidak suka ghibah.&lt;br /&gt;13. Pemalu, malu ini adalah akhlak Islam.&lt;br /&gt;14. Banyak memaafkan dan sabar kepada orang menyakitinya. (QS. Al-A'raaf:199)&lt;br /&gt;15. Banyak bershadaqah, dermawan, menolong orang-orang yang susah, tidak bakhil.&lt;br /&gt;16. Mendamaikan orang yang mempunyai sengketa. Mendamaikan perselisihan adalah kebajikan yang terbaik dan puncak kebajikan.&lt;br /&gt;17. Tidak hasad (dengki, iri), tidak berburuh sangka sesama mukmin.&lt;br /&gt;18. Berani mengatakan kebenaran dan menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah diantara akhlak Salafush Shalih, mereka adalah orang mempunyai akhlak yang tinggi dan mulia serta dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya. Orang-orang yang mengikuti jejak mereka adalah orang-orang yang harus mempunyai akhlak yang mulia karena akhlak mempunyai hubungan erat dengan 'aqidah dan manhaj. Dan tidak boleh seseorang mengatakan, "Salaf itu tidak berakhlak." Kalimat ini merupakan celaan terhadap genarasi yang terbaik dari umat ini. Adapun kesalahan dari akhlak tiap individu maka hal itu tidak ma'shum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari buku: Prinsip Dasar Islam &lt;br /&gt;Karya: Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-9044516071361704424?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/9044516071361704424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/kemuliaan-akhlak-ahlus-sunnah-wal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/9044516071361704424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/9044516071361704424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/kemuliaan-akhlak-ahlus-sunnah-wal.html' title='Kemuliaan Akhlak Ahlus Sunnah wal Jama&apos;ah'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-1577315704937737746</id><published>2009-12-16T11:40:00.010+07:00</published><updated>2009-12-16T16:46:23.325+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>Kesegaran Jasmani dalam Arti yang Tepat</title><content type='html'>Sumber: Menuju HIdup Sehat dan Segar 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai kesegaran jasmani, biasanya perhatian selalu dipusatkan kepada perkembangan otot yang hebat. kita semua tentunya sependapat, bahwa otot yang demikian memang menyenangkan untuk dipandang karena memancarkan kekuatan yang terselubung di dalamnya. akan tetapi, semua itu tidaklah mutlak menjadi faktor utama dari apa yang kita namakan kesegaran jasmani dalam arti yang sebenarnya. oleh karena itu, dirasa perlu untuk mengemukakan ketentuan-ketentuan bagi pengertian "segar" seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kemampuan Kerja Fisik yang Memuaskan&lt;br /&gt;Adapun tenaga (energi) yang dipergunakan untuk melakukan kerja fisik berasal dari proses pembakaran (oksigen dan zat makanan) dalam sel-sel dari bagian tubuh yang terlibat pada pekerjaan tersebut. proses ini disebut metabolisme dan derajat maksimal dari metabolisme inilah yang menentukan bobot kerja yang dapat dilakukan seseorang. Daripada itu, kapasitas metaoblik seseorang tergantung kepada kemampuannya untuk menyalurkan oksigen ke otot-otot dan sebagaimana telah kita ketahui, kemampuan tersebut terletak pula pada efisiensi dari jantung, pernapasan, sistem peredaran darah, dan otot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berat Badan yang Normal&lt;br /&gt;sangat penting sekali untuk mempertahankan berat badan yang benar (serasi). Mempergunakan "tabel tinggi-berat badan" yang sudah ada, dapat saja dijadikan pegangan, akan tetapi mungkin pula menyesatkan bagi bentuk tubuh tertentu. Satu metode yang lebih berarti untuk menentukan apakah seseorang kegemukan, ialah dengan jalan melakukan "tes jepit". Lipatan kulit di samping bawah pusat dijepit dengan ibu jari dan telunjuk. Tebal lipatan kulit tersebut seharusnya tidak boleh dari 1 inci atau 2,5 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Fleksibilitas&lt;br /&gt;Luas gerak dari persendian-persendian tubuh yang umumnya disebut kelentukan (flesibilitas) merupakan komponen penting pada gerak kerja, baik di bidang olahraga maupun dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mampu Mengurangi Ketegangan&lt;br /&gt;Dewasa ini kita lebih banyak menghadapi tekanan daripada beberapa tahun yang lalu, maka dengan sendirinya kemampuan untuk dapat mengurangi ketegangan makin menjadi penting dalam kehidupan kita. Rupanya latihan fisik dapat menunjang kemampuan ini dengan jalan meredakan tekanan pada sistem saraf dan otot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap program latihan fisik yang dijalankan dengan sukses akan membawa perkembangan bagi faktor-faktor tersebut di atas. Penekanannya harus tertuju kepada latihan-latihan ritmis (berirama) yang dapat melibatkan kelompok-kelompok otot besar. Dari itu, program latihan hendaklah dipusatkan kepada berjalan, lari, renang dan bersepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kegiatan tersebut tidak saja merupakan cara terbaik untuk meningkatkan kesegaran jantung dan paru-paru, akan tetapi juga mengurangi ketambunan (buncit) yang tidak sehat dan tidak disenangi semua orang. Selain dari itu, dapat pula meningkatkan tegangan (tonus) dari otot-otot tubuh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-1577315704937737746?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/1577315704937737746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/kesegaran-jasmani-dalam-arti-yang-tepat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/1577315704937737746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/1577315704937737746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/kesegaran-jasmani-dalam-arti-yang-tepat.html' title='Kesegaran Jasmani dalam Arti yang Tepat'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-2971128218074465950</id><published>2009-12-15T21:23:00.001+07:00</published><updated>2009-12-15T21:32:13.109+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel islam'/><title type='text'>Bersikap Sedang dalam Melaksanakan Sunnah Lebih Baik dari Bersungguh-Sungguh dalam Bid'ah</title><content type='html'>Ini adalah ungkapan yang masyhur yang diucapkan oleh sebagian sahabat, diantaranya adalah: Abu Darda dan Abdullah bin Mas'ud sebagaimana disebutkan dalam kitab Syarah Ushul I'tiqad Ahlussunnah wal jama'ah no 114 &amp;115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam kitab Al hujjah fi bayanil manhajjah (1/11) Ubay bin Ka'ab berkata,"Sesungguhnya bersikap sedang di jalan Allah dan sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam perkara yang menyelisihi jalan dan sunnah, maka lihatlah amalmu dalam kesungguhan dan bersikap sedang, hendaklah ia sesuai dengan manhaj para Nabi dan sunnah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat dan tabi'in telah mempraktekkan kaidah ini dengan praktik yang detail, mereka sangat bersemangat dalam mengikuti sunnah walaupun pada amal yang sedikit, mereka meninggalkan bid'ah dan lari menjauh darinya, walaupun dikira oleh orang lain bahwa pada bid'ah tersebut ada tambahan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ahwash Sallam bin Sulaim pernah berkata pada dirinya,"Wahai Sallam, tidur di atas sunnah lebih baik daripada bangun di atas bid'ah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena setiap amal yang bid'ah tidak akan diterima oleh Allah Ta'ala, sebagaimana dalam hadits, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;"Barang siapa yang beramal dengan suatu amal yang tidak ada asalnya dari perintah kami maka amal tersebut tertolak".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-2971128218074465950?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/2971128218074465950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/bersikap-sedang-dalam-melaksanakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/2971128218074465950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/2971128218074465950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/bersikap-sedang-dalam-melaksanakan.html' title='Bersikap Sedang dalam Melaksanakan Sunnah Lebih Baik dari Bersungguh-Sungguh dalam Bid&apos;ah'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-368677839096920246</id><published>2009-12-13T11:45:00.000+07:00</published><updated>2009-12-13T11:48:26.846+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel islam'/><title type='text'>Tanggal Kelahiran Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam</title><content type='html'>&lt;p&gt;Tanggal Kelahiran Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; diperselisihkan secara tajam. Ada yang mengatakan bahwa beliau lahir tanggal 2 Rabiul Awal, 8 Rabiul Awal, 10 Rabiul Awal, 12 Rabiul Awal, 17 Rabiul Awal (Lihat &lt;em&gt;al-Bidayah wa Nihayah&lt;/em&gt; karya Ibnu Katsir: 2/260 dan &lt;em&gt;Latho’iful Ma’arif&lt;/em&gt; karya Ibnu Rojab hlm. 184-185). Semua pendapat ini tidak berdasarkan hadits yang shahih. Adapun hadits Jabir dan Ibnu Abbas &lt;em&gt;radhiallahu ‘anhuma&lt;/em&gt; yang menerangkan bahwa tanggal kelahiran Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; adalah tanggal 12 Rabiul Awal &lt;strong&gt;tidak shahih&lt;/strong&gt;. Kalaulah shahih, tentu akan menjadi hakim (pemutus perkara) dalam masalah ini. Akan tetapi, Ibnu Katsir &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; berkata tentang hadits tersebut, “Sanadnya terputus.” (&lt;em&gt;al-Bidayah wan Nihayah&lt;/em&gt; karya Ibnu Rajab hlm. 184-185)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berhubung penentuan hari kelahiran beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; tidak ada yang shahih, tidak mengapa kalau kita menukil pendapat ahli falak. Banyak ahli falak berpendapat bahwa hari kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Rabiul Awal, seperti al-Ustadz Mahmud Basya al-Falaki, al-Ustadz Muhammad Sulaiman al-Manshur Fauri (Sebagaimana dinukil oleh Shofiyurrohman al-Mubarokfuri dalam &lt;em&gt;ar-Rahiqul Makhtum&lt;/em&gt; hlm. 62), dan al-Ustadz Abdullah bin Ibrahim bin muhammad as-Sulaim, beliau mengatakan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dalam kitab-kitab sejarah dan siroh dikatakan bahwa Nabi &lt;em&gt;shallallahu’alaihi wa sallam&lt;/em&gt; lahir pada hari Senin tanggal 10, atau 8, atau 12 dan ini yang dipilih oleh mayoritas ulama. Telah tetap tanpa keraguan bahwa kelahiran beliau adalah pada 20 April 571 M (tahun Gajah), sebagaimana telah tetap juga bahwa beliau wafat pada 13 Rabiul Awal 11 H yang bertepatan dengan 6 Juni 632 M. Selagi tanggal-tanggal ini telah diketahui, maka dengan mudah dapat diketahui hari kelahiran dan hari wafatnya dengan jitu, demikian juga usia Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Dengan mengubah tahun-tahun ini pada hitungan hari akan ketemu 22.330 hari dan bila diubah ke tahun qamariyyah akan ketemulah bahwa umur beliau 63 tahun lebih tiga hari. Dengan demikian, hari kelahiran beliau adalah hari Senin 9 Rabiul Awal tahun 53 sebelum hijriah, bertepatan dengan 20 April 571 M. (&lt;em&gt;Taqwimul Azman&lt;/em&gt; hlm. 143, cet pertama 1404 H)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Sebagian ahli falak belakangan telah meneliti tentang tanggal &lt;a title="Maulid Nabi: Tanggal Kelahiran Nabi" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/tanggal-kelahiran-nabi.html" target="_blank"&gt;kelahiran Nabi&lt;/a&gt; &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; ternyata jatuh pada tanggal 9 Rabiul Awal, bukan 12 Rabiul Awal.” (&lt;em&gt;al-Qaulul Mufid ‘ala Kitab Tauhid&lt;/em&gt;: 1/491. Dinukil dari &lt;em&gt;Ma Sya’a wa Lam Yatsbut fis Sirah Nabawiyyah&lt;/em&gt; hlm. 7-8 oleh Muhammad bin Abdullah al-Ausyan)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan demikian, apa yang dirayakan oleh sebagian kaum muslimin pada tanggal 12 Rabiul Awal setiap tahunnya? (-ed &lt;a href="http://muslim.or.id/" target="_blank"&gt;muslim.or.id&lt;/a&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi&lt;br /&gt;Dikutip oleh &lt;a title="Maulid Nabi: Tanggal Kelahiran Nabi" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/tanggal-kelahiran-nabi.html" target="_blank"&gt;muslim.or.id&lt;/a&gt; dari artikel &lt;em&gt;8 Faedah Seputar Tarikh&lt;/em&gt; Majalah Al-Furqon Edisi 08 th. ke-8 1430 H/2009 M&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-368677839096920246?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/368677839096920246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/tanggal-kelahiran-nabi-shallahu-alaihi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/368677839096920246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/368677839096920246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/tanggal-kelahiran-nabi-shallahu-alaihi.html' title='Tanggal Kelahiran Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4614208593699342309.post-7492653315070749971</id><published>2009-12-12T18:47:00.002+07:00</published><updated>2009-12-25T15:07:19.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel islam'/><title type='text'>Takbiran Hari Raya</title><content type='html'>&lt;div style="margin: 0pt; font-family: Georgia,Helvetica,Arial,Sans-Serif; line-height: 140%; font-size: 13px; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Waktu Mulai &amp;amp; Berakhir Takbiran&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;a. Takbiran Idul Fitri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Takbiran pada saat idul fitri dimulai sejak maghrib malam tanggal 1 syawal sampai selesai shalat ‘id.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal ini berdasarkan dalil berikut:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Allah berfirman, yang artinya: &lt;em&gt;“…hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.”&lt;/em&gt; (Qs. Al Baqarah: 185)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ayat ini menjelaskan bahwasanya ketika orang sudah selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadlan maka disyariatkan untuk mengagungkan Allah dengan bertakbir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai sahalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 5621)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keterangan:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Takbiran idul fitri dilakukan dimana saja dan kapan saja. Artinya tidak harus di masjid.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Sangat dianjurkan untuk memeperbanyak takbir ketika menuju lapangan. Karena ini merupakan kebiasaan Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dan para sahabat. Berikut diantara dalilnya:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai sahalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam &lt;em&gt;Al Mushannaf&lt;/em&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari Nafi: “Dulu Ibn Umar bertakbir pada hari id (ketika keluar rumah) sampai beliau tiba di lapangan. Beliau tetap melanjutkan takbir hingga imam datang.” (HR. Al Faryabi dalam &lt;em&gt;Ahkam al Idain&lt;/em&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari Muhammad bin Ibrahim (seorang tabi’in), beliau mengatakan: “Dulu Abu Qotadah berangkat menuju lapangan pada hari raya kemudian bertakbir. Beliau terus bertakbir sampai tiba di lapangan.” (&lt;em&gt;Al Faryabi&lt;/em&gt; dalam &lt;em&gt;Ahkam al Idain&lt;/em&gt;)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;b. &lt;a title="takbiran hari raya" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/takbiran-hari-raya.html" target="_blank"&gt;Takbiran Idul Adha&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Takbiran Idul Adha ada dua:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Takbiran yang tidak terikat waktu (Takbiran Mutlak)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Takbiran hari raya yang tidak terikat waktu adalah takbiran yang dilakukan kapan saja, dimana saja, selama masih dalam rentang waktu yang dibolehkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Takbir mutlak menjelang idul Adha dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai waktu asar pada tanggal 13 Dzulhijjah. Selama tanggal 1 – 13 Dzulhijjah, kaum muslimin disyariatkan memperbanyak ucapan takbir di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Boleh sambil berjalan, di kendaraan, bekerja, berdiri, duduk, ataupun berbaring. demikian pula, takbiran ini bisa dilakukan di rumah, jalan, kantor, sawah, pasar, lapangan, masjid, dst. Dalilnya adalah:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;a. Allah berfirman, yang artinya: &lt;em&gt;“…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…”&lt;/em&gt; (Qs. Al Hajj: 28)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Allah juga berfirman, yang artinya: &lt;em&gt;“….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…”&lt;/em&gt; (Qs. Al Baqarah: 203)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tafsirnya:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Yang dimaksud berdzikir pada dua ayat di atas adalah melakukan takbiran&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ibn Abbas &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;ma mengatakan: “Yang dimaksud ‘hari yang telah ditentukan’ adalah tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ‘beberapa hari yang berbilang’ adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.” (Al Bukhari secara Mua’alaq, sebelum hadis no.969)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas, bahwa maksud “hari yang telah ditentukan” adalah tanggal 1 – 9 Dzulhijjah, sedangkan makna “beberapa hari yang berbilang” adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. (Disebutkan oleh Ibn Hajar dalam &lt;em&gt;Fathul Bari&lt;/em&gt; 2/458, kata Ibn Mardawaih: Sanadnya shahih)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;b. Hadis dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda: &lt;em&gt;“Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan di tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.”&lt;/em&gt; (HR. Ahmad &amp;amp; Sanadnya dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;c. Imam Al Bukhari mengatakan: &lt;em&gt;“Dulu Ibn Umar dan Abu Hurairah pergi ke pasar pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Mereka berdua mengucapkan takbiran kemudian masyarakat bertakbir disebabkan mendengar takbir mereka berdua.”&lt;/em&gt; (HR. Al Bukhari sebelum hadis no.969)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;d. Disebutkan Imam Bukhari: &lt;em&gt;“Umar bin Khatab pernah bertakbir di kemahnya ketika di Mina dan didengar oleh orang yang berada di masjid. Akhirnya mereka semua bertakbir dan masyarakat yang di pasar-pun ikut bertakbir. Sehingga Mina guncang dengan takbiran.”&lt;/em&gt; (HR. Al Bukhari sebelum hadis no.970)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;e. Disebutkan oleh Ibn Hajar bahwa Ad Daruqutni meriwayatkan: &lt;em&gt;“Dulu Abu Ja’far Al Baqir (cucu Ali bin Abi Thalib) bertakbir setiap selesai shalat sunnah di Mina.”&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;Fathul Bari&lt;/em&gt; 3/389)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Takbiran yang terikat waktu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Takbiran yang terikat waktu adalah takbiran yang dilaksanakan setiap selesai melaksanakan shalat wajib. Takbiran ini dimulai sejak setelah shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah shalat Asar tanggal 13 Dzulhijjah. Berikut dalil-dalilnya:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;a. &lt;em&gt;Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau dulu bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah dluhur pada tanggal 13 Dzulhijjah.&lt;/em&gt; (Ibn Abi Syaibah &amp;amp; Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Al Albani)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;b. &lt;em&gt;Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau juga bertakbir setelah ashar.&lt;/em&gt; (HR Ibn Abi Syaibah &amp;amp; Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: “Shahih dari Ali &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;“)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;c. &lt;em&gt;Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau tidak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah).&lt;/em&gt; (HR Ibn Abi Syaibah &amp;amp; Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: Sanadnya shahih)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;d. &lt;em&gt;Dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah.&lt;/em&gt; (HR. Al Hakim dan dishahihkan An Nawawi dalam &lt;em&gt;Al Majmu’&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Lafadz Takbir&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak terdapat riwayat lafadz takbir tertentu dari Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Hanya saja ada beberapa riwayat dari beberapa sahabat yang mencontohkan lafadz takbir. Diantara riwayat tersebut adalah:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertama, Takbir Ibn Mas’ud &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;. Riwayat dari beliau ada 2 lafadz takbir:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;أ‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ&lt;br /&gt;ب‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Lafadz: “Allahu Akbar” pada takbir Ibn Mas’ud boleh dibaca dua kali atau tiga kali. Semuanya diriwayatkan Ibn Abi Syaibah dalam &lt;em&gt;Al Mushannaf&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua, Takbir Ibn Abbas &lt;em&gt;radliallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ&lt;br /&gt;اللَّهُ أَكْبَرُ، عَلَى مَا هَدَانَا&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Takbir Ibn Abbas diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Syaikh Al Albani.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketiga, Takbir Salman Al Farisi &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ  كَبِيْرًا&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keterangan: Ibn Hajar mengatakan: Takbir Salman Al Farisi &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam Al Mushanaf dengan sanad shahih dari Salman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan Penting&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;As Shan’ani mengatakan: “Penjelasan tentang lafadz takbir sangat banyak dari berberapa ulama. Ini menunjukkan bahwa perintah bentuk takbir cukup longgar. Disamping ayat yang memerintahkan takbir juga menuntut demikian.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maksud perkataan As Shan’ani adalah bahwa lafadz takbir itu longgar, tidak hanya satu atau dua lafadz. Orang boleh milih mana saja yang dia suka. Bahkan sebagian ulama mengucapkan lafadz takbir yang tidak ada keterangan dalam riwayat hadis. &lt;em&gt;Allahu A’lam&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kebiasaan yang Salah Ketika Takbiran&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada beberapa kebiasaan yang salah ketika melakukan takbiran di hari raya, diantaranya:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;a. Takbir berjamaah di masjid atau di lapangan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena takbir yang sunnah itu dilakukan sendiri-sendiri dan tidak dikomando. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Anas bin Malik bahwa para sahabat ketika bersama nabi pada saat bertakbir, ada yang sedang membaca Allahu akbar, ada yang sedang membaca &lt;em&gt;laa ilaaha illa Allah&lt;/em&gt;, dan satu sama lain tidak saling menyalahkan… (&lt;em&gt;Musnad Imam Syafi’i&lt;/em&gt; 909)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Riwayat ini menunjukkan bahwa takbirnya para sahabat tidak seragam. Karena mereka bertakbir sendiri-sendiri dan tidak berjamaah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;b. Takbir dengan menggunakan pengeras suara&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perlu dipahami bahwa cara melakukan takbir hari raya tidak sama dengan cara melaksanakan adzan. Dalam syariat adzan, seseorang dianjurkan untuk melantangkan suaranya sekeras mungkin. Oleh karena itu, para juru adzan di zaman Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; seperti Bilal, dan Abdullah bin Umi Maktum ketika hendak adzan mereka naik, mencari tempat yang tinggi. Tujuannya adalah agar adzan didengar oleh banyak orang. Namun ketika melakukan takbir hari raya, tidak terdapat satupun riwayat bahwa Bilal naik mencari tempat yang tinggi dalam rangka melakukan takbiran. Akan tetapi, beliau melakukan takbiran di bawah dengan suara keras yang hanya disengar oleh beberapa orang di sekelilingnya saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oleh karena itu, sebaiknya melakukan takbir hari raya tidak sebagaimana adzan. Karena dua syariat ini adalah syariat yang berbeda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;c. Hanya bertakbir setiap selesai shalat berjamaah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagaimana telah dijelaskan bahwa takbiran itu ada dua. Ada yang terikat waktu dan ada yang sifatnya mutlak (tidak terikat waktu). Untuk takbiran yang mutlak sebaiknya tidak dilaksanakan setiap selesai shalat fardlu saja. Tetapi yang sunnah dilakukan setiap saat, kapan saja dan di mana saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibnul Mulaqin mengatakan: “Takbiran setelah shalat wajib dan yang lainnya, untuk takbiran Idul Fitri maka tidak dianjurkan untuk dilakukan setelah shalat, menurut pendapat yang lebih kuat.” (&lt;em&gt;Al I’lam bi Fawaid Umadatil Ahkam&lt;/em&gt;: 4/259)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Amal yang disyariatkan ketika selesai shalat jamaah adalah berdzikir sebagaimana dzikir setelah shalat. Bukan melantunkan takbir. Waktu melantunkan takbir cukup longgar, bisa dilakukan kapanpun selama hari raya. Oleh karena itu, tidak selayaknya menyita waktu yang digunakan untuk berdzikir setelah shalat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;d. Tidak bertakbir ketika di tengah perjalanan menuju lapangan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagaimana riwayat yang telah disebutkan di atas, bahwa takbir yang sunnah itu dilakukan ketika di perjalanan menuju tempat shalat hari raya. Namun sayang sunnah ini hampir hilang, mengingat banyaknya orang yang meninggalkannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;e. Bertakbir dengan lafadz yang terlalu panjang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagian pemimpin takbir sesekali melantunkan takbir dengan bacaan yang sangat panjang. Berikut lafadznya:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;الله أكبر كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ…&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Takbiran dengan lafadz yang panjang di atas tidak ada dalilnya. &lt;em&gt;Allahu a’lam&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penulis: Ammi Nur Baits&lt;br /&gt;Artikel &lt;a title="takbiran hari raya" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/takbiran-hari-raya.html" target="_blank"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4614208593699342309-7492653315070749971?l=zhiyaulhaq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/feeds/7492653315070749971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/takbiran-hari-raya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/7492653315070749971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4614208593699342309/posts/default/7492653315070749971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zhiyaulhaq.blogspot.com/2009/12/takbiran-hari-raya.html' title='Takbiran Hari Raya'/><author><name>Haqi 1412</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09487634824445608397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_hsrsvZgSSwo/TBw839BpXKI/AAAAAAAAACI/ydVhfnN5i2U/S220/8226_1058149034366_1845098976_118060_5514554_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
